Perupa Rayakan Bulan Indonesia Menggambar

Masalah batasan karya gambar atau karya lukis diabaikan sehingga ada karya yang diklaim sebagai karya gambar meski berbasis karya lukis.

Sejumlah karya gambar pada FSD Drawing Day. Foto: dokumentasi FSD Drawing Day/ dialoguejakarta.com

Makassar, dialoguejakarta.com – Bulan Indonesia Menggambar, Mei 2026, dirayakan di sejumlah tempat, salah satunya di Makassar, Sulawesi Selatan, lewat FSD Drawing Day bertajuk ‘Menjalin Garis, Merayakan Ekspresi di Bulan Menggambar’, 11 Mei – 11 Juni 2026, di Galeri Colll Pakue, Makassar.

Bulan Indonesia Menggambar diperingati setiap bulan Mei di seluruh Indonesia. Gerakan yang diinisiasi oleh Forum Drawing Indonesia (FDI) ini diselaraskan dengan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei, karena menggambar dianggap sebagai dasar kreativitas. Sepanjang bulan ini, berbagai komunitas, kampus, dan seniman selenggarakan pameran, lokakarya, dan aksi menggambar bersama secara serentak.

Bulan Indonesia Menggambar bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang bersama untuk merayakan gambar sebagai bagian penting dari perjalanan kebudayaan manusia. Ia menjadi upaya mempertemukan kembali gambar dengan masyarakat luas. “Gambar bukan hanya sebagai medium visual, tapi juga sebagai bahasa, arsip pengalaman, dan cara manusia memahami dirinya serta dunia di sekitarnya,” ujar Edo Pop, Presiden Indonesia Raya Menggambar.

Salah satu karakteristik karya seni gambar adalah goresan garis. Gambar identik dengan goresan garis. “Saya mendefinisikan gambar secara tekstual sebagai goresan garis yang dihasilkan alat semacam pensil, arang, spidol, pulpen, paku dan semacamnya untuk menyatakan sebuah ide atau merepresentasikan sebuah benda atau peristiwa,” kata Sofyan Salam, kuator pameran ini.

Pameran FSD Drawing Day diikuti 131 peserta dari berbagai kota di Indonesia. “Karya seni gambar pada FSD Drawing Day 2026 ini menampilkan karya yang beragam,” ujar Sofyan. Tidak cuma beragam dalam hal filosofi yang mendasari penciptaan, tapi juga dalam hal subject matter. Ada karya Cadio Tarompo yang menampilkan potret tokoh (Qahhar Mudzakkar, 2026), ada gambar kartun karya Faisal Uda (Me and Dali, 2026), ada juga narasi ironi  pada karya gambar kartun Faisal Uda berupa citraan alat berat backhoe yang menelan berbagai bentuk bangunan cagar budaya sementara di bagian belakangnya menjulang berbagai bangunan moderen (Mile 47 Evicted, 2026).

Adapun Diyam Bijac yang dikenal sebagai kreator visual lintas disiplin mengeksplorasi narasi kritik sosial berupa tiga sosok figur bertubuh tambun mengenakan jas lengkap dengan gestur bibir tersenyum menginjakkan kakinya di atas kepala dan tubuh figur dalam ukuran lebih kecil yang diidentifikasi sebagai sosok buruh (Kepada Buruh, Tegak Grak! Buruh Merdeka, 2026). Sementara perempuan perupa Laksmi Shitaresmi mengeksplorasi corak surealis lewat karya gambar berupa citraan bentuk tangan dengan bagian ujung jari berupa bentuk kepala hewan dan tumbuhan.

Salah satu karakteristik karya seni gambar adalah goresan garis. Gambar identik dengan goresan garis. “Saya mendefinisikan gambar secara tekstual sebagai goresan garis yang dihasilkan alat semacam pensil, arang, spidol, pulpen, paku dan semacamnya untuk menyatakan ide atau resentasi benda atau peristiwa,” kata Sofyan.

Karya seni menggambar punya karakter khas yang didominasi goresan garis (drawing). Adapun karya seni lukis didominasi sapuan bidang warna (painting). Tapi dalam prakteknya ada karya yang diklaim sebagai karya gambar yang juga memanfaatkan sapuan bidang warna, sementara ada pelukis yang menorehkan garis dalam karya lukisnya. “Karya gambar yang berada di area abu-abu silakan cari sendiri. Jika ketemu tersenyum saja,” ujar Sofyan.

Tidak cuma masalah area abu-abu yang disebut Sofyan Salam mencuat pada pameran ini, tapi juga pameran ini menerima karya hasil tehnik digital, seperti karya Ahmad Rifki berupa citraan bentuk kepala mirip hewan kuda yang dibentuk tanpa goresan garis dalam komposisi warna merah, kuning, dan ungu dengan tehnik digital drawing (C:amekonimation, 2026).

Sofyan mengakui bahwa perkembangan teknologi digital telah sampai pada babak baru sehingga perlu merenungkan kembali pengertian lama tentang penciptaan gambar. “Kehadiran kecerdasan buatan AI khususnya model generator gambar merupakan tantangan bagi seni gambar yang awalnya murni karya manusia yang berhati nurani dan memiliki kepekaan estetis yang personal,” kata Sofyan. Dia juga tidak bisa menolak karya yang dihadirkan pada pameran ini. “Saya mengiklaskan panitia memilih sesuka hati.”■ Raihul Fadjri

Komentar