Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Ketika perupa melakukan berbagai pekerjaan di luar kegiatan berkesenian adalah hal yang biasa, terlebih saat kondisi perekonomian negara ini sedang seret. Tapi pengemudi ojek online nyambi jadi pelukis bukan hal biasa. Inilah yang dilakukan Aulia M (1986) seorang yang berprofesi sebagai pengemudi ojol yang menyisakan waktu luangnya untuk berkarya seni rupa.
Toh bagi Moell, nama kanvasnya, melukis bukan pekerjaan sampingan atau hobi, tapi kebutuhan. “Saya setiap hari menyempatkan melukis atau membuat sketsa, ibarat kata seperti ibadah dan makan sebuah keharusan tanpa keterpaksaan,” kata Moell.
Hasil kegiatan melukis itulah yang dia pajang sebanyak 36 karya lukis dan enam karya keramik tiga dimensi lewat pameran bertajuk ‘Rumah, Jalan Raya dan Ceritanya’ di Museum dan Tanah Liat, Yogyakarta, 16 – 29 November 2025. Sebagai pelukis otodidak Moel menggarap lukisan cenderung bercorak impresionis, tentang kehidupan sehari-hari dirinya hingga suasana sepuluh tahun di bui, saat dia menjalani hukuman karena penggunaan narkoba. Di Lapas itulah dia bertemu dengan sejumlah seniman. “Di sana saya tidak bertanya kepada kawan seniman tentang bagaimana cara menggambar tapi lebih mencari pengungkapan makna,” ujarnya.
Karya Moell pada pameran tunggal ini merupakan penggambaran tentang perjalanan hidupnya, tentang para penganggur, tentang orang yang berada di pinggiran, tentang hal yang dia temukan dalam dirinya maupun orang yang dia kenal dengan baik. “Kisah yang saya ceritakan sebagai cermin untuk orang lain tentang penerimaan hidup sebagaimana adanya dengan segala bentuk wajah takdirnya,” kata dia.
Sebagai pengemudi Ojek, Moell menemukan realitas yang komplit. Respon terhadap realitas itulah yang muncul di atas kanvasnya. Moell membiarkan lukisannya lahir tanpa maksud, tanpa strategi estetis, tanpa dorongan untuk dikagumi. “Gaya Moell sederhana, mentah, bahkan tampak ‘tidak selesai’. Tapi justru di situlah kekuatannya,” kata Hari Prajitno, krator pameran ini.
Karya-karyanya berupa citraan wajah yang tak rampung, sosok kuda yang seolah kabur dari bingkai, potongan cerita dan lamunan. “Semuanya seperti catatan dari kesadaran yang rapuh namun jujur.”
Pada karya lukisnya Moell menampilkan gambaran tentang kesulitan hidup yang dia alami dan dia lihat dalam masyarakat. Betapa sulitnya memperoleh pekerjaan, bahkan lulusan pasca sarjanapun hanya bisa terlentang tidur di rumah (Pasca Sarjana, 2025). Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga pun acap menimbulkan pertengkaran dengan istri di rumah (During The Hard Times, 2024). Menjalani hidup tanpa menghasilkan uang memaksa diri untuk berhutang (Menggali Lobang, 2025). Karena tak kunjung punya pekerjaan, menyebabkan terbelit hutang (Jatuh Tempo, 2025).
Moell juga memakai metafora kuda, khususnya untuk kegiatan sebagai pengemudi ojek online (Cari Makan; Walk With Me, 2024). “Saya suka dengan budaya naik kuda, sebagai penggambaran kendaraan saya saat ngojol. Saya gunakan kuda sebagai ganti kendaraan bermotor,” katanya.
Kehidupan di bui yang dimulai dari Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Wirogunan, dan berakhir di Lapas khusus Narkotika, Pakem, selama 10 tahun (2009-2019) memberi banyak inspirasi pada Moell. Ada sosok perempuan dengan tiga anaknya menunggu untuk bisa menemui suaminya di Lapas (Menunggu, 2019), ada juga figur oknum Lapas dengan wajah seram (Jatah Telat, 2024). “Itu penggambaran ketika yang saya kasih jatah rutin tepat waktu wajahnya ga serem. Tapi begitu jatah yang biasa tepat waktu itu telat, ya orangnya berubah,” ujar Moell.
Hidup di penjara tak menghalangi kegiatan berkeseniannya. Bahkan Moell membuat karya grafis yang juga dia pelajari dari seniman di Lapas. Persiapannya dari menyukil sabun mandi sebelum akhirnya bisa dapat papan kayu kosong yang tidak terlalu besar untuk dia cukil. “Sembunyi-sembunyi. Kalau ketahuan nyukil bisa babak belur,” katanya.
Hasilnya luar biasa, karya grafis satu-satunya yang pernah dia buat itu dia ikutkan pada pameran Tokyo International Miniprint Trienale pada 2017 saat Moell masih di bui. “Saya tanpa persiapan banyak, hanya niat saja,” ujar Moell.
Kreativitasnya terus bergerak. Dua tahun belakangan ini dia mengeksplorasi media keramik, salah satunya bentuk figur berkepala kuda (Salin, 2025). Toh reputasi Moell sebagai perupa tidak menghapus masa gelap sebagai napi narkoba di depan tetangganya. “Saya hidup di kampung dengan warga satu RT menjauhi saya, karena masa lalu saya. Luar biasa kan?”■Raihul Fadjri

















Komentar