Semangat Seorang Punk Eksplorasi Ekspresi Visual Wajah

Perupa Adhik Kristiantoro mengolah berbagai citraan bentuk wajah dalam berbagai ekspresi.

Sejarah & Budaya306 Dilihat

 

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Bayangkan ketika Anda masuk ke dalam satu ruangan yang dindingnya bergantungan karya seni dua dimensi, semuanya berupa citraan berbagai bentuk kepala dan raut wajah manusia berupa susunan garis dan blok warna monokrom hitam putih dengan berbagai ekspresi dari bentuk mata, hidung, dan mulut yang membuat bulu kuduk berdiri. Suasana inilah yang muncul pada pameran tunggal Adhik Kristiantoro dengan judul pameran yang juga membuat orang terbelalak, Noises of Head, di galeri Miracle Prints, Yogyakarta, 1 – 15 April.                              Wajah adalah organ tubuh yang paling sensitif mengekspresikan gejolak psikologis seseorang, mulai dari rasa marah, sedih, kesakitan, senang, benci, heran, mengejek, hingga bingung. Wajahpun bisa menjadi identitas personal dengan potret wajah untuk dokumen pribadi hingga deteksi visual wajah untuk membuktikan identitas pribadi seseorang.

Di sinilah relevansi karya seni rupa Adhik pada pameran ini. Dia menjadikan wajah sebagai ladang eksplorasi bagi hamparam beragam peristiwa di ruang sosial ke ruang privat. “Setiap hari saya selalu bertemu manusia dengan wajah yang berbeda karakter. Ada yang susah, sedih, gembira, marah, merenung, kosong,” ujar Adhik. Semua dia gambarkan dengan berbagai macam gaya lukisan abstraksi wajah yang pernah dia buat berupa deformasi wajah, bahkan sampai realis. “Bagi saya wajah tidak akan pernah habis untuk diungkap. Dari sana banyak misteri kehidupan drama manusia.”

Adhik (1979) mengeksplorasi corak yang dia sebut abstrak figuratif dengan menggabungkan bentuk figur dengan pola abstrak melalui teknik menggambar. “Setiap inspirasi datang dari hati tentang segala sesuatu yang saya lihat, dengar, dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Adhik.

Karya lukis Adhik Kristiantoro.

Pada pameran ini sumber inspirasi karyanya adalah suara-suara riuh di kepala (Noises of Head) yang bisa berupa bisikan tetangga, bisikan pemerintah, atau percakapan, seperti suara dari dalam diri, semacam halusinasi. “Kemungkinan kebisingan di kepala ini gejala awal gangguan kejiwaan atau gangguan mental, mendengar dan merespon suara-suara, yang orang lain tidak dengar,” ujar Jajang R Kawentar, seorang pengamat seni rupa yang juga dikenal sebagai perupa.

Ekspresi visual Adhik tak lepas dari kedekatannya pada kultur punk. Selain sebagai perupa, Adhik juga mengisi gejolak kreatifnya sebagai anggota band bergenre punk, Injected Voice, sejak 2003 yang kemudian bersalin nama menjadi Infected Voice pada 2004 hingga kini.

Karya seni visual punk lebih provokatif, memberontak dan berisi sindiran dengan tegas dan jujur. Karya visual punk memakai bahasa personal yang lugas dan tak sedikit yang berbau propaganda. Secara visual unsur punk tampak pada karya Adhik berupa jejeran bentuk segitiga yang mengingatkan orang pada pola hiasan segi tiga pada kepala pemusik punk.

Pada karya Adhik, ekspresi kebisingan tidak cuma diungkap lewat citraan bentuk wajah, tapi juga lewat judul karya berupa frasa yang dipakai dalam pergaulan anak muda jalanan. Ada karya gambar berupa potret wajah yang dibangun dengan struktur garis yang memanjang ke bawah, diapit lima potret wajah lainnya (Asu Tenan Dab, Prex Nyuk” (2018).

Ada juga deretan bentuk kepala–wajah–dengan berbagai gestur mulut, sementara salah satu figur mengacungkan jari tengah –fuck some one off– sebagai simbol mengekspresikan kebencian, frustrasi atau ketidaksetujuan lewat emoji sarkastik (Head Dead, 2026).

Pada karya lain Adhik menampilkan berbagai wajah dengan beragam gestur mulut, dari mulut tertutup rapat hingga mulut yang memamerkan deretan gigi (Contemporary Art Fuckin Rule, 2026). Sejumlah judul karya Adhik memang menggunakan diksi yang biasa dipakai dalam kultur punk. Ada “Trace of Dead”, “Head Dead”, “Die Hard”, “Trace of Dead”, “Cowboy from Hell”, “Infected Face”. Judul-judul karya Adhik Kristiantoro itu sama kuatnya dengan ekspresi visualnya.■ Raihul Fadjri

Komentar