
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Kota Gresik di Jawa Timur lebih dikenal sebagai Kota Wali (Sunan Giri) dan Kota Santri tinimbang sebagai kota seni. Tapi kegiatan seni rupa di kota yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Surabaya ini ramai diwarnai kegiatan perkumpulan para perupa sebagaimana yang berlangsung di pusat-pusat seni rupa, seperti Yogyakarta dan Bandung.
Adalah Sanggar Lentera yang didirikan sejumlah anak muda pada 1980 menjadi pemantik aura seni rupa di Gresik. Sanggar ini tidak hanya tempat melukis, tapi juga tempat bernafas bersama, bertukar fikiran, menyalakan api di tengah kebersamaan. Di antara bau asin air laut, deru kapal, dentum pabrik semen, mereka melukis kehidupan. “Kanvas menjadi saksi bagaimana warna-warna lahir dari cerita rakyat, wajah-wajah nelayan, dan langit yang kerap berubah tapi selalu memeluk laut dengan kesetiaan yang sama,” ujar Kris Adjri, salah satu pelukis Sanggar Lentera.
Lentera sempat meredup pada 1994. Penyebabnya para perupa berpencar menapak jalan hidup masing-masing. Setelah puluhan tahun berpisah, Lentera kembali menyala pada 2025 dengan membawa cahaya baru lewat pameran lukisan Sanggar Lentera bertajuk Runcang Runcung di Kembang Jati Art House, Yogyakarta, 2 – 8 Juli 2026.
“Judul ini satu ungkapan yang berarti ke mana-mana bersama, rukun, guyub, gotong royong, menghidupkan kembali ingatan yang nyaris tenggelam,” kata Kris.
Di dinding galeri warna-warna kembali berbicara. Ada biru laut Gresik yang tak pernah luntur, ada tanah dan semen yang menjadi tekstur nasib. Ada wajah masa muda yang kini hadir dengan tangan yang lebih bijak.
Hasilnya, sejumlah pelukis mengeksplorasi bentuk hewan dalam komposisi warna-warna cerah. Kris Adjri (1961) mengeksplorasi citraan bentuk ayam jago berwarna putih dengan mengepakkan sayap (Jagoan, 2026). Ada juga bentuk ikan menerobos warna merah, hitam dan abu-abu (Bandeng Kawak, 2026).
Ahmad Syafii (1966) menampilkan suasana sureal lewat sosok hewan kuda di tengah kerimbunan fegetasi (Kuda Terbang, 2025), atau keriuhan lalulintas perkotaan (Mudik, 2026). Sementara Erfi Sulistuanto (1965) menghadirkan dua sosok ayam jago yang sedang bertarung (Tarung, 2026).
Lanskap Kota Gresik yang berpantai muncul pada karya Muhammad Syarifuddin (1972) berupa figur nelayan dengan perahunya menangkap ikan laut (Nelayan di Dua Cakrawala, 2026). Adapun HM Riyanto salah satu karyanya berupa instalasi alat musik tabuh Rebana yang bagian tepinya dilukis berbagai bentuk figur dalam warna cerah (Rebana, 2026).
“Lentera telah kembali, bukan untuk menengok masa lalu, tapi untuk menerangi masa depan cahaya yang dirawat puluhan tahun lamanya,” ujar Kris Adjri.■ Raihul Fadjri























Komentar