Indonesian Women Artists Gelar Pameran Seni Rupa

Aktivis siapkan biennale perempuan perupa untuk memfasilitasi perspektif perempuan dalam seni rupa. 

Sejumlah karya pada pameran IWA#4: On The Map. Foto: dokumentasi IWA#4/ dialoguejakarta.com

Jakarta, dialoguejakarya.com – Isu tentang peran perempuan dalam berbagai bidang tak pernah lekang diangkat, termasuk dalam kancah seni rupa lewat Indonesian Women Artists (IWA) yang sudah dimulai sejak 2019.

Edisi ke-4 IWA melanjutkan eksplorasi artistik yang memanfaatkan sains dan teknologi pada pameran bertajuk On The Map di Galeri Nasional Jakarta, 9 April –  30 Juni 2026. “Edisi ini ingin memberi tawaran laku membaca peta kesenimanan perempuan perupa di Indonesia kepada publik,” tulis tim kuratorial: Carla Bianpoen, Vidhyasuri Utami, Bagus Purwoadi.

Pameran ini menampilkan karya 12 perempuan perupa yang masih aktif berkaya dan juga karya  perempuan yang sudah meninggal dan tidak diapresiasi secara lebih mendalam pada masa aktif mereka berkarya.

Menurut tim kurator, semua karya 12 perempuan perupa itu berawal dari situated knowledge, yaitu kondisi yang khas ditemui dalam pendekatan perumusan ilmu pengetahuan, atau
epistemologi feminin. Titik awal karya yang beragam merangkum pengalaman ketubuhan yang berbeda dan menjadi awal pengetahuan.

Konteks tubuh dan sublimasinya itu muncul pada karya milik Ni Nyoman Sani (Rumah, 2026), Dyantini Adeline (Mengalir Sampai Jauh, 2026), Ve Dhanito (Fragments, 2026), dan Nona Yoanishara (I Want You To Remember This Forever, 2026). Mereka mengangkat artefak ingatan (Adeline).

Semuanya adalah proses dan pengalaman yang — walaupun berawal dari pengalaman pribadi (subyektif) — menyeruak menjadi proses yang tumbuh dan familiar bagi para pemirsanya.

Situated Knowledge ini pun muncul dalam karya perupa yang mengkaji alam dan lingkungan di sekitarnya. Di sinilah karya Irene Agrivina (Pigments of The Goddess, 2026), Endang Lestari (Geopagia Memoria, 2026) dan juga Ines Katamso (Biji Naga, 2026) menyituasikan dirinya, baik dalam kajian yang menampilkan pemikiran kritis di balik mitologi mengenai tanah, ritual, serta artefak historis tanah, maupun “pembedahan” unsur tanah yang menjadi cikal bakal elemen visual warna agar dapat digunakan di berbagai karya pada masa depan.

Selain tanah, unsur selestial seperti langit dan awan pun menjadi fokus, yang dalam pameran ini dihadirkan oleh Tara
Kasenda (Rèvèlation, 2026). Ia menampilkan perbandingan penggambaran langit di berbagai belahan dunia. Sehingga, perbedaan geografis secara fisik– pada peta — menjadi kesatuan yang menimbulkan similaritas. Pada karya ini, situated knowledge Tara menawarkan universalitas yang kental karena permasalahan penggambaran langit menjadi permasalahan penggambaran proses fisika dalam lingkup astronomi ketimbang perbedaan fisik dan jarak.

Peta sebagai gagasan juga direpresentasikan dalam permasalahan warisan budaya, seperti yang ditampilkan oleh Kana Fuddy Prakoso (Ziarah Kesadaran, 2026). Ia menampilkan sosok perempuan historis Ratu Kalinyamat yang dengan gagah berani menguasai pengetahuan navigasi maritim sehingga menunjukan kepada kita bahwa pengetahuan itu bukan hanya milik kaum pria. Selain itu, Kana juga menempatkan pemirsanya menjadi bagian dari kejamakan sosok ini. Melalui rekayasa cahaya, ia menunjukan bahwa Ratu Kalinyamat ada di dalam diri kita, pemirsanya.

Sementara itu, Rani Jambak menampilkan kajian terhadap peninggalan budaya empat generasi penyulam perempuan di Koto Tua di tangan keluarga Uni Essy (Pamedangan, 2026). Keahlian penciptaan artistik yang feminim ini kian menghilang seiring pergerakan waktu dan zaman.

Dalam upaya “pendokumentasian” pengetahuan ini, Rani mengundang publik untuk mempelajari dan mengenal lebih lanjut proses artistik itu selama pameran. Selain mencoba memberikan sebuah tawaran bacaan dan arsip dari pengetahuan.

Citra Sasmita melakukan pelacakan sejarah keperempuanan Nusantara melalui medium yang ramah lingkungan (Fibers of Time, 2026). Walaupun alam menjadi bagian dari medium kreatifnya, Citra lebih fokus pada sejarah keperempuanan yang sulit dirumuskan hanya dalam satu narasi besar bermakna tunggal. Di sinilah kita berbicara banyak tentang implikasi kultural, sosial dan bahkan politik dalam masyarakat Indonesia. Satu hal yang juga ditampilkan oleh Bibiana Lee (While We Watch, 2026).

Pameran IWA ini direncanakan akan menjadi pameran dua tahunan biennale seni rupa khusus perempuan perupa. Sejauh ini penyelenggaraan biennale selalu berorientasi kewilayahan, sehingga sesungguhnya ada ruang yang luas bagi platform seperti IWA untuk mengisi kekosongan biennale yang berorientasi pada isu.

Selain itu, tiadanya biennale perempuan hingga saat ini sesungguhnya juga merupakan fenomena yang janggal, mengingat kiprah dan apresiasi terhadap perempuan perupa dan kurator Indonesia saat ini sudah jauh lebih baik dari dua dekade lalu. “IWA memandang bahwa kini sudah saatnya kita memiliki Biennale Perempuan,” ujar tim kurator IWA.

Selain memandang adanya kebutuhan untuk mengisi kekosongan biennale
berbasis isu di Indonesia, IWA juga memandang bahwa gagasan tentang
kesetaraan gender merupakan kesadaran dan gerakan berskala global. Sehingga, biennale dirasa menjadi platform yang paling tepat untuk melantangkan perspektif perempuan yang telah diupayakan IWA sejak penerbitan The Curtain Opens pada 2007 lalu. “Dalam format biennale, IWA berharap dapat tumbuh menjadi platform yang lebih besar dan mapan, serta konsisten dalam memfasilitasi perspektif perempuan.”■ Raihul Fadjri

Komentar