Gairah Vincent van Gogh pada Karya Deden Imanudin

Mempelajari gambar-gambar Vincent van Gogh pada dasarnya adalah sebuah babak berkarya yang didasari oleh rasa simpati.

Sejarah & Budaya168 Dilihat

 

Vincent, 2026.

BANDUNG, dialoguejakarta.com – Perupa Deden Imanudin memamerkan karya drawing yang terinspirasi dari karya dan semangat pelukis pascaimpresionis Belanda, Vincent van Gogh, (1853 – 1890) pada pameran tunggal bertajuk “Belajar dari Vincent” di ruang pamer Orbital Dago, Bandung, 4 – 29 November 2026. “Mempelajari gambar-gambar Vincent van Gogh pada dasarnya adalah sebuah babak berkarya yang didasari oleh rasa simpati,” ujar perupa kelahiran Subang, Jawa Barat, pada 1968 ini.

Secara emosional Deden merasa terhubung dengan Vincent. Gejolak psikologis yang dialami Vincent membawanya pada keputusan untuk mengenali karya-karya yang pernah dibuatnya. “Bagi Deden Imanudin perupaan yang dibuat Vincent Van Gogh itu merupakan jembatan untuk keluar dari kaidah-kaidah gambar representatif,” ujar Yeyet Dewi Koryeti, kurator pameran ini.

Garis dan bentuk menjadi lebih sederhana serta bersifat pribadi meskipun secara keseluruhan tetap bisa dilihat sebagai gambar yang bisa dikenali objek-objeknya. Deden menggambar figur teman-temannya maupun tokoh-tokoh antagonis, sebagai bentuk kecintaannya kepada kemanusiaan. Pemandangan alam dan
pedesaan direkamnya pada karya drawing memakai tinta di atas kertas sebagai bentuk keimanannya kepada Tuhan yang maha pencipta (Sisi Sungai Citarum #1, 2026). Dia menemukan hal tersebut pada Vincent, walaupun dalam spirit yang berbeda. Begitu pula dengan benda-benda pribadi, tak ada pengabaian terhadapnya. Citraan bentuk sepasang sepatu kulit usang yang sering kali dipakai dalam posisi tergeletak begitu saja bak menyimpan ingatan akan berbagai peristiwa (Sepatuku #1, 2026).

Sepatuku #1, 2026.

Ada juga karya drawing berupa struktur melengkung bangunan berasitektur klasik dengan deretan pot bunga di
Saint-Rémy-de-Provence, sebuah komune di Perancis selatan, tempat pelukis Vincent van Gogh pernah dirawat di sebuah rumah sakit jiwa yang berlokasi di Biara Saint-Paul de Mausole (1889–1890) di komune ini.

Bagi Deden, Vincent yang telah menghasilkan 2.100 karya berupa lukisan, gambar dan sketsa dalam kurun waktu 10 tahun, menimbulkan kekaguman dan dorongan tersendiri. Dengan usianya, kini ia menginginkan daya yang kuat untuk bisa
menggambar banyak hal, terutama tempat-tempat atau orang-orang yang
dijumpainya serta benda-benda pribadi—seperti yang dilakukan Vincent. Pada pameran ini, Deden Imanudin juga menghadirkan figur Vincent berupa potret diri Vincent mengenakan jas lengkap dengan ekspresi wajah seperti orang yang terkesima (Vincent, 2026).

Deden juga menerapkan cara menggambar Vincent pada beberapa bagian karyanya, tetapi beberapa karya juga menunjukkan upaya untuk keluar dari pikiran tersebut. Baginya belajar dari Vincent bukan berarti melulu soal ‘cara’, melainkan juga etos kerja yang dimilikinya sebagai seniman.

Melewati Pohon di RSJ Cisarua, 2026.

Hasrat Deden Imanudin pada seni rupa dimulai sejak dia duduk di Sekolah Dasar. Saat itu dia membaca artikel tentang Henri Matisse juga Vincent van Gogh, hingga berujung pada upayanya membuat sebuah lukisan. Hingga di tahun 1986 saat belajar kepada Rd. Tohny Joesoef di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, dia kembali menemukan lagi sebuah tulisan, dan mulai menyadari keunikan Vincent van Gogh dalam cara menggambar, begitu sederhana dan bersifat pribadi.

Deden Imanudin adalah
perupa dan seniman grafis lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Studio Seni Grafis. Dia belajar menggambar di Sanggar Ligar Sari 64 Bandung pada 1986 dan aktif berkegiatan serta berpameran di Sanggar Olah Seni sejak akhir 1980-an. Praktiknya mencakup seni grafis, lukisan, poster, performance, video, happening, dan environmental art.

Dalam lingkungan akademik Deden dididik oleh almarhum Prof. Setiawan Sabana, almarhum Kaboel Suadi dan almarhum Haryadi Suadi, serta pembimbing loka karya seni Grafis dari Jerman: Prof. Karl Schulz (Braunschweig University of Art).

Baginya, karya grafis sangat menuntut kedisiplinan teknik selain masalah konsep. Dia lebih memilih membuat karya cetak tinggi dan cetak dalam dari pada cetak saring, itu sebabnya penjelajahan garis (arsir/arceren) sudah menjadi kebiasaan (habit) baginya. Karya-karya etsa dari Rembrandt cukup mempengaruhinya, begitupun hasil-hasil gambar maupun sketsanya. Dari sanalah kemudian Deden juga memperhatikan karya-karya maestro lainnya, dan mulai beranjak pada persoalan di luar teknis.■ Raihul Fadjri

Komentar