
YOGYAKARTA, dialoguejakarta.com – Dalam rangka merayakan 10 tahun ruang pameran seni rupa Kembang Jati Art House, Yogyakarta, digelar pameran seni rupa bertajuk Samuhita yang diikuti 53 peserta, 19 – 30 September 2026. Karya yang dipamerkan berupa karya dua dimensi dalam berbagai corak dan karya tiga dimensi.
Samuhita dalam bahasa sansekerta bermakna berkumpul atau bersama. “Dalam hal ini, Samuhita menjadi perayaan kebersamaan Kembang Jati Art House selama 10 tahun,” ujar Meuz Prast, salah satu pendiri ruang pameran seni rupa ini.
Kembang Jati Art House didirikan oleh Ekwan Marianto dan Meuz Prast pada 2016 dengan nama Limasan Art House, berupa bangunan sederhana berbentuk bangunan tradisional Jawa yang disebut limasan, berdinding anyaman bambu (gedek), dengan struktur penyangga atap berupa susunan batang bambu yang mengesankan material bangunan tradisional yang ramah lingkungan. Dinding ruang pameran dari anyaman bambu pun ditutup dengan triplek sehingga mengesankan dinding beton.
Bangunan sederhana itu semula studio milik Ekwan Marianto (1977) yang juga merupakan pelukis bercorak naif. “Teman-teman yang waktu itu baru berkembang mencari tempat untuk pameran, karena mereka sering ditolak bila mengajukan karyanya untuk dipamerkan di galeri di Yogyakarta, ujar Ekwan.
Selain itu, para perupa muda sahabat Ekwan itu merasa berat dengan biaya yang harus di keluarkan jika gelar pameran di galeri. “Dari situlah mereka meminta tempat studio saya untuk dijadikan ruang alternatif untuk mereka,” kata Ekwan. Karena dia juga merasa bernasib sama, maka Ekwan setuju usul kawan-kawannya agar ruang studio itu dipakai bersama dan dikelola bersama. Lama-kelamaan banyak perupa yang senasib menggelar pameran di Limas Art House.

Nama Limas Art House karena bentuk bangunan galeri berupa limasan yang merupakan bangunan berasitektur khas Jawa. Setelah itu Ekwan dan kawan-kawannya mengganti nama menjadi “Kembang Jati Art House” pada 2018. Perubahan nama galeri ini karena selain bangunan galeri berdiri di bawah pohon jati, juga punya arti bahwa kembang jati mengembangkan jati diri. Istilahnya ini dimaknai sebagai jembatan bagi perupa muda yang baru berkembang dan mencari jati diri di tempat mereka berekspresi. “Dari sini lah kami mulai bersemangat, berkembang dan berdiri sampai sekarang,” kata Ekwan.
Perupa Meuz Prast yang ikut mendirikan Limas Art House menegaskan tekad mereka saat itu. “Ini anomali darah muda. Sing penting maju sik,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, mereka menemukan prinsip dasar. “Bahwa kita sudah semestinya ngopeni teman-teman yang berada di garis pinggir. Istilahnya ring tiga.”
Yogyakarta sebagai kota budaya memiliki 15 galeri seni rupa yang aktif dipakai perupa untuk menggelar pameran. Sebagian besar milik pribadi berupa bangunan permanen, bahkan ada yang berlantai dua dengan fasilitas yang dapat menampung puluhan karya perupa papan atas dalam berbagai ukuran.
Dari belasan galeri seni rupa itu Meuz Prast membaginya menjadi tiga katagori. Perhelatan tahunan Artjog di Jogja National Museum merupakan ring satu. Sedang belasan galeri besar dan mapan di Yogyakarta semacam Jogja Gallery, Pendapha Art Space, Sangkring Art Space, atau Cemeti Art House, merupakan galeri ring dua. “Nah kita ambil posisi di ring tiga. Karena gak ada yang mau ngopeni kelas itu. Kita hadir untuk mengakomodir teman-teman,” ujar Meuz.
Menurut Meuz, Limas Art Gallery sejak awal bukan tumbuh dari kemewahan.
Justru ia tumbuh dari kesederhanaan. “Dari tenaga yang sering kali tidak terlihat. Dari tangan-tangan yang ikut membersihkan ruang, memasang karya, mengatur cahaya lampu, membuat kopi, berdiskusi sampai malam, menerima tamu, dan kadang-kadang menanggung sendiri sesuatu yang tidak pernah tercatat sebagai prestasi. Di sinilah barangkali makna sebuah ruang seni alternatif Limas Art House yang kemudian menjadi Kembang Jati Art House menemukan akarnya,” kata Meuz.
Kesederhanaan fisik Kembang Jati Art House itulah yang menurut Ekwan Marianto, perupa muda Yogyakarta memilih galeri ini untuk memamerkan karya mereka. “Mungkin tempatnya sederhana familier dan tidak ada kurasi yang membuat mereka percaya diri,” ujar Ekwan.
Kembang Jati Art House menerapkan biaya sewa ruang galeri Rp 150 ribu per hari. Sebagai pembanding, biaya sewa ruang rata-rata di galeri yang ada di Yogyakarta berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per hari. Biasanya pameran berlangsung dalam durasi 11 sampai 12 hari. Ekwan menyediakan kursi dan perangkat sound system dan keperluan lain khususnya untuk saat acara pembukaan pameran. Adapun untuk biaya penyediaan makan dan minum saat acara pembukaan ditanggung oleh perupa pengguna galeri.
Sejauh ini Ekwan Marianto sebagai pemilik Kembang Jati Art House belum berniat untuk merenovasi bangunan galeri. Saat ini ruang pameran berukuran luas 6 x 11 meter persegi ini bisa menampung 40-an karya lukis berukuran kecil (50 x 50 cm). ” Galeri ini sederhana, saja. Sepertinya sudah cukup sebagai tempat pameran seni rupa. Mungkin lain waktu (akan direnovasi), entah kapan dan manut aja sesuai rejeki,” kata Ekwan.
Bagi Meuz Prast Kembang Jati Art House tidak harus besar untuk menjadi penting, tidak harus mewah untuk menjadi berarti, dan tidak harus memiliki banyak uang untuk memiliki daya hidup. “Yang membuatnya hidup adalah orang-orang yang percaya bahwa seni seharusnya memiliki ruang untuk siapa saja,” katanya.■ Raihul Fadjri
















Komentar