Pameran Retrospektif 50 Tahun Hendarto Berkarya

Pelukis Hendarto mengeksplorasi hubungan antara manusia, alam, dan dimensi ketuhanan, ketiganya satu kesatuan yang saling berkaitan.

 

Merenung (2026). Foto: dokumentasi The Art Hub Tatra Kreativ/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Ketika usia menua dan kiprah profesi sudah berjalan setengah abad, seorang pelukis biasanya mengingatkan dirinya lewat pameran retrospektif, sebagaimana yang dilakukan Hendarto. Pelukis berusia 75 tahun ini menggelar pameran bertajuk ‘Wening Rasa’ di NIMCA Museum, Yogyakarta, 09 Mei – 06 Juni 2026.

“Wȇning Rasa pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan hidup yang berawal dari ketidaktahuan, lalu meraba-raba, hingga akhirnya sampai pada pemahaman tentang kedalaman rasa yang wȇning,” ujar Hendarto.

Dalam budaya Jawa, ‘Wening Rasa’ dimaknai sebagai pencapaian spiritualitas yang melampaui persepsi, panca indra dan suasana hati, ketika kejernihan batin dan ketajaman intuisi menyatu untuk menangkap hakikat kehidupan yang paling dalam dan murni.

Hendarto percaya bahwa setiap manusia, dalam berkarya maupun beribadah, pada dasarnya membutuhkan momen wȇning, sebuah ketenangan batin yang pada akhirnya memungkinkan untuk bisa fokus dalam berbagai hal. “Bagi saya, karya seni adalah cetusan murni dari pribadi seorang seniman,” katanya.

Dalam proses berkarya, Hendarto mengeksplorasi hubungan antara manusia, alam, dan dimensi ketuhanan. Ketiganya satu kesatuan yang saling berkaitan sejak dulu hingga sekarang. “Tanpa alam semesta, manusia tidak akan ada,” ujarnya.

Pada 25 karya lukisnya Hendarto mengeksplorasi obyek-obyek tunggal berupa bentuk figur manusia dengan gestur yang mengesankan semburan energi. Sapuan kuasnya yang ekspresif menghasilkan lapisan warna dengan eksplorasi elemen bentuk yang khas dengan sudut-sudut yang meruncing. Ada sosok figur dalam posisi kedua tangan merapat di bagian dada (Meditasi, 2021). Ada pula sosok figur tanpa busana seperti melayang (Naik ke Surga, 2008). “Naik ke surga itu artinya pulang. Manusia berpulang seperti ketika lahir, tidak membawa apa-apa. From dust to dust. Dari debu kembali ke debu. Dari tidak ada kembali menjadi tidak ada,” ujar Hendarto.

Pada karya lain bernarasi wening ada sosok pria sedang duduk seperti gestur sedang rehat, sementara kakinya dikerubuti kerumunan ikan (Merenung, 2026), satu ekspresi yang bercorak surealis. Hendarto juga mengeksplorasi bentuk-bentuk abstrak (Pohon Kehidupan, 2024).

Hendarto mengutip narasi kisah Nabi Musa membelah lautan adalah salah satu mukjizat terbesar yang diberikan Tuhan dengan memukulkan tongkatnya ke Laut Merah sehingga terbelah menjadi hamparan jalan yang menyelamatkan Bani Israil dan menenggelamkan Firaun beserta pasukannya (Nabi Musa, 2008).

Pada pameran yang diinisiasi The Art Hub Tatra Kreativ ini, Hendarto juga mengeksplorasi kehidupan sosial lewat figur bersama sejumlah hewan itik (Angon Bebek, 2023), dan sosok perempuan sedang bersimpuh di bawah pohon dengan dua keranjang di depannya (Bakul, 2020).

Hendarto melengkapi pameran ini dengan narasi hubungan manusia dengan hewan (Manusia dan Hewan, 2018), juga bentuk hewan lainnya berupa bentuk kerbau, kuda, dan ikan. “Saya berkarya itu manut sak karepku dewe, mengikuti dorongan hati saya sendiri,” katanya. Dia tidak memedulikan apakah karyanya dianggap bagus atau tidak, laku atau tidak, atau disenengi orang atau tidak. “Fokus saya berkarya ya dorongan dari hati saya.”■ Raihul Fadjri

Komentar