
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – You Are What You Eat, satu ungkapan yang mengingatkan bahwa pilihan makanan sehari-hari merupakan investasi bagi kondisi tubuh dan kesehatan diri kita sendiri. Pelukis Laila Tifah (1971) mengangkat narasi berdasarkan ungkapan itu pada pameran tunggalnya berjudul “Poetry of Sourdough Narratives” di Sumsum Gallery, Yogyakarta, 15 – 24 Mei 2026.
Judul “poetry of sourdough narratives” berarti “puisi dari narasi (cerita) adonan roti asam” yang menjadi konteks narasi pameran ini dengan menampilkan citraan bentuk roti tawar ketika Laila harus melakukan diet karbohidrat. “Tubuh saya tidak sepenuhnya bisa menerima apabila kemasukan karbohidrat jenis tepung,” ujar Laila.
Padahal, katanya, dimana-mana tumbuh berjamuran toko bakery yang begitu menggoda dengan harga terjangkau. “Walaupun saat ini makan roti bukan lagi suatu kemewahan, tetapi apa daya, saya tidak bisa menikmatinya secara bebas, makan roti ya harus terukur,” katanya.
Pada pameran ini Laila menghadirkan 23 karya lukis seri “You Are What You Eat” dalam bentuk still life dengan sapuan kuas yang ekspressif. Citraan bentuk roti dia sandingkan dengan telur atau saos/buah alpukat, dan makanan superfood yang relatif aman untuk diterima tubuhnya.
Ada deretan potongan roti (You Are What You Eat #18, 2026). Ada juga citraan sepotong roti dengan bentuk potongan buah alpukad (Persea americana), yang dikenal sangat rendah indeks glikemiknya (15 – 40) sehingga tidak menimbulkan lonjakan gula darah (You Are What You Eat #14, 2026). Atau citraan bentuk selembar roti tawar dengan telur mata sapi di sebelahnya (You Are What You Eat #8, 2026).
Sehingga ada pesan dalam lukisan-lukisan “You Are What You Eat”, satu ungkapan yang mengingatkan bahwa pilihan makanan sehari-hari merupakan investasi bagi kondisi tubuh dan kesehatan diri kita sendiri. “Kondisi tubuh dan kesehatan seseorang saat ini merupakan hasil dari pilihan makanan dan budaya makannya di masa lalu,” ujar Laila.
Karya lukis ini mengandung peringatan agar mengendalikan kebiasaan yang tidak kita sadari dalam mengkonsumsi gula dan karbohidrat dengan porsi tinggi, dalam budaya makan sehari-hari.
Laila punya kenangan dengan roti tawar. Dia masih ingat ketika ibunya menawarkan roti saat dia masih bocil. “Siapa mau roti?” ujar ibunya dari arah dapur. Laila yang tengah tiduran di lantai selepas pulang sekolah mendadak bangkit, mendengar kata roti disebut. Ibunya dengan senyum mencurigakan, melirik Laila sambil mengangkat nampan tinggi-tinggi.
Alangkah dongkolnya hati Laila, ternyata hanya ada potongan singkong rebus berjajar rapi. “Kok roti? tanya Laila bernada protes. “Ini namanya roti sumbu. Orang sini nyebutnya begitu,” ujar ibunya berusaha meredakan kekecewaan Laila.
Kejadian ini ketika dia masih di sekolah dasar, sekitar awal tahun 1980. Saat itu, roti di keluarganya masih merupakan makanan mewah. “Daripada membeli roti, lebih baik dibelikan beras dan lauk pauk,” katanya.
Sesekali bapaknya membeli roti tawar dalam bentuk utuh yang dibungkus dengan kertas jerami di toko Ha Wun dekat rumah mereka. “Aroma roti bertemu aroma kertas jerami sebagai pembungkusnya sungguh tak terlupakan,” ujar Laila.
Di rumah, sang bapak mengiris roti itu dengan ketebalan tertentu dengan pisau bergerigi. “Jangan membayangkan irisan roti itu diolesi selai atau ditaburi meises. Kami cukup memakannya telanjang begitu saja, terkadang dicelup ke gelas kopi Bapak, begitu saja sudah lezat,” kata Laila. Masa itu adalah awal pengalamannya berkenalan dan jatuh cinta dengan roti. “Itulah mengapa saya melukis roti.”■ Raihul Fadjri



















Komentar