Jakarta – dialoguejakarta.com – Bagaimana seni lukis menjadi media untuk meledakkan ekspresi lewat karya bercorak nonrepresentasional? Inilah yang dilakukan Eko Rahmy (1965) lewat pameran bertajuk Notasi Visual Metamorphic Colony di Galeri ZEN1, Jakarta, 4 – 20 Juli 2025.
Pada 26 karya lukisnya Eko mengeksplorasi elemen warna dan abstraksi bentuk yang tersedia di alam terbuka yang menghasilkan guratan emosi.
Pelukis yang menetap di Yogyakarta ini menggunakan warna merah menyala sebagai warna latar. Di atas warna yang kuat itu Eko menggoreskan garis-garis melengkung dan bersilangan membentuk sudut-sudut tajam dalam warna hitam. Struktur garis-garis itu diisi dengan torehan kuas dalam komposisi warna yang lebih ringan yang menghasilkan bentuk sesuatu yang dalam posisi condong ke depan (Metamorfosis #1, 2025).
Pada karya lain pelukis yang punya nama lengkap Eko Rachmiyanto ini seperti membalikkan ekspresinya dengan menjadikan warna gelap sebagai warna latar yang dia isi dengan komposisi warna cerah dalam struktur tajam sapuan garis. Hasilnya mengesankan bentuk sosok hewan berkaki empat dengan kepala tertunduk (Notasi Alam, 2025).
Warna dan bentuk nonrepresentasional pada karya Eko Rahmy memang tidak sepenuhnya tanpa narasi kebentukan. Bahkan sesekali Eko Rahmy menampilkan bentuk-bentuk yang berisi elemen representasional berupa bentuk yang mengesankan sosok unggas dan kumpulan bentuk yang mengesakan rimbunan pepohonan pada karya degan komposisi warna cenderung kehijauan (Koloni, 2024).
Warna dalam lukisan Eko tampil menyala, kontras, bahkan seringkali nyaris meledak dalam kanvas. Dia mengeksplorasi warna merah darah, biru, dan kuning terang dengan kepastian ritmis dan struktur yang menunjukkan intensi. Warna-warna itu tidak sekadar menjadi latar atau aksen, tetapi menjadi energi naratif yang hidup dalam karya lukis.
“Dalam satu lukisan, kita melihat background merah seperti mendidihkan atmosfer psikis di sekitarnya. Pada lukisan lain, langit hijau tua dan biru mendominasi ruang yang dipenuhi makhluk antropomorfik yang mengingatkan kita pada dunia mimpi,” tulis Rizki A. Zaelani dalam teks kuratorialnya.
Gejolak emosi menjadi signifikan perannya dalam proses penciptaan karya lukis Eko Rahmy. “Ketika saya melukis, bahkan kesedihan pun bisa berubah menjadi dentuman gairah,” katanya. Lanskap di tepi pantai yang diisi struktur bentuk berujung tajam menjadi terasa syahdu dengan laut biru yang membentang (The Pulse of The Ocean 2021). Atau karya lukis dengan latar warna gelap diisi dengan struktur garis berujung tajam dalam komposisi warna cerah mengesankan kerumunan berbagai bentuk mahluk hidup (Aransemen Kehidupan, 2024).
Ekspresi visual Eko Rahmy tak sepenuhnya diungkap lewat bentuk nonrepresentasional (abstrak). Pada sejumlah karyanya bahkan Eko Rahmy menampilkan bentuk-bentuk yang berisi elemen representasional berupa bentuk unggas dan kumpulan bentuk yang mengesakan rimbunan pepohonan pada karya degan komposisi warna cenderung kehijauan (Koloni, 2024).
Bentuk-bentuk yang muncul sebagai hasil persilangan garis-garis berujung tajam yang diimbuhi totolan warna yang mengesankan elemen dekoratif menjadi bagian dari karakter khas karya lukis Eko Rahmy.
Ekspresi estetik Eko Rahmi seperti fenomena alam khayal yang secara bebas memunculkan fakta visual representatif dan fakta visual nonrepresentatif berkelindan dalam struktur emosi yang bergelombang. Corak karya semacam ini menjadi karakter kuat yang tak terpisahkan dari sosok Eko Rahmy.■Raihul Fadjri




















Komentar