Elemen Seni Kontemporer Berkelindan dengan Elemen Seni Tradisional Bali

Gaya visual karya lukis Ketut Adi Candra mendapat pengaruh teknik melukis modern yang terselip simbol sakral Bali.

 

Ornamen Persembahan (2026). Foto: dokumentasi Orbital Dago/ dialoguejakarta.com

Bandung, dialoguejakarta.com – Di Pulau Dewata, Bali, walaupun budaya lokal masih kuat dalam praktek kehidupan sehari-hari, tapi masuknya budaya kontemporer membuat budaya Bali menjadi lentur. Fenomena inilah yang muncul pada karya lukis Ketut Adi Candra (1973) yang dipajang pada pameran bertajuk “Aum” di Orbital Dago, Bandung, 6 – 31 Mei 2026.

Frasa “aum” kira-kira sama seperti frasa “amin” dalam Islam. Frasa ini merupakan puncak dari seluruh laku relijius, penutup dari seluruh doa agar terkabul apa yang dihajatkan kepada sang pencipta. Bagi masyarakat Hindu Bali, ucapan aum merupakan ucapan sakral. “Penggunaan frasa ini sebagai judul pameran bertolak dari anggapan bahwa berkarya bukan hanya keperluan profan, tetapi sebagai laku dharma,” ujar Bambang Subarnas, kurator pameran ini.

Ketut Adi Candra adalah seorang pelukis dan pemangku (jero mangku) adat di lingkungan Banjar Silakarang, Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali. Adi Candra menamatkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, jurusan seni lukis pada tahun 1998. Dia menjalani profesi sebagai pelukis di dalam kehidupan masyarakat kontemporer Bali dimana tradisi, kapitalisme, dan modernitas berlangsung serentak, cair, dan dinamis.

Energi Tantra, 2026.

Bagi Adi Candra, melukis bukan hanya melaburkan cat di kanvas. Sebagai pemeluk Tantra, melukis dipandang sebagai perpaduan antara Laku Dharma (Sakral) dan Laku Profesi (Profan). Melukis adalah sebuah yadnya atau persembahan. “Proses pembuatannya sering disertai dengan doa, dan niat suci (bhava),” kata Bambang. Seniman menempatkan dirinya sebagai saluran atau perantara bagi energi kreatif Tuhan (Sang Hyang Widhi).

Pameran ini menyajikan tiga komponen karya yang terdiri dari lukisan, ornamen dan simbol yang biasa digunakan pada upacara ritus dalam bentuk gambar, dan sanggah (tempat sesaji), untuk memperlihatkan hubungan antara tradisi, dan spiritualitas Bali dengan kekaryaan Adi Candra. Dia menganggap karya lukis merupakan manifestasi dari energi Tantra. Sesuatu yang sakral dibocorkan ke dalam yang profan (Energi Tantra, 2026)

Sementara itu pada karya instalasi, dia memperlihatkan pandangan kosmologis Bali. Adi Candra menampilkan bentuk tiga dimensi bernama Guwungan Sudamala yang digantung melayang. Di bawahnya terdapat gambar kura-kura yang diapit dua naga yang disebut Bedawang Nala.

Guwungan Sudamala dalam upacara Manusa Yadnya adalah sangkar ayam tradisional Bali yang melambangkan proses ruwatan atau pembersihan diri secara spiritual. Alat ini disimbolkan sebagai tempat pengekang pengaruh buruk (sad ripu) serta menjadi simbol perlindungan dan pembersihan dari kotoran batin maupun fisik yang melekat pada diri manusia sejak lahir. Bedawang Nala (kura-kura raksasa) memiliki makna filosofis yang sangat dalam.
Sementara Bedawang Nala digambarkan sebagai kura-kura raksasa yang dililit oleh dua ekor naga, yaitu Naga Basuki dan Naga Anantabhoga, yang
berfungsi menopang dunia di atas punggung dan tempurungnya.

Secara visual, lukisan Adi Candra memperlihatkan gaya visual yang mendapat pengaruh teknik melukis modern yang ia pelajari di ISI Denpasar. Sapuan liar, tekstur, semburat warna, menghasilkan lukisan abstrak. Namun di antara sapuan itu, dia menyelipkan simbol sakral Bali, seperti rerajahan, ornamen sesembahan dan citraan kain kotak-kotak hitam putih (kain poleng) yang memiliki makna filosofis mendalam tentang Rwa Bhineda, yaitu keseimbangan antara dua hal yang berlawanan seperti baik dan buruk atau siang dan malam (Ornamen Persembahan Suci, 2026). Simbol-simbol itu nyaris samar tersembunyi diantara sapuan liarnya. Seperti sesuatu yang maya dan transenden.

Simbol sakral itu digunakan secara langsung pada karya gambar dan pada karya instalasi (Purification of Body, Mind and Soul, 2026). Pada karya gambar, rerajahan dan simbol suci yang biasa disertakan pada sesaji atau ditempatkan pada ruang tertentu tampil utuh. “Sebagai jero mangku, Adi Candra paham batas-batas kesakralannya ketika tampil sebagai karya profan,” ujar Bambang Subarnas.

Secara keseluruhan, penggunaan simbol Bedawang Nala dalam Manusa Yadnya merupakan wujud penghormatan manusia terhadap alam semesta. “Pada titik ini, proses dan karya Adi Candra nampak berkelindan antara yang sakral dan yang profan, antara keindahan, fungsi, dan makna sekaligus,” kata Bambang Subarnas.■ Raihul Fadjri

Komentar