
Bandung, dialoguejakarta.com – Andai saja saat ini dibuat survei lintas negara tentang tokoh paling dibenci di seluruh dunia saat ini, mungkin akan berujung pada dua nama: Donald Trump (Presiden Amerika Serikat) dan Benjamin Netanyahu (Perdana Menteri Israel). Keduanya menjadi dalang dibalik konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah melawan Iran sejak serangan militer besar-besaran Amerika-Israel terhadap Iran pada pada 28 Februari 2026.
Operasi militer dengan nama Epic Fury (kemarahan yang luar biasa) ini bahkan meledakkan sekolah dasar putri di wilayah Minab dengan korban 200 anak-anak tewas sehingga menuai kecaman global serta memicu aksi solidaritas kemanusiaan.
Sebelumnya zionis Israel melakukan aksi militer besar-besaran sejak 7 Oktober 2023 di wilayah Gaza yang hingga kini menewaskan 64 ribu warga Palestina di Jalur Gaza yang sebagian besar perempuan dan anak-anak. Pemerintah Washington pun menutup mata atas kebiadaban Netanyahu terhadap rakyat Gaza. Bahkan sebagai penguasa PBB, negara yang merasa adikuasa ini memveto setiap resolusi di Dewan Keamanan PBB terhadap kebiadaban Zionis Israel.
Perupa Isa Perkasa (1964) pun tergerak mengeksplorasi narasi kebiadaban Trump dan Netanyahu lewat karya seri gambar pada pameran seni gambar bertajuk Drawing Lagi-Lagi Drawing di Orbital Dago, Bandung, 15 – 26 Juli 2026. “Isa menggunakan metafora untuk membaca realitas politik global saat ini,” ujar Rifky Effendy, kurator pameran ini.
Ada babi berwajah Trump berdiri di atas punggung babi berwajah Netanyahu bak sedang mengarahkan sekutunya itu di tengah sebaran tengkorak kepala dan tulang manusia dalam warna merah darah (Genosida, 2026). “Nuansa merah pada semua karya ingin menyampaikan kekerasan banjir darah dan kematian ratusan ribu manusia Palestina yang sampai saat ini masih terjadi,” ujar Isa Perkasa.
Ada juga sejumlah karya gambar dalam warna monokrom berupa deretan pria berkepala bentuk buah semangka–sebagai padanan bendera Palestina–dengan belitan kain syal khas Palestina di leher saat sedang menggendong anak-anak dengan gestur wajah menangis kesakitan. Sementara di depannya tergeletak buah semangka dengan bolongan bak ditembus peluru.
Perupa asal Karawang, Pupung Prayitno (1965), menampilkan enam karya drawing lewat goresan pinsil di atas kanvas berupa sosok penguasa bermahkota berdiri di atas kerbau dan didampingi dua figur yang menjulurkan mulutnya ke telinga sang penguasa, sementara di sekelilingnya ada figur berkepala tikus, ada juga yang menyodorkan tas persegi kepada sang penguasa (Bisikan Maut, 2026).
Pupung seolah menggambarkan pertarungan yang bakal terjadi pada panggung politik pada pemilu 2025 lewat citraan bentuk gajah simbol Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang meniup megaphone ke arah kerumunan figur yang berdiri di atas tubuh banteng, simbol PDI Perjuangan (Lanskap Masa Depan, 2026).
Adapun Ni Ayu Ketut Sriwardani kelahiran Denpadar, Bali pada 1966, merekam pengalaman visual kulturalnya di tempat asal suaminya di Tanah Batak, Sumatera Utara, lewat karya gambar dengan tinta di atas kertas. Ada dua perempuan Batak sedang asik mengunyah sirih (Mardemban, 2024). Ada sosok perempuan Batak berselempang kain ulos khas Batak dengan gestur sedang menari (Manortor, 2024). “Bali sebagai tempat saya bertumbuh, dan Tanah Batak sebagai tempat cinta menemukan maknanya,” ujar Ni Ayu.
Yang juga menarik keberagaman corak karya yang dipakai Sri Setyawati Mulyani (1962), dari karya drawing bercorak realis, abstrak, lanskap dan potret (Drawing Mix Media :
Landscape, Portrait, Abstract Variable Dimension 2011 – 2026).
Sejak awal kariernya, Cipuk, panggilan akrab Sri Setyawati Mulyani, konsisten mengeksplorasi pengalaman personal, identitas perempuan, dan relasi antara tubuh, ingatan, serta kehidupan sehari-hari lewat medium lukisan dan drawing. Perhatiannya meluas pada lanskap, pepohonan, dan perubahan ruang hidup yang dihadirkan lewat sapuan garis dan warna yang puitis namun reflektif.
“Saya menikmati menggambar setiap hari seperti halnya mencatat kejadian, moment, obyek sehari hari yang dekat dengan saya, mulai gambar bentuk, gambar manusia, sketsa pemandangan, kembang dalam vas atau di pekarangan selanjutnya gambar observasi menggunakan garis, brush stroke dengan pencil, arang, tinta, menjadi therapi buat diri sendiri, dan kebanyakan dengan warna hitam putih saja sebagai catatan dalam perjalanan,” ujar perupa yang menyelesaikan pendidikan Seni Lukis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.
Perupa Bambang Subarnas membuat karya instalasi berupa karya drawing di atas meja kayu yang menggambarkan lanskap dengan latar citraan gunung. Di atas meja berjejer enam gelas minuman dengan tutup dari bahan kertas yang berisi karya drawing. Sementara di atas tembok tergantung frame berbalut warna emas dalam posisi miring berisi karya drawing berupa citraan bagian mulut dengan gestur seperti sedang berfikir (Indonesia Raya, Instalasi Drawing, 2026).
“Kelima seniman ini memperlihatkan bahwa drawing bukanlah sebuah bahasa tunggal, melainkan medan terbuka yang memungkinkan berbagai pengalaman, karakter visual, dan cara berpikir bertemu,” ujar Rifky Effendy.■ Raihul Fadjri



















Komentar