Jejak Perdagangan Rempah di Kepulauan Nusantara

Anni Kholilah mengangkat narasi jalur rempah lewat pendekatan visual yang memadukan unsur sejarah, budaya, dan pengalaman masyarakat Aceh.

Karya lukis Anni Kholilah (Rempah, 2026). Foto: Dok. Anni Kholilah/ dialoguejakarta.com

Banda Aceh, dialoguejakarta.com – Kepulauan Nusantara sudah dikenal dengan pedagangan rempah sejak zaman prakolonial abad ke-7 hingga ke-15 dari Kepulauan Maluku dan Banda. Pada abad ke 16, Portugis yang tergiur dengan rempah masuk ke Nusantara, dan dilanjutkan oleh VOC yang memonopoli perdagangan rempah pada abad ke-17 dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen yang meletakkan dasar monopoli dan menguasai perdagangan rempah di Nusantara. JP Coen dikenal agresif dalam menerapkan kebijakan monopoli, mendirikan pangkalan utama di Batavia pada tahun 1619, dan menguasai jalur perdagangan cengkeh serta pala di Maluku.

Kini di Aceh, Anni Kholilah Lubis (1989) menggelar pameran lukisan bertajuk Jalur Rempah, di Museum Aceh, Banda Aceh, 17 – 19 Juli 2026. Anni Kholilah salah satu pelukis dengan gaya dekoratif Indonesia yang terinspirasi dari budaya lokal. Dia melukis gaya dekoratif sejak tahun 2009.

Sebagai seorang perupa, Anni Kholilah mengangkat narasi jalur rempah melalui pendekatan visual yang memadukan unsur sejarah, budaya, dan pengalaman masyarakat Aceh. Sebanyak 20 karya lukis  yang dihadirkan mengajak
pengunjung untuk memahami kembali pentingnya rempah sebagai bagian dari memori kolektif bangsa sekaligus sumber inspirasi bagi penguatan identitas budaya di masa kini.

“Lewat pameran ini Anni Kholilah ingin menunjukkan ketertarikannya tentang  jalur perdagangan rempah dengan mempelajari bagaimana rempah dari Nusantara seperti pala, cengkeh, kencur, lengkuas, jahe, kapulaga pernah menjadi komoditas penting yang dikenal dunia serta pengaruhnya terhadap ekonomi, budaya dan hubungan antar bangsa,” ujar Heri Kris, kurator pameran ini.

Selain warna-warna dingin lukisan Anni juga menampilkan warna hangat yaitu perpaduan warna dingin kehijauan dengan warna merah berupa tumpukan rempah yang ditaruh dalam keranjang dan sebagian bertebaran di sekitarnya (Rempah-rempah, 2026). “Lukisan ini nampak padat dan seluruh bagian kanvas dilukis dengan menggunakan garis dan titik,” kata Heri.

Kapal Rempah, 2026.

Pada lukisan lain Anni menggambarkan suasana kegembiraan keluarga petani yang merasa berhasil karena dagangannya terjual dan nampak keranjang yang kosong di samping
seorang perempuan yang tersenyum. Nampak sang laki-laki memakai celana panjang dengan sarung dilipat ke atas ciri khas pakaian adat tradisional di Aceh (Rempahnya Terjual, 2026). “Secara semiotik lukisan ini mengilustrasikan keadaan masyarakat Aceh dan sekitarnya yang hidup dari berdagang rempah dalam kurun waktu yang cukup lama,” ujar Heri Kris.

Anni juga memasukkan elemen budaya lokal lewat sosok perempuan dengan hijab warna biru sedang meletakkan buah pala di dalam keranjang di bawah pepohonan (Ibu dan Buah Pala, 2026). Hijab sebagai simbol perempuan Aceh yang mayoritas beragama Islam yang memberlakukan syariat Islam sebagai falsafah hidup.

Bagi Anni Kholilah, pameran ini merupakan ruang refleksi sekaligus apresiasi terhadap sejarah
panjang jalur rempah yang telah membentuk identitas budaya, sosial, dan
ekonomi masyarakat Nusantara, khususnya Aceh sebagai salah satu wilayah penting dalam jaringan perdagangan rempah dunia. “Pameran ini berupaya menghadirkan kembali jejak-jejak peradaban yang lahir dari pertemuan berbagai bangsa, budaya, dan pengetahuan yang berlangsung sepanjang jalur rempah,” ujar Anni yang juga seorang dosen  Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Banda Aceh.

Rempah tidak hanya dipandang sebagai komoditas perdagangan, tapi juga sebagai simbol pertukaran budaya, diplomasi, tradisi, serta kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.■ Raihul Fadjri

Komentar