Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Seni rupa Indonesia hingga kini masih didominasi arus utama yang bergerak di wilayah Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Bahkan belakangan ini di Yogyakarta sederet pameran seni rupa yang diikuti puluhan peserta dan berlangsung silih berganti dalam jarak waktu yang relatif singkat. Sementara di sejumlah wilayah lain aktivitas seniman dalam seni rupa tak terasa gerak nafasnya. Toh ada upaya untuk terus menghidupkan aura seni rupa di sejumlah wilayah.
Gerak inilah yang dilakukan sebanyak 32 perupa di wilayah Magetan, Jawa Timur dan kota-kota di sekitarnya lewat kelompok Pancer. Kelompok ini anggotanya hanya beberapa yang mengenyam kuliah seni rupa, sebagian besar mereka pelukis otodidak, tapi mereka dengan semangat menggelar pameran Pancer #2 bertajuk Inside Existence di Gedung Kesenian Tripandhita, Magetan, 8-15 November 2025.
“Beberapa kabupaten itu terletak dalam wilayah yang berdekatan dan menjadi poros baru seni rupa di Jawa Timur,” ujar Heri Kris, kurator pameran ini, Jumat, 14 November 2025.
Pameran Pacer untuk kedua kalinya ini berlangsung di Gedung Kesenian Tripandhita, Magetan. “Tahun 2024 mulai pameran pertama di Ngawi,” kata Heri Kris. Menurut dia, perkembangan kegiatan seni rupa di wilayah selatan Jawa Timur itu sejak 2019 berlangsung progresif. “Saya banyak membuat pameran dan diskusi seni rupa.”
Bermula ketika Heri Kris yang juga seorang pelukis yang bermukim di Yogyakarta ini aktif menjadi kurator pada acara pameran di Madiun pada 2017, kemudian dilanjut pada 2019. “Sampai sekarang aktif di Magetan menjadi pembina komunitas seni rupa Magetiart Magetan,” katanya. Dia juga memberi ‘kuliah’ seni rupa secara online, aktif membuat diskusi dan kritik seni, dan membuat agenda pameran yang berkualitas.
Hasilnya sejumlah pelukis kelompok Pancer sudah berpartisipasi dalam pameran antara lain di Yogyakarta, Museum OHD Magelang, Artsub Surabaya, Jakarta, bahkan Vietnam. Kini kelompok Pancer sudah dua kali menggelar pameran bersama.
Pameran ini menyertakan beberapa perupa dari Kabupaten Magetan, Ngawi, Madiun, Pacitan dan Ponorogo. “Beberapa kabupaten itu terletak dalam wilayah yang berdekatan dan menjadi poros baru seni rupa di Jawa Timur,” ujar Heri Kris.
Kelompok Pancer dalam praktek seni rupa tidak menyatukan ideologi seni tertentu ataupun membawa pemikiran baru dalam dunia kontemporer, namun eksistensinya ingin memberi spirit berkesenian yang tumbuh di lingkungan mereka berada.
“Ada beberapa karya mereka yang unik diantaranya lukisan Kus Hervica dengan membangun suasana melankoli, absurd dan simbolik,” kata Heri Kris. Ada tanda kode nuklir pada benda yang mirip lembaran kertas koran dengan menampilkan sosok manusia yang tidak nampak utuh dan digarap dengan brushstroke yang bertenaga (Yang Tersisa, 2024).
Sedang karya lukis Andaru Vemba bercorak minimalis yang mengandung pesan moral berupa objek pantai yang kosong sepi tak ada aktivitas dan nampak bersih (Dont Leave your Trash, 2025).
Adapun Tulus Rahadi menampilkan lukisan bergaya naif mengekspresikan keceriaan dalam komposisi warna cerah dengan mengeksplorasi bentuk figur deformatif (Momong, 2025).
Lukisan bercorak abstrak dieksplorasi Dadang Wijanarko yang intuitif dengan komposisi warna minimalis dan goresan yang mengalir (Disela Hitam Ada Putih, 2025). Ada juga karya lukis abstrak Susetya memadukan bidang geometris yang disusun dalam tiga panel. “Karya abstrak Susetya lebih mengutamakan kecermatan komposisi dibanding dengan letupan emosi seperti yang telah dilakukan seorang pelopor pelukis abstrak Wassily Kandinsky (1866-1944),” ujar Heri Kris.
Adapun pelukis yang juga konsisten melukis abstrak adalah Trimoeljo yang lebih ekspresif, spontan dan lugas dalam memilih tema. Di tengah arus besar seni rupa kontemporer masih tersisa lukisan dengan media batik karya Suharwedi (Benturan, 2025).
Maraknya seni lukis di Magetan dan sekitarnya belum diserap oleh pasar seni rupa. “Ada yang laku terus di pasar, tapi banyak yang belum laku,” ujar Heri Kris. Toh perkembamgan seni lukis di Magetan didukung mantan Bupati Magetan, Suprawoto, dengan memborong 24 karya pelukis Magetan pada tiga tahun lalu. “Karya-karya lukis itu sampai sekarang dipajang di kantor bupati Magetan,” kata Heri Kris.■Raihul Fadjri


















Komentar