
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Citraan bentuk kepala adalah salah satu subject matter yang dieksplorasi perupa, sebagaimana juga yang dilakukan I Putu Rivaldo Pramana Putra lewat pameran tunggal bertajuk “Inter Praxis: Within the Flux” di Indie Art House, 10 – 17 Mei 2026.
Inter Praxis: Within the Flux diartikan sebagai praktik dan kesadaran yang terbentuk di antara berbagai relasi dan pengalaman, yang terus bergerak dalam arus perubahan. “Judul Inter Praxis: Within the Flux itu mewakili perasaanku sebagai lulusan pendidikan seni terapan ketika menerapkan teori dasar hingga akhirnya jadi pameran tunggal,” ujar Rivaldo. Judul itu dia hadirkan melalui deformasi bentuk, ragam simbol, serta pengemasan dekoratif dan surealis-puitis.
Ada empat hal penting dari karya lukis Rivaldo, yakni ide, gaya visual, teknik, dan simbol. Ide besar karya lukisnya mencoba merekam pengalamannya di Yogyakarta, berupa interaksi antar manusia dan ruang, gaya visual berupa bentuk yang tidak realis, dan berbasis tehnik garis. “Ada garis repetitif, garis nyata, garis semu, garis yang ditambahkan, garis yang dikurangi, garis tegas, garis naif,” kata Rivaldo.
Rivaldo menghadirkan citraan bentuk kepala lewat karya seri bertekstur dalam sapuan warna primer– merah, hitam, hijau, biru, dan kuning yang kuat (Head in Form, 2026). Sedang citraan bentuk tubuh manusia dalam bentuk deformatif berupa kepala dan kaki (Journey Shapes The Selfe (2026). “Saya hanya mengambil bagian kepala dan kaki saja tanpa tubuh dan tangan,” katanya. Kepala mewakili kesadaran manusia dan kaki mewakili proses perjalanan manusia.
Pada karya lain Rivaldo menghadirkan fungsi tangan berupa citraan tumbuhan (Tubuh, Topang Tumbuh, 2026). Tangan-tangan itu mewakili aktivitas, ide, kreativitas yang sifatnya adaptif. “Analoginya seperti seorang perantau yang berkeinginan ke luar kota, dimulai dari ide– kepala–kemudian tubuhnya berangkat, bergerak–kaki– dan sesampainya di lokasi tujuan,” ujar Rivaldo.
Dalam pameran ini dia dapat hadir mewakili sisi teregois dirinya sebagai seniman. “Meskipun lelah, rasa puas rasanya sudah cukup untuk melunasinya,” kata Rivaldo.■ Raihul Fadjri




















Komentar