
Jakarta, dialoguejakarta.com – Perupa S. Teddy Dermawan (1970-2016) menoreh catatan pada ranah seni rupa kontemporer lewat karya seni rupa yang sarat dengan semangat parodi yang mengandung ironi, satire, atau kritik terhadap diri sendiri dan berbagai fenomena yang mengusik perhatiannya. Dalam banyak karya Teddy terjadi pergumulan antara imajinasi, fantasi, ilusi dan realitas.
Kiprah Teddy dalam ranah seni rupa tidak cuma dalam pameran di dalam negeri, tapi juga pameran di luar negeri hingga dia wafat pada 27 Mei 2016. Teddy mulai merambah dunia seni rupa internasional dimulai pada tahun 2000 di Ludwig Art Forum, Aachen, Jerman. Pada tahun 2010, karya instalasinya berjudul The Temple (Love Tank) dipamerkan di Singapore Art Museum. Karya Teddy yang berjudul Beyond the Self dipamerkan di The National Portrait Gallery, Canberra, Australia pada 2011. “Teddy adalah salah satu seniman paling berbakat dan kuat dari generasinya. Karyanya memiliki identitas dan karakter yang belum ada di generasi sebelumnya,” ujar Asmudjo Jono Irianto,” dosen seni rupa ITB.

Karya terakhir yang dia buat adalah lukisan berjudul “Sudah Lama Aku Berteman dengan Buddha”. Lukisan ini menjadi salah satu karya dalam pameran bertajuk Padi Menguning di Syang Art Space Magelang, Jawa Tengah, 22 Mei-22 Juni 2016.
Perjalanan kreatif dan relasi Teddy dengan 27 perupa yang dia kenal baik inilah yang direspon lewat pameran bertajuk ARTi Teddy di Nadi Gallery, Jakarta, 30 April – 20 Mei 2026.
Pada pameran ARTi Teddy ini, karya lukis perupa Iwan Effendi terinspirasi dari karya instalasi Teddy “Viva La Muerte” yang selalu mengesankan sejak pertama kali Iwan melihatnya di studio Teddy. Karya Iwan berupa citraan sosok berkaki empat memakai sepatu tentara dengan dua bentuk silinder dipunggungnya (Kuasa Benda, Rasa dan Makna, 2026). “Konfigurasi lukisan ini lebih kurang persis dengan apa yang saya lihat di studio Teddy, saat itu dia tengah menunggangi Viva La Muerte,” kata Iwan Effendi.
Viva La Muerte pun menginspirasi karya Asmudjo Jono Irianto berupa karya patung sosok figur hitam pekat dengan kepala bertanduk dua bentuk bola lampu dalam warna merah. Figur ini dalam posisi berdiri dengan kedua tangan bersilang merapat di dada, tubuhnya mengusung bentuk silinder di punggung dan batu di bagian depan (Viva La Muarte, 2026). Saya seniman yang taat kurasi. Karena kurasi pameran ini mengenai almarhum Teddy, karya saya harus berangkat idenya dari karya Teddy,” ujar Asmudjo yang juga dikenal sebagai kurator.
Karya patung perupa Yuli Prayitno bertolak dari objek instalasi Cultural Studies dan Casualties of War karya S. Teddy D berupa bentuk kepala yang ditusuk dengan lima bentuk pistol (Keras Kepala, 2026). “Pokok soal kedua karya ini adalah imajinasi dan ideologi di balik permainan senjata-senjataan,” kata Yuli Prayitno yang marah ketika mendengar kabar kematian Teddy.
“Saya kira Teddy bisa hidup sampai hari ini—karena penyakit tumornya sempat dinyatakan sembuh oleh dokter—kalau dia tidak keras kepala dengan kebiasaan buruknya dengan alkohol atau sikap permisifnya kepada teman-temannya yang suka mabuk-mabukan.”
Reaksi sebaliknya muncul dari Bob Sick Yudhita Agung ketika kali pertama mendengar S. Teddy D. meninggal. “Aku sama sekali tidak sedih,” katanya. “Biar Teddy tidak terlalu lama merasakan penderitaannya, aku pikir saat kematiannya adalah memang sudah takdir.”
Perupa Handiwirman Saputra menjadi salah satu saksi atas ketergantungan Teddy terhadap alkohol. “Saya tahu dia sempat sembuh, tapi kemudian sakit lagi karena berulah kembali dengan alkohol di sini, di studio saya,” ujar perupa asal Sumatra Barat ini. Handiwirman membuat karya tiga dimensi pada pameran ini (Senandung S.Teddy. D, 2026) “Saya sungguh kehilangan seorang teman seniman sesungguhnya yang memandang, memikirkan, dan menghayati seni di atas segalanya segalanya adalah seni.”
Relasi pertemanan Teddy dengan perupa Abdi Setiawan menghasilkan karya patung berbalut kenangan berupa citraan bentuk mesin pemotong kayu yang pernah diberikan Teddy kepada Abdi (Terimakasih, 2026). “Teddy adalah seorang teman yang pemurah dan suka menolong,” ujar Abdi.
Adapun Ugo Untoro mengenal Teddy sebagai pembelajar seni rupa. “Dia seorang penggali seni sejati,” ungkap Ugo Untoro. Ugo pernah menggelar pameran bersama Teddy dan Yani Halim, di Nadi Gallery, 7 – 25 November 2001 dengan dalil: “Lukisan ialah gambar yang disederhanakan atau dirumitkan”.
Dari Bandung perupa Tisna Sanjaya mengusung mesin cuci bertuliskan VIVA NEO ORBA ke ruang pameran ARTi Teddy. Di dalam mesin cuci itu berisi berlembar pakaian menjadi karya instalasi, dengan deretan T-Shirt di atasnya ada potret penguasa rezim Orde Baru dan Bapak Pembangunan Jendral Besar Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun– 1967-1998- (Cleaning Service & Loundry, 2026). Karya ini menegaskan salah satu narasi karya seni rupa Teddy Dermawan, yaitu tentang kuasa politik.
Tisna bertemu Teddy pertama kali ketika diundang residensi di Kota Aachen, Jerman dan Berlin, 10 Agustus 2021 – 22 Januari 2022. “Saya dan almarhum sangat intens, fokus menyikapi sikon politik di Indonesia setelah Orba masuk ke Reformasi,” ujar Tisna, perupa yang menetap di Bandung.
Adapun Theresia Agustina Sitompul, istri Teddy, memajang karya lukisnya pada pameran “ARTi Teddy” ini berupa citraan bentuk tiga dimensi dua tangan dengan gestur seperti sedang berusaha menggapai sesuatu, dan diatasnya ada citraan bentuk telinga (Laku Sunyi, 2026). “Mama juga membuatku terbuka terhadap dunia kreatif,” ujar Blora Frida Margareta, anak pasangan Teddy dan Theresia Agustina Sitompul. Salah satu momen bahagia yang dia
ingat waktu itu saat ayahnya menggambar potret wajahnya yang saat itu masih bocah.
Bagi Blora Frida, meski ayahnya sudah tidak hadir dalam wujud nyata, tapi spiritnya masih bersama dirinya dan kawan ayahnya sampai kapanpun. “Dalam pameran ARTi Teddy ini aku harap kita bisa mengenang kembali, melalui karya beliau dan karya dari seniman hebat yang berpartisipasi pada pameran ini,” kata Blora Frida Margareta.
Menurut kurator pameran ARTi Teddy, Wahyudin, yang bisa dihikmati dalam pameran ini adalah sesuatu yang istimewa, penting, dan dicintai dari karya perupa. “Untuk menghargai martabat S Teddy D. sebagai perupa dan kawan sama sejalan di dunia seni rupa,” ujar Wahyudin.■ Raihul Fadjri




















Komentar