
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Berita viral tentang lukisan karya mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berjudul ‘Kuda Api’ seharga Rp 6,5 milyar dalam lelang saat perayaan Imlek Partai Demokrat di Djakarta Theatre Rabu 18 Februari 2026, seolah ikut meramaikan pameran seni rupa yang diikuti 58 perupa profesional bertajuk ‘Ruang Antara’ di Kembangjati ArtHouse, Yogyakarta, pada pameran, 15 – 28 Februari 2026.
Sejumlah karya pada pameran ini juga menampilkan karya lukis dengan subject matter kuda yang mengingatkan perayaan tahun Kuda Api pada Imlek tahun ini. Ada karya lukis Oskar Matano berupa citraan bentuk kuda yang dibalut warna merah menyala dan bentuk rumah berhiaskan salib di bagian atasnya (The Year of Fire Horse, 2026). Atau karya lukis Alperd Roza berupa separo bentuk bagian depan tubuh kuda dalam susunan bentuk geometris berselimut warna biru muda (Pegasus, 2025).
Juga karya lukis Meuz Prast berupa citraan bentuk kuda yang dibangun dari susunan bentuk geometris dalam posisi kepala sedang tertunduk, berhiaskan gelora api di atas leher kuda (Turangga Agni, 2026). Adapun Kasih Hartono muncul lewat karya lukis berupa citraan bentuk kuda yang sedang berlari sepenuh tenaga dalam warna monokrom (Energi, 2025).
Peserta pameran ini terdiri dari perupa yang berjuang menghidupi dirinya dari hasil penjualan karya dengan nama dan aktivitas kesenirupaannya yang sudah dikenal luas hingga perupa yang namanya belum terkenal. Karya yang dipamerkan juga dari karya terbaru bertarikh 2026 hingga karya bertarikh tahun 1970-an. “Karya yang dipamerlan hasil seleksi dari Kembangjati Art House bekerjasama dengan Cerobong Art,” ujar Meuz Prast, yang juga merangkap sebagai kurator pameran ini.
Narasi karya juga beragam, dari narasi peristiwa terbaru–perayaan Imlek, Ramadhan, hingga menyambut Paskah, dan narasi lain yang lebih personal. “Pameran ini sebagai ruang jeda, untuk merefleksi diri tentang sebuah perayaan, pengekangan diri dan spiritualitas, agar pemaknaan sebuah peristiwa tidak hanya pada ritus semata. Baik itu Imlek, bulan suci Ramadhan maupun pra Paskah,” kata Meuz Prast.
Karya yang dipamerkan sebagai ekspresi endapan ingatan dari masing-masing seniman terhadap sebuah peristiwa personal. “Seniman bebas mengeluarkan karya yang menurut mereka mampu mewakili pengalaman personal mereka.”
Masih dalam aura perayaan Imlek, pelukis Alfi Ardyanto menggoreskan kuas cat air ekspresifnya dengan citraan bentuk tempat ibadah utama umat Khonghucu, Kelenteng, berhiaskan jejeran lampion berwarna merah (Chinese New Year, 2026). Ada juga karya lukis Anang Asmara berupa citraan kain batik Tionghoa digantung di jemuran berupa corak ragam hias bentuk tanaman dan bunga dalam komposisi warna biru, kuning dan putih (The Beauty of Encim Batik, 2026).
Di luar narasi perayaan Imlek, ada karya yang mengeksplorasi lanskap alam, antara lain karya lukis cat air Ikhman Mudzakir berupa kelokan jalan raya di tengah bukit terjal berselimut kabut (Cerita Pagi, 2026). Atau karya Heri Purwanto berupa citraan bentuk rumah sederhana dalam komposisi warna hijau dan putih (Titik Transit, 2026), dan karya lukis Giring Prihatyasono berupa susunan tiga batu persegi bak bentuk gapura di tengah kehijauan hamparan rumput dan kebiruan langit (Little Dream, 2026).
Hingga hari ketujuh pameran ini sudah tiga karya yang dibeli kolektor seharga Rp 3 jutaan, yakni karya lukis Alpred Roza (Pegasus, 2025), Meuz Prast (Turangga Agni, 2026), dan Retno Aris (Golden Tree, 2026). Satu upaya keras untuk bertahan hidup para perupa profesional yang bahkan dilakukan tanpa menggelar acara pembukaan pameran.■ Raihul Fadjri




















Komentar