
Malang, dialoguejakarta.com – Eksotisme budaya Bali sejak awal abad ke-20 dipakai Kolonial Belanda untuk menarik perhatian wisatawan melalui berbagai poster promosi, antara lain poster See Bali (1935), dan Bali Like de Beauté (1930). Kolonial Belanda menciptakan imaji Bali sebagai surga eksotisme lewat citraan bentuk perempuan Bali mengenakan lilitan kain kain batik di bagian bawah dengan bagian dada terbuka.
Eksotisme wanita Bali inilah yang muncul pada karya lukis cat air Huang Fong pada pameran tunggal bertajuk The Maestro di Dialektic Gallery, Malang, Jawa Timur, 31 Mei – 12 Juni 2026.
Huang Fong adalah pelukis aktif tertua di Indonesia saat ini. Pada tahun 2025 genap 70 tahun perjalanan melukisnya. Karya lukis Huang sangat khas. Hampir semuanya mengabadikan alam dan kebudayaan Bali. Dia pun menjadi ikon dalam dunia seni lukis modern Bali.
Huang Fong yang kini berusia 90 tahun ini mengangkat narasi kehidupan tradisional Bali lewat 114 karya lukis cat air di atas media kanvas. Ada penggambaran kesibukan kaum perempuan di tengah hamparan barang dagangan di dalam keranjang bambu di bawah kerindangan pohon. Dua perempuan di antaranya tidak mengenakan penutup dada (Pasar Gianyar, 2003). Praktek perdagangan pun berlangsung di bibir pantai ketika empat gadis bertelanjang dada menjual ikan hasil tangkapan nelayan (Gadis-gadis di Pantai, 1993).

Huang Fong juga menggambarkan suasana kaum perempuan sedang sibuk berjualan di bawah pohon beringin, sementara di sebelahnya sejumlah lelaki sibuk menyabung ayam (Di Bawah Pohon Beringin, 1984).
Huang juga melukis sosok perempuan mengenakan palaian tradisional Bali dengan bahu terbuka, ada Ni Ayu Wati dan Ketut Rasin sedang berada di tengah kerumunan bebek (Angon Bebek, 2008), ada juga sosok dua gadis kembar dalam posisi duduk berhadapan (Gadis Dialog, 1987), atau sosok gadis dalam posisi duduk (Sebelum Menari, 1996).
Huang memadukan secara harmonis filsafat timur (Tiongkok) Yin-Yang dengan alam mistis Bali yang berlandas pada filsafat Tri Hita Karana. Filosofi itu didekatkan lewat suguhan tema karyanya yang akrab dan keseharian yang hampir tak berjarak dari kehidupan. “Lewat gubahan tema dalam karyanya Huang kokoh berdiri di sana sebagai Pelukis Besar,” ujar Agus T Dermawan, kurator pameran ini.
Huang Fong lahir dengan nama Oei Ping Liang pada 14 April 1936 di Kota Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sejak 1964 dia memilih nama artisnya Huang Fong atau Si Angin Kuning. “Jadi saya ini Si Angin Kuning,” ujar Huang kepada Agus Dermawan T. Kuning itu adalah warna yang diagungkan dalam falsafah Timur. Di Tiongkok ada nama sungai terbesar, Huang Ho, Sungai Kuning. Di Bali warna kuning sangat dominan dalam berbagai upacara. Pada Galungan, misalnya. Sementara angin adalah udara yang tak henti bergerak, dan tak henti mengisi sela-sela kehidupan semua makluk. Angin itu ibarat pahlawan yang tak kelihatan. “Jadi, Huang Fong adalah Angin yang Agung.”
Sejarah panjang perjalanan kreatif Huang bermula ketika dia bertemu guru lukis pertamanya, Tan Kiaw Tek, yang tinggal di Surabaya sekitar tahun 1964. Dari Tan lah Huang mulai dikenalkan dengan media cat air dan kertas gambar yang dibeli secara kiloan dari sisa percetakan. Setelah itu Huang belajar seni lukis dengan media cat minyak dari Nurdin BS, pelukis pemandangan asal Padang yang bermukim di Surabaya.
Pada 1967 Huang memutuskan tinggal di Desa Ubud, desa kecil yang jadi pusat seni rupa Bali. Setahun kemudian, 1968, Huang intensif berteman dengan sang maestro lukis, Affandi. Mereka sering terlibat dalam dialektika pemikiran dalam berkarya. Mereka juga acap melukis bersama.
Berkat dorongan Affandi pula lah pada 1969 Huang berani pameran tunggal pertama di Jakarta dan sukses. Pada 1992 muncul kabar dari Amsterdam bahwa lukisan Huang bertema ikan dalam kolam dilelang Christie, bisnis lelang tersohor di dunia. Karya Huang dilelang bersama karya maestro seni lukis Indonesia AA Gde Sobrat, Lee Man Fong, Hendra Gunawan. Hal ini bukti kualitas karya seni lukis Huang yang diperhitungkan.
Huang penyuka karakter, kekuatan watak yang dipertunjukkan lewat raut muka manusia yang menjadi obyek. Skin tone ia tawarkan lewat pulasan warna soft pastel dan cat minyak yang sangat ia kuasai. Semisal pada lukisan berjudul Gung Kak yang begitu mempesona.
Bagi Agus Dermawan T, karya-karya Huang yang elok-elok, cantik-cantik, manis-manis, dia sebut sebagai ‘Mooi Indie Baru’, atau manifestasi dari upaya merevitalisasi spirit Mooi Indie (Hindia Molek). “Karya-karya Huang bisa dikatakan sebagai oase sejuk di tengah iklim gelisah masyarakat Indonesia yang bertubi-tubi terkena musibah sosial dan politik,” ujar Agus. Karya lukis Huang ibarat counter reaction terhadap situasi negeri yang porak poranda.■ Raihul Fadjri



















Komentar