
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Sebanyak 11 perupa menggelar pameran bertajuk Reading The Unspoken di Galeri Bulaksumur, kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 18 Juni – 17 Juli 2026. Judul pameran ini, Reading The Unspoken, lahir dari tentang kesadaran bahwa hal yang paling mendalam justru bersembunyi di balik keheningan. Pameran ini seolah ajakan untuk meresapi karya seni layaknya menyelami ruang dan waktu, perlahan, mengelupas lapis demi lapis tanpa perlu tergesa-gesa menuntut kesimpulan akhir.
Perupa pada pameran ini mengeksplorasi beragam corak dan narasi. Ada karya lukis bercorak surealis berupa dua tubuh tanpa kepala dengan lubang di bagian dada. Salah satu figur dengan warna kulit merah darah, kakinya menerobos lubang di dada figur yang dibalut warna putih (We All Bleed Red Any Way, 2026). “Karya ini bermakna bahwa diskriminasi atas warna kulit tidak ada artinya,” ujar Sabrina Azmi Shafa, pelukis karya ini.
Dunia flora dieksplorasi Aton Afganial berupa kumpulan bentuk tumbuhan dalam komposisi warna cerah yang ditutup dengan warna gelap (Primal Majesty, 2026). Karya lukis Aton seperti membawa orang pada hutan tropis yang penuh warna.
Komposisi warna yang kuat lewat bentuk abstrak geometris dieksplorasi Endin Rahmanira lewat karya lukis di atas kanvas berukuran kecil dalam komposisi warna yang kuat (Call Me Kalau Kosong, 2026). Karya Endin mengingatkan orang pada pelopor karya pelukis Belanda bercorak abstrak geometris Pieter Cornelis Mondrian (1872-1944).
Sebaliknya Risao Pambudi menggunakan warna monokrom gelap pada karya dua karya lukisnya dengan narasi kehidupan setelah kematian (The Garden of Death, 2026). Karya ini mengeksplorasi tubuh sebagai lanskap yang perlahan kembali ke alam melalui citraan tengkorak manusia dan hewan dalam fragmen tubuh yang muncul dan tenggelam dalam permukaan gelap.
Risao menghadirkan momen hening diantara keberadaan dan pelapukan ketika tubuh tergeletak tak berdaya di ruang kematian. “Unsur tumbuhan dari dalam tubuh dimaksud sebagai simbol penanda transformasi, bahwa tubuh tidak benar-benar hilang, tapi beralih menjadi bagian dari siklus kehidupan yang lebih luas,” ujar Risao. Karya ini mengajak penonton untuk merasakan waktu sebagai sesuatu yang lambat, organik dan tak terkalahkan.■ Raihul Fadjri




















Komentar