Upaya Bertahan Hidup di Atas Kanvas

Perjalanan kesenirupaan Achmad Pandi dari membuat papan nama toko hingga menjadi pelukis bercorak realis.

Sejarah & Budaya215 Dilihat

Jember, dialoguejakarta.com –  Ketika saat ini semua profesi mesti punya latar belakang pendidikan formal, seorang pelukis otodidak dengan kemampuan teknik realis yang tinggi, Achmad Pandi, merambah lanskap seni rupa kontemporer yang penuh tantangan dari kota kabupaten di Jawa Timur, Jember, daerah yang lebih dikenal dengan tembakau dan cerutu kelas satu.

Karya lukis Achmad Pandi mengangkat narasi tentang perjuangan di tengah keriuhan kehidupan untuk bertahan pada pameran tunggal bertajuk “Lika Liku Laki-Laki” di Studio Serakit, Jember, Jawa Timur, 30 April – 10 Mei 2026.

“Karya-karyanya menghadirkan ketegangan antara harapan dan kenyataan, antara kehendak berkarya dan batas-batas kondisi yang melingkupi. Dalam hal ini, melukis dipahami sebagai bentuk tekad sekaligus cara untuk memahami diri dan menghidupi kehidupan itu sendiri,” tulis Edwin Roseno dan Natalius Yudha dalam teks kuratorial.

Di atas kanvas Achmad Pandi menyatukan citraan figur lelaki lansia bercelana pendek dan bersandal jepit dan dua bentuk ember dan cangkul seolah menegaskan pekerjaan pria ini. Di belakangnya melebar bentuk tembok berhiaskan lukisan grafiti yang banyak muncul di ruang publik perkotaan, diimbuhi keriuhan tempelan kertas berisi berbagai iklan tentang gadai barang, pijat refleksi hingga servis komputer (Keinginanku Mengalahkan Usiaku, 2017).

Jaga Muda Sebelum Tua, 2017.

Dengan narasi yang sama, pria kelahiran Jember pada 1972 ini menampilkan figur anak muda dalam gestur santai berdiri sembari memegang peralatan sekop dan di sebelahnya ada citraan gerobak dorong, sementara di bagian latar ada tembok dengan tempelan kertas yang berisi iklan di ruang publik kawasan urban (Jaga Muda Sebelum Tua, 2017).

Sebagai laki laki, suami, dan ayah bagi dua anaknya, praktik melukis Achmad Pandi dijalankan sebagai bagian dari tanggung jawab yang tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial. Keluarga dihadirkan sebagai ruang tempat nilai dan keberlangsungan hidup. Posisi ini tercermin dari karya lukisnya berupa sosok pria bertubuh tegap mengenakan celana pendek dengan kedua tangan mengenakan sarung tinju sembari memegang peralatan sekop. Sementara di sebelahnya ada citraan figur anak berseragam sekolah dengan tas ransel di pundaknya bak sedang tergesa melangkah sembari memegang piala (Petarung Sesungguhnya, 1917).

Perjalanan kesenimanan Achmad Pandi melalui lintasan hidup tidak terpisah dari realitas keseharian. Praktik melukisnya berangkat dari ruang jalanan di kawasan Malioboro, Yogyakarta, pada awal 1990-an, di mana keterampilan dan kebutuhan hidup
dipertemukan secara langsung. “Dalam konteks tersebut, seni tidak hadir
sebagai ruang yang otonom, melainkan sebagai bagian dari strategi bertahan hidup,” ujar Edwin Roseno.

Perjalanan kesenian Pandi berlanjut melalui berbagai fase yang membentuk
karakter praktiknya. Pada tahun 1995, ia pindah ke Bali untuk bekerja sebagai lettering, membuat papan nama toko, restoran, money changer, hingga membuat baliho. Satu fase hidupnya yang memperlihatkan bagaimana keterampilan visual berkelindan dengan kebutuhan ekonomi.

Dalam rentang 1999 hingga 2004, ia memperdalam teknik drawing di Sanggar Senin–Kamis, Sanur, di bawah bimbingan Chusin Setiyadikara. Proses ini tidak hanya memperkuat kemampuan teknis, tetapi juga membentuk disiplin dan ketekunan sebagai bagian dari laku hidupnya.

Selain berkarya di atas kanvas, Pandi juga mengeksplorasi berbagai medium, termasuk jaket kulit dan celana, serta terlibat dalam kerja-kerja artisan dan kolaborasi dengan seniman internasional. Praktik ini menegaskan bahwa seni baginya tidak dibatasi oleh medium, melainkan bergerak mengikuti
kemungkinan hidup yang tersedia.

“Pameran ini diharapkan dapat membuka ruang refleksi mengenai praktik seni yang berangkat dari pengalaman hidup, sekaligus memperluas pemahaman tentang posisi seniman dalam menghadapi realitas sosial yang terus bergerak,” kata Edwin Roseno.■ Raihul Fadjri

Komentar

Kolom Berita