Pameran Karya Patung Berukuran Mini: Art Toys Merchandise

Pemadatan ide, material, teknik, dan narasi karya seni patung ke dalam bentuk yang ringkas, tapi tetap punya daya ungkap yang kuat.

Sejarah & Budaya101 Dilihat

Karya seni patung pada pameran Mini Monumenta: Cemekel. Foto: Dok. API/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Pengunjung pameran seni patung di Jogja Gallery tampak membungkukkan badan dan kepala untuk menikmati keindahan visual jejeran karya patung berukuran mini pada pameran bertajuk “Mini Monumenta: Cemekel”,
7 – 14 Juli 2026.

Pameran yang digelar  Asosiasi Pematung Indonesia (API) ini diramaikan sebanyak 67 seniman patung dari Yogyakarta dan dari luar Yogyakarta dengan menghadirkan 97 karya patung.

Karya patung yang digelar paling tinggi berukuran 34 sentimeter dan paling kecil berukuran enam sentimeter dengan harga jual karya patung yang juga cemekel, dari Rp 1,5 juta hingga Rp 12 juta.

“Mini Monumenta: Cemekel mengajukan sudut pandang berbeda dengan
menempatkan skala bukan sebagai ukuran nilai artistik, melainkan
sebagai strategi berpikir yang menentukan bagaimana gagasan diwujudkan,” ujar Rain Rosidi, kurator pameran ini.

Dalam bahasa Jawa, ‘cemekel’ berarti sesuatu yang pas dalam genggaman: dekat, intim, dan personal. “Berangkat dari gagasan itu, setiap karya dalam pameran ini dibatasi pada ukuran maksimal 27 × 27 × 27 cm,” katanya.


Menurut Rain, pembatasan ini bukan dimaksudkan sebagai hambatan, melainkan justru sebagai ruang bagi pemadatan ide, material, teknik, dan narasi ke dalam bentuk yang ringkas, tapi tetap punya daya ungkap yang kuat. “Pameran ini mempertemukan patung dengan ruang domestik dan budaya visual populer, mulai dari art toys hingga objek yang bersinggungan dengan pendekatan merchandise.”

Karya patung pada pameran ini mengeksplorasi berbagai corak dan narasi. Ada karya patung bercorak realis, surealis, dan abstrak. Dari segi narasi, para pematung menampilkan narasi psikhis, lingkungan hidup, spiritualitas, falsafah hidup, perjuangan hidup, kritik sosial hingga ihwal ketahanan pangan yang menjadi isu politik belakangan ini.

Sebut saja karya patung Anusapati dari bahan keramik menghadirkan imajinasi tentang rumah yang berada di atas awan sebagai simbol ruang harapan, ketenangan, dan pelarian dari realitas yang berat (Rumah Di Atas Awan, 2026). Karya berukuran 27x 20×30 cm ini dipatok dengan harga Rp 12 juta.

Atau karya Ali Umar dari bahan kayu jati berjudul “Surau” (2026) berukuran 17 x 3 x 25 cm lewat eksplorasi bentuk dan tekstur kayu, Surau (musholla) menghadirkan memori kolektif tentang ruang yang menghubungkan tradisi, spiritualitas, dan identitas budaya.

Karya patung Ahmad Hendra Harmoko mengeksplorasi narasi lingkungan berupa sosok figur bocah perempuan dalam posisi berdiri  menggendong hewan berkaki empat di tengah puing hutan akibat penggundulan hutan  (Tangisan Hutan Terakhir, 2026).

Isu deforestasi juga diangkat Sardjito lewat citraan bentuk perangkat pengeruk tanah —excavator— mengangkat bentuk tangan dengan bentuk sehelai daun di atasnya sebagai simbol harapan terakhir dari alam yang terus mengalami tekanan akibat eksploitasi manusia (Daun Terakhir, 2026). Di tengah laju perusakan hutan dan pengurasan sumber daya demi keuntungan pribadi, daun terakhir menjadi penanda rapuhnya keseimbangan antara manusia dan lingkungan yang selama ini menopang kehidupan bersama.

Pematung Sentot Season mengeksplorasi narasi kekuasaan politik lewat sosok Bagong dalam pewayangan Jawa dengan posisi kokoh berdiri sembari mengacungkan tangan berbalut warna hitam dan merah. Mengacu pada lakon Bagong Dadi Ratu, karya ini menyoroti ironi ketika kekuasaan berpindah tangan kepada rakyat kecil, namun tanpa kebijaksanaan justru dapat melahirkan sikap angkuh dan kehilangan arah (BaBe King, 2026).

Heboh di ruang publik tentang disertasi seorang pejabat negara, diulik oleh Yana W. Sucipto lewat sosok domba separuh badan tegak gagah. Tanduknya melingkar tinggi ke atas bak mahkota, sementara tubuhnya diselimuti jubah wisudawan tingkat Doktoral (Gaudeamus Igitur, 2026). “Karya ini mempersoalkan ironi prestasi akademis zaman sekarang. Ketika gelar Doktor tak lagi diukur dari goresan tinta riset, tetapi dari lobby, amplop, dan plagiat. Ketika
cumlaude bisa dipesan, dan kebenaran bisa ditunda, seperti kasus yang terjadi di salah satu universitas ternama di Indonesia,” ujar Rain Rosidi.

Karya patung Demas Fajar Ariya bak menutup narasi pameran patung “Mini Monumenta Cemekel” ini, lewat citraan bentuk jubah dalam balutan warna emas berkilau tapi dalam kondisi fisik yang terkesan berantakan. Saat jubah tersibak separo, yang terlihat hanyalah ruang kosong dan gelap (Emptiness, 2026). “Karena seumur hidup mengejar ‘luar’, ia lupa mengisi ‘dalam”. Karya patung ini diberi label harga super cemekel Rp 1,5 juta.

“Pameran ini tidak hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga ruang pertukaran pemikiran mengenai kemungkinan baru praktik seni patung dalam skala kecil,” kata Rain Rosidi.■ Raihul Fadjri

Komentar