Eksplorasi Imajinasi Tanpa Batas

Imajinasi mewujud menjadi makhluk hibrida, simbolisme personal, dan lanskap surealistik lewat beragam media.

Agus Wicaksono (Terjerat Peradaban, 2026). Foto: Dok. Pendhapa Art Space/ dialoguejakarta.com

YOGYAKARTA, dialoguejakarta.com – Imajinasi menjadi hal penting dalam proses kreatif perupa dengan menerobos struktur berfikir yang disebut akal sehat. Narasi ini dieksplorasi 40 perupa dari berbagai tempat di Indonesia lewat pameran bertajuk “Beyond Imagination #3” di Pendhapa Art Space Yogyakarta, 5 – 26 September 2026. “Beyond Imagination #3 ini merupakan upaya kolektif untuk menjelajahi wilayah estetik yang berada di luar jangkauan nalar konvensional,” ujar Heri Kris, kurator pameran ini.

Menurut Heri, perupa peserta pameran
mencoba meruntuhkan sekat antara yang nyata, yang diimpikan,
dan yang belum terfikirkan. “Beyond Imagination #3 tidak dipilih untuk sekadar merayakan keliaran ide, melainkan sebagai gugatan kritis terhadap bagaimana kita memandang realitas hari ini,” katanya.

Pada pameran ini pengunjung diajak menyelami alam bawah sadar seniman. Imajinasi mewujud menjadi makhluk hibrida, simbolisme personal, dan lanskap surealistik yang menjadi katarsis atas kecemasan serta harapan personal. “Pameran ini juga menyoroti bagaimana teknologi dan eksistensi manusia bersinggungan. Ini adalah sebuah proyeksi imajinatif tentang ke mana arah peradaban kita akan
bermuara,” ujar Heri.

Para perupa mengeksplorasi media  lukisan, patung dan seni instalasi dan mixed media bak melompat pagar media konvensional. Imajinasi para perupa bereksperimentasi dengan beberapa teknik dan material pendukung berupa kolase, fotomontase, assemblage dengan merakit bahan bekas menjadi karya baru berupa karya tiga dimensi.

Perupa Prabowo, misalnya, menggunakan bahan campuran berupa kain goni, limbah plastik, kain perca, benang, dan tali menjadi karya mixed media. Dalam karya ini terlihat citraan figur yang terjerembab dalam posisi tengkurap, terbelenggu jalinan tali yang kuat mengesankan ketidakberdayaan (Titik Terendah, 2026).

Agus Wicak lewat karya mixed media dengan narasi persoalan lingkungan hidup merespon perburuan dan perusakan dunia flora dan fauna sebagai bentuk keserakahan manusia (Terjerat Peradaban, 2026).

Kartika Ayu Agst menghadirkan patung kepala (buste) sosok perempuan dalam posisi kepala mendongak yang menindih tumpukan buku. Semua permukaan kulit penuh hiasan tato, sementara headphone menutup kedua telinga seperti sedang asik dengan dirinya. Buku menjadi simbol keberanian untuk belajar, sementara elemen modern merepresentasikan hadirnya wawasan baru (New Identity, 2025).

Tato Kastareja, perupa asal Banten, menghadirkan karya instalasi berupa bentuk buku besar, terbuka lebar setinggi 250 cm. Karya ini menggambarkan  benda usang yang berproses menjadi benda baru yang canggih, kekinian mengikuti jaman. Dia menganggap bahwa masa depan hadir bukan dari sesuatu yang kosong melainkan dirakit ulang dengan imajinasi (Transformation of Time, 2026).

Adapun Dunadi, seorang pematung senior dari Yogyakarta, menampilkan karya patung kepala dari susunan kepingan uang dengan ekspresi wajah tenang. Kepala bagian atas  menampakkan bentuk otak dengan citraan hewan berkaki empat bertengger di atasnya. “Sebentuk wajah yang nampak indah, tenang dan tanpa cela, namun dibalik itu ada sisi manusia yang penuh dengan ambisi,” ujar Heri Kris.

Spirit religiusitas dihadirkan oleh perupa Yeshua’s Painter Oka lewat karya lukis sebagai gambaran ironi kehidupan saat ini, berupa citraan sosok Yesus dalam posisi tangan terbuka bertuliskan ISAIAH 10: 1-2. Di bagian bawah kanvas ada figur berjas dan dasi sedang menyantap dengan rakus berlembar-lembar duit di atas piring. Ada juga figur anak sekolah sedang makan MBG dan gedung Koperasi Desa Merah Putih di puncak bukit (Beware Thewrath of God 1, 2026). “Karya ini mengingatkan pada penguasa negara tentang kebijakan yang
menyengsarakan rakyat kecil,” ujar Heri Kris.

Narasi teknologi AI dieksplorasi Yulius Benardi lewat karya lukisan mixed media berupa komponen elektronik ditempelkan pada lukisan citraan bentuk otak manusia sebagai simbol kecerdasan manusia (Kecerdasan Buatan, 2026)

Sementara Vincentius Kalu Witak, pelukis asal Flores,  menyuguhkan lukisan mixed media berupa figur perempuan sedang memegang mie instan serta beberapa tempelan berbentuk tangan dan kabel listrik (Terjebak, 2026). Lukisan ini berisi pesan tentang manusia instan dan digital untuk menyoroti bagaimana generasi muda dari kalangan bawah terjebak di antara dua dunia: di satu sisi mereka hidup dalam keterbatasan fisik dan pangan yang serba instan yang disimbolkan dengan mi instan, namun di sisi lain mereka dipaksa untuk terus “tercolok” dan terikat pada modernisasi serta teknologi (simbol kabel listrik), dalam lingkungan sosial yang terasa dingin dan berjarak lewat simbol sarung tangan medis.

Perupa M Solech lewat karya instalasinya  mengeksplorasi citraan bentuk pepohonan dan akarnya yang kuat pada karya instalasinya yang menjebol ubin. Karya ini sebagai metafora tentang daya hidup yang tidak pernah benar-benar menyerah (Geliat, 2026).

Pameran ini merayakan kebebasan berimajinasi dan menjadikan seni kontemporer sebagai cermin kecerdasan berbudaya serta wadah inovasi tanpa batas.■ Raihul Fadjri

Komentar