Diskusi Buku: Saat Jalan Gelap Demokrasi, Mohammad Hatta Layak Jadi Rujukan

DialogDaerah345 Dilihat

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Orang menyebut situasi politik belakangan ini sebagai jalan gelap demokrasi. Buku berjudul ‘Jalan Gelap Demokrasi dan Keadilan’ memaparkan bagaimana potret praktek demokrasi saat ini. Buku ini akan didiskusikan di Ruang Paripurna 2, lantai 2 Gedung DPRD DIY, Jalan Malioboro No 54, Yogyakarta, Sabtu, 25 Oktober 2025, pukul 10.00-13.00 WIB.

Dua narasumber akan dihadirkan, Imam Anshori Saleh, anggota DPR RI periode 2004-2009, Wakil Ketua Komisi Yudisial 2010-2015, Pengacara, dan Abidin Fikri, juga Anggota DPR RI periode 2024-2029, dengan moderator, Sinta Herindrasti, Pengajar Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia, Jakarta.

Ada banyak gagasan menarik dalam buku ini, yang penting untuk dibaca.
Abidin Fikri, menyajikan tulisan dalam buku ini melihat bangsa Indonesia tidak lagi memiliki teladan, sehingga terasa sekali adanya krisis kepemimpinan. “Karena itu, Mohammad Hatta, yang dikenal sebagai Proklamator Kemerdekaan RI dan pernah menjabat sebagai Wakil Presiden pertama, pantas untuk menjadi rujukan mencari pemimpin yang demokratis dan keadilan,” ujar Abidin yang juga inisiator penulisan buku ini.

Ada juga yang melihat Indonesia, mungkin sedang ruwet, dan ada yang menyebutnya sebagai Indonesia gelap, mengingatkan kampung halamannya, sehingga Halim HD, seorang pemikir kebudayaan, secara berkelakar menulis ‘Indonesia Bagian Terpenting Dari Kampung Saya’.

Atau juga, situasi buram pelayanan kesehatan, yang dialami tenaga medis, tenaga kesehatan, bisa ditemukan dari tulisan Ahmad Syaify, mantan wartawan yang kini Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi UGM.

Buku berjudul ‘Jalan Gelap Demokrasi dan Keadilan’, diterbitkan kerjasama penerbit Tonggak Pustaka dan Abidin Fikri Pandjialan Foundation. Ditulis 17 orang yang memiliki berbagai profesi, dan semasa mahasiswa dikenal sebagai aktivis. Mereka adalah, Abidin Fikri, Agoes Widhartono, Ahmad Syaify, Ahmad Taufan Damanik, Antie Solaiman, Bambang Kusumo Prihandono, Bambang Sigap Sumantri, Baskara T. Wardaya, Edy Sukrisno, Eko S. Dananjaya, Halim HD, Imam Anshori Saleh, Indro Suprobo, Ons Untoro, Osmar Tanjung/Teresa Birks, Simon HT, Sinta Herindrasti.

Para penulis mempunyai profesi berbeda, Ahmad Syaify misalnya, seorang Guru Besar FKG UGM, Ahmad Taufan Damanik, Ketua Komnas HAM. Ada pengajar perguruan tinggi, wartawan, peneliti, editor, pemikir kebudayaan dan lainnya.

Inisator penulisan buku ini Abidin Fikri dan Ons Untoro sekaligus bersama Indro Suprobo bertindak sebagai editor. Buku ini merupakan buku kedua seri ‘Renungan Indonesia’. Buku pertama terbit Oktober 2024 berjudul ‘Membangun (Kembali) Demokrasi’ ditulis 25 orang dari profesi yang berbeda-beda, dan tinggal di beberapa kota di Indonesia.

DPRD DIY yang diharapkan menjadi salah satu rumah demokrasi, memberi ruang kepada masyarakat untuk saling bertukar pikiran mengenai masalah bangsa. Buku ini merupakan bentuk dari gagasan sekaligus evaluasi permasalahan kebangsaan dan mengajak semua elemen bangsa untuk bersama membuat negara Indonesia demokratis dan berkeadilan.

“Kebetulan saya punya kawan anggota DPRD DIY, Yuni Setya Rahayu, yang sejak mahasiswi sebagai aktivis. Pergaulan aktivis itulah, membuat Yuni Setya Rahayu, masih terus menjaga persahabatan dan memungkinkan membuka ruang diskusi ini,” ujar Ons Untoro, koordinator acara.

Diskusi diselenggarakan kerjasama antara DPRD DIY, Tonggak Pustaka, Abidin Fikri Pandjialam Foundation, Sastra Bulan Purnama dan Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta.■Raihul Fadjri

Komentar