Bogor, dialoguejakarta.com – Fotografi tidak hanya praktek memotret realitas visual dengan perangkat kamera, tapi sudah menjadi bagian dari praktek seni rupa dalam khasanah seni rupa kontemporer. Fotografi berurusan dengan subject matter, komposisi dan warna sebagaimana elemen rupa yang dieksplorasi para perupa.
Praktek fotografi semacam inilah yang dilakukan Suherry Arno (1961) sejak 1990 yang kemudian dalam perjalanannya dia fokus pada karya fotografi hitam-putih. Tidak sebagaimana fotografer lainnya, Suherry fokus pada objek berupa lanskap alam dan juga bentuk bangunan lama yang sudah tergerus waktu.
Karya fotonya melampaui karya seni lukis. Orang dipersilakan menikmati bidang-bidang visual yang dia potret secara monokrom hitam putih. Dari foto-foto itu orang bebas berinteraksi dengan elemen bentuk yang disuguhkan dan membuat narasi sendiri berdasarkan rasa yang mereka tangkap.
Ketika Suherry mengambil satu momen visual yang tertangkap lensa kamera, artinya dia menemukan satu sudut pandang yang istimewa dari semua lanskap visual yang ada di depan matanya. Tidak ada citraan manusia dan hewan di dalamnya, hanya ada potongan lanskap alam di ruang terbuka dan struktur bangunan tua.
Untuk itu Suherry menelusuri alam hingga ke berbagai pelosok dunia demi menemukan objek yang menarik perhatiannya. Ketika melakukan pemotretan, dia sering tinggal di alam terbuka selama berhari-hari bahkan sampai tidur di hamparan salju. “Saya baru saja kembali dari New Zeland, selama dua minggu saya memotret lanskap yang menarik di sana,” ujar Suherry, Selasa, 18 November 2025.
Toh dia tidak mengandalkan narasi tentang alam pada karyanya. Dia membangun tekanan pada representasi dalam fotonya ketika memproduksi atau membuat foto dari awal memotret realitas dengan kamera sampai proses akhir lewat kamar gelap selesai.
Menurut Suherry, fotografi yang mendasari karya fotonya sebagai ultimate photography. Nilai dalam karya foto baginya tidak ditentukan pada perekaman suatu realitas, melainkan dari hasil akhirnya ketika hasil pemotretan melalui proses cetak.
“Nilai pemotretan ditentukan hasil akhirnya dalam bentuk print, dan print ini bukan hanya hasil akhir pemotretan, melainkan juga hasil akhir yang terbaik,” ujarnya. Keyakinan inilah yang membuat Suherry merasa harus menjalani sendiri proses di kamar gelap sampai pencetakan foto, agar tidak kehilangan hasil akhir terbaik. “Ada kenikmatan ketika melihat hasil print yang bagus, saya merasa takjub karena bisa melihat hasil akhir dari proses pembuatan yang bisa menghabiskan waktu 7-8 jam.”
Hasilnya, ada potret hamparan pegunungan di sebelah barat Amerika Utara (Rocky Mountain 1, 2013). Ada hamparan salju di negara kepulauan Samudera Atlantik dengan aktivitas vulkanik dan gletsernya (Iceland 211, 2014). Ada pula lanskap gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest (8.848,86 meter), dengan hamparan salju di punggungnya di perbatasan Nepal dan Tiongkok (Himalaya 3, 2013). Di Kamboja Suherry memotret bagian dalam candi Angkor Wat, monumen keagamaan terbesar di dunia, candi Hindu-Budha yang dibangun pada abad ke-12 (Lorong Angkor Wat 5, 2009).
Di Indonesia Suherry memotret bagian dalam bangunan lawas yang terkenal di Semarang yang terasa suram (Lawang Sewu 3, 2008), sedang di Yogyakarta dia memotret Gunung Merapi yang acap mengalami amukan erupsi (Merapi Pasca Erupsi, 2006).
Suherry juga memotret detil bentuk alam yang khas secara visual dengan potretan jarak dekat. Ada bongkahan batang kayu yang menunjukkan tekstur meliuk-liuk (Batang Kayu, 2004), ada juga punggung bukit batu yang menunjukkan struktur lekukan (Guwang, 2016), juga lorong sempit yang terbangun dari batu besar yang saling bersandar (Batu Besar, 2007).
Pada pertemuannya dengan alam dia tertarik pada proses perubahan dan proses pelapukan. Sejumlah karya foto Suherry menampilkan reruntuhan bangunan tua yang sudah menyatu dengan tumbuhan. Tanaman merambat yang terkesan sama tuanya mencengkeram bangunan tua (Benteng 2, 2013).
Pilihan terhadap obyek dan sudut pandang (angle) inilah yang dia jepret menjadi karya foto hitam-putih. Sebagian besar karyanya adalah potret hitam putih. Bagi Suherry, foto hitam-putih memberi kesan dan pengalaman yang berbeda. Jika melihat karya foto berwarna dia mudah merasa jenuh. Sementara foto hitam putih menghadirkan warna yang berbeda dengan realitas, sehingga dia dapat menikmatinya kapan saja tanpa merasa bosan. “Foto hitam putih buat saya seakan tidak ada habisnya. Mau dilihat hari ini, minggu depan, tahun depan, tetap sama nikmatnya,” ujar Suherry.
Fotografi tidak berhenti di kamera saja. Bagi Suherry, menerjemahkan konsep ke dalam cetakan juga sebuah karya seni. Bak seorang pelukis, dia mengeksplorasi elemen fotografi dalam proses pencetakan fotonya.
Menekuni print making memang menghabiskan banyak waktu. “Tapi proses cetak yang berjam-jam lamanya hanya untuk satu foto, menjadi sepadan ketika mendapat hasil foto yang kita mau,” katanya. Jajaran foto hitam putih Suherry menghadirkan suasana magis dan penuh enigma.
Untuk melengkapi proses berkaryanya Suherry mendirikan galeri fotografi D’Arno Gallery pada 2003 di Bogor, Jawa Barat, tempat dia memajang 100-an karya fotonya dengan kualitas istimewa dan karya fografer lain. Ruang pamer itu dilengkapi dengan fasilitas studio foto tempat dia memproses sendiri hasil jepretan kameranya menjadi karya fotografi. Tersedia fasilitas kamar gelap yang sangat lengkap, berbagai peralatan cetak foto, peralatan presentasi karya, dan berbagai kamera foto yang digunakan untuk menghasilkan karya berbagai ukuran.
Dia juga menerbitkan buku bertajuk Suherry Arno Photography Collection setebal 307 halaman, Suherry Arno menyajikan karya terbaiknya, disertai teks kutipan dari tokoh fotografi dunia. Buku ini diterbitkan pada 2023.
Kutipan itu ditampilkan menjadi sumber inspirasi pandangan fotografis Suherry dalam berkarya. “Kehadiran quotes dalam buku ini juga dimaksudkan untuk menjadikan buku ini bernilai edukatif dan inspiratif kepada pembaca,” ujar Irwandi, dosen jurusan fotografi Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta.■Raihul Fadjri

















Komentar