
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Afnan Malay (1965) yang pernah dikenal sebagai mahasiswa aktivis pada era tahun 1990-an memanfaatkan kegiatan melukis sebagai salah satu terapi untuk mengatasi serangan stroke yang dia alami sejak 2018, saat dia berada di London, Inggris. “Berat bagi saya. Selama tiga bulan memakai walker saat berjalan,” ujar Afnan yang pernah mengenyam pendidikan senirupa di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta dan sempat kuliah seni rupa di ISI Yogyakarta.
Kegiatan melukis sebagai terapi seni dapat membantu pemulihan fisik, kognitif, dan mental pasien stroke. Terapi ini melatih keterampilan motorik halus, koordinasi mata dan tangan, serta menjadi sarana ekspresi diri.
Melukis melatih motorik halus dengan gerakan memegang kuas dan mengontrol goresan membantu mengembalikan kekuatan otot tangan yang lemah. Selain itu, terapi melukis juga mengkoordinasi gerak dengan menyelaraskan pandangan mata dengan gerakan tangan di atas kanvas. Selain itu, terapi melukis juga menstimulasi otak untuk mendukung neuroplastisitas atau kemampuan otak membentuk jalur saraf baru untuk pemulihan.
Terapi melukis juga menjadi media relaksasi sehingga mengurangi stres dan pengalihan pikiran dari rasa cemas atau depresi pasca stroke. Selain itu, dengan melukis bisa membantu pasien menyampaikan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, terutama bagi yang mengalami gangguan bicara (afasia) dan meningkatkan rasa percaya diri karena memberikan kepuasan saat melihat hasil karya seni yang telah selesai dibuat.
Afnan Malay memilih corak seni lukis abstrak ekspresionistik sebagai bagian dari proses terapi artistik untuk stroke. Hasilnya, sebanyak 31 karya lukisnya dipajang pada pameran tunggal bertajuk Energi Rupa di Kembang Jati Art House, Yogyakarta, 18 – 27 Juli 2026. Pada poster pameran ini Afnan Malay menyebut dirinya sebagai penyintas stroke. “Sebagai aktualisasi sisi yang meledak-ledak kadang emosional. Corak ekspresif saya pilih sebagai cara yang menyenangkan untuk meluangkan saat berkarya sekaligus merasa plong,” kata Afnan.
“Saya melukis abstraks ekspresionis karena dalam kehidupan sehari-hari saya memang seorang yang ekspresif, blak-blakan.”
Karya lukis Afnan berupa sapuan kuas tebal (brush stroke) yang mengesankan energi yang kuat dalam struktur melengkung dengan komposisi warna cerah. Sebagian besar karya lukis Afnan cenderung mengeksplorasi bentuk non representasional dengan judul karya yang mengarahkan penonton pada imaji bentuk representasional, antara lain dengan judul: “Buruh Gendong (2026), Tanah di Perbukitan (2026), Hujan Emas (2026). Tapi ada juga karya lukis yang cenderung menghadirkan elemen representasional berupa bentuk konstruksi bentuk bangunan yang menjulang (Hotel Z, 2026). “Energi yang hadir dalam karya-karya ini pada akhirnya bukan hanya tampak pada sapuan warna atau gestur yang ekspresif, tetapi juga pada kehendak untuk terus mencipta di tengah tubuh yang telah berubah,” ujar Rain Rosidi, kurator pameran ini.
Sebagai penyintas stroke Afnan dengan penuh semangat berkarya dan menggelar pameran tunggal meski saat melukis masih sering tremor (gerakan gemetar yang berulang). “Untuk menuliskan nama Ma Lay pada lukisan sulit presisi pada setiap kanvas,” katanya.
Pameran ini merupakan pameran kedua Afnan Malay yang sebelumnya digelar pada pameran bertajuk ‘ALIR’ di Tan Artspace, Semarang, 8 – 20 Februari 2026. Satu jarak pameran tunggal yang relatif dekat dan butuh energi rupa yang besar.■ Raihul Fadjri























Komentar