
Yogyakarta, dialoguejakarta.com — Saat ini semakin banyak peternak itik beralih ke sistem kandang baterai, sehingga membuat ruang gerak unggas semi akuatik ini sangat terbatas, tak lebih besar dari selembar kertas A4. “Hal ini menimbulkan masalah kesejahteraan yang serius pada itik petelur, seperti munculnya perilaku abnormal yang intens, menandakan adanya stress dan kondisi fisik yang buruk, seperti kerontokan bulu, area hidung dan mata yang kotor, serta cedera otot kaki,” kata Lolita Saras, Operations and Growth Director ASPI (Across Species Project Indonesia), Selasa 12 Mei 2026.
ASPI adalah inisiatif non profit yang fokus pada peningkatan kesejahteraan hewan yang diternakkan, khususnya itik petelur. Jaringan ini dibentuk sebagai respon terhadap tantangan kesejahteraan hewan dalam industri telur itik.
Untuk menangani masalah itik petelur, ASPI mengadakan pelatihan peternak itik petelur di Joglo Tani, Sleman, Yogyakarta, bertajuk “Penerapan Sistem Cage-Free pada Itik Petelur: Prinsip Dasar dan Praktik Lapangan” pada Kamis, 7 Mei 2026.
Pelatihan ini diikuti lebih dari 20 peternak itik petelur bebas sangkar yang tergabung dalam Jaringan Peternak Itik Petelur Bebas Sangkar (Duck Cage-Free Network) yang tersebar di kota dan kabupaten yang ada di Provinsi D.I. Yogyakarta. Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari dinas di tingkat kota/kabupaten maupun provinsi D.I. Yogyakarta.
Pelatihan peternak ini diadakan sebagai salah satu upaya mendukung peternak itik petelur bebas sangkar untuk terus meningkatkan praktik peningkatan kesejahteraan hewan di peternakannya sekaligus menggali potensi dari sistem bebas sangkar, terutama tentang produk
telur yang dihasilkan.
“Tujuan sistem cage-free yaitu meningkatkan kesejahteraan hewan, memberikan ruang gerak alami, mengurangi stres, dan mendukung perilaku alami itik,” kata Ir. Imam Suswoyo, M.Agr.Sc., pembicara utama dari Universitas Jenderal Soedirman.
Imam menjelaskan, ciri-ciri itik yang tidak memakai sistem kandang baterai antara lain tidak ada kandang individu, itik dipelihara berkelompok, diberi litter dari sekam atau jerami padi, dan ada akses kolam air untuk berenang. “Itulah tujuan kita nantinya, supaya pemeliharaan itik bisa memenuhi ciri-ciri ini dalam rangka menunjang kesejahteraan hewan,” ujar Imam Suswoyo.
Itik merupakan hewan semi akuatik, sehingga butuh lingkungan air. “Tuhan
menciptakan di kaki itik ada selaput karena memang kegunaannya untuk di air,” kata drh. Agung Ludiro, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY.
Pemerintah DIY saat ini tengah menyusun rancangan peraturan daerah tentang keamanan pangan asal hewan. “Dalam pembahasannya, aspek
kesejahteraan hewan menjadi salah satu poin yang dimasukkan dalam regulasi itu.”
Peternakan bebas sangkar sudah ada jauh sebelum kemunculan sistem kandang baterai. Banyak peternak masih mempertahankan sistem bebas sangkar, tapi tak sedikit pula peternak yang tertarik untuk mencoba sistem kandang baterai. Hal ini terjadi karena peternak belum benar-benar menggali potensi dari sistem bebas sangkar yang mereka gunakan. “Dalam kajian awal yang ASPI lakukan, kami menemukan bahwa telur yang berasal dari peternakan bebas sangkar memiliki cangkang yang lebih tebal dan putih telur yang lebih kental dibanding dengan telur dari kandang baterai,” kata Nuril Qolbi, Producer Engagement Officer, ASPI.
Meski memiliki potensi kualitas yang lebih baik dan kesejahteraan yang unggul, belum ada diferensiasi untuk produk telur itik/bebek cage-free di pasar. “Diharapkan, ke depan akan ada pelabelan untuk menandai telur cage-free di pasar, sehingga konsumen memperoleh transparansi mengenai asal dan sistem pemeliharaan produk, sekaligus pemahaman terhadap nilai tambah yang dapat memengaruhi perbedaan harga,” kata Nuril.
Salah seorang peternak itik, Siti Munjiyat, mengaku bahwa sebelumnya dia menggunakan sistem kandang baterai di peternakannya, sebelum akhirnya kembali menggunakan sistem bebas sangkar. “Dulu saya pakai kandang baterai, tapi sekarang sudah tidak lagi. Kasihan bebeknya,” ujar Siti Munjiyat.■ Raihul Fadjri






















Komentar