Dari Sejarah Kelam Penembak Misterius Hingga Pesona Kegelapan Pasar Malam

Sejarah & Budaya1085 Dilihat

Semarang – dialoguejakarta – Masih ingat akronim Petrus (penembak misterius) yang menimbulkan teror bagi para preman yang di Yogyakarta di sebut Gali (gabungan anak liar)? Sejarah kelam ini menjadi narasi pada salah satu karya grafis pada pameran bertajuk Pasar Malam di Semarang Gallery, 19 Juli – 17 Agustus 2025.

Pameran Pasar Malam menampilkan karya cetak saring berukuran besar (200 x 150 cm) oleh 15 seniman Indonesia dan Australia. Mereka mengeksplorasi ruang transgresif dan gelap yang ada di masyarakat kita. Setiap karya pada pameran ini dibuat oleh Krack! Studio di Yogyakarta.

Adalah Alfin Agnuba yang mengeksplorasi episode kelam ini ketika ribuan orang dibunuh, sebagian besar laki-laki dan terjadi di tengah malam pada 1983-1985. Aparat keamanan berdalih para korban adalah Preman, seolah menjadi pembenaran pembunuhan yang mereka lakukan, meski banyak di antara korban hanyalah pemuda berambut gondrong dan bertato.

Sejak akhir Maret 1983, Komandan Garnisun yang juga Komandan Kodim 0734 Yogyakarta, Letkol (CZI) M. Hasbi, mengumumkan perang kepada para gali. Bagi yang mencoba melawan atau melarikan diri akan ditembak. “Sebaiknya mereka menyerah, kalau tidak akan kami jemput,” katanya. Hasbi dan aparatnya yang bertindak atas perintah Presiden Soeharto tidak pernah diadili.

Dari episode kekerasan itulah Alfin menghadirkan kembali bongkahan yang terpendam selama ini berisi citraan lokasi penemuan mayat-mayat yang dituding sebagai preman. Ada juga sederet figur berpakaian militer seperti sedang menjinjing mayat korban petrus (Penembakan Misterius, 2024).

Ketika Alfin menghadirkan teror dan ketakutan, peserta pameran Pasar Malam lainnya justru menghadirkan elemen hiburan pada karyanya. Pasar Malam menjadi tempat untuk melepas ketakutan dan hasrat yang tertekan.

Karya grafis pada pameran ini merujuk pada mistisisme, mitologi, dan
ritual dengan menyulap pesona kegelapan malam. Ada citraan bentuk gedung dengan dua menara di sisi kiri dan kanannya dalam warna hitam yang mengesankan bangunan lama dengan dinding yang sudah terkelupas berhiaskan sarang laba-laba, figur dengan kepala bertanduk, deretan tengkorak, jari tangan berkuku panjang yang keluar dari jedela, wajah menyeringai dengan gigi runcing, hingga kepala perempuan yang berlumuran darah. Semuanya mengingatkan orang pada pengalaman memasuki rumah yang berisi teror mahluk tak kasat mata (Tobias Richardson, Istana Hantu, 2024).

Pada pasar malam Jumat Kliwon di Pantai Parang Kusumo, Yogyakarta, ada tugu batu kuno di tengah pasar yang dipercaya sebagai tempat pertemuan Ratu Laut Selatan dengan panglima Kerajaan Mataram. Di dekatnya terdapat masjid dan di sekelilingnya terdapat deretan kios yang menjual benda mistis untuk ritual dan ramuan. Pasar ini memadukan ritual Mataram, dengan ajaran Islam dan praktik animisme Kejawen (Enka Komariah, Pasar Malam Jumat Kliwon, 2024).

Pasar Malam tak mesti berbau seram atau horor. Rizqi Maulana (1996) menggambarkan suasana pasar malam tradisional Jawa yang penuh suasana segar dan riang, tempat untuk minum teh dan menikmati makanan ringan. Ada citraan bentuk gerobak pikul di bagian tengah, tungku batu bara kecil yang disangga di atas bahu oleh penjual teh. Saat pelanggan memesan teh dan makanan ringan, penjual akan membawa seluruh peralatan dapur ke hadapan mereka. Ada juga mainan dari daun kelapa dan makanan kecil yang terbuat dari beras. Gambar ini mengingatkan kita pada kemasan teh dari pertengahan abad ke-20 (Grobak Pikul, 2024).

Rudi Hermawan mengeksplorasi kebiasaan aneh dan benda mistis yang dapat ditemukan di beberapa pasar malam, mulai dari persembahan hewan hingga jimat ‘ajaib’ untuk menyembuhkan penyakit, membuat kaya, atau membantu menggaet kekasih. Karya Rudi selalu menampilkan sosok anonim dengan kantong plastik di atas kepalanya. Rudi merespon perubahan teknologi dan sosial dengan menghasilkan karya satir.

Lihat juga karya Ipeh Nur (1993) berupa pasar barang bekas di sekitar Jawa yang disebut Pasar Senthir atau Pasar Klitikhan. Pasar ini ramai dan semrawut, tempat penjualan barang antik, barang bekas, dan bahkan barang curian (Pasar Senthir, 2024). “Saya tertarik karena hal ini membuat saya berpikir tentang siklus kehidupan. Orang-orang ini memberikan makna dan kehidupan baru pada benda-benda yang dianggap tidak lagi berharga, yang telah dibuang, rusak,” ujar Ipeh. Yang menarik, karya grafis Ipeh memakai pigmen dan pewarna alami berupa nila, cengkeh, arang dan tanah liat yang berperan penting dalam sejarah kolonial di bumi Nusantara.

Adapun Prihatmoko Moki menggambarkan pertunjukan wayang di Keraton Yogyakarta di mana unsur Hindu, Kejawen, Jawa dan Kolonial dilebur menjadi satu. Prihatmoko tertarik menulis ulang narasi sejarah, dengan mengaburkan batas antara fiksi dan realitas. Dia menggunakan mitos dan satir sejarah untuk mendiskusikan dan mempertanyakan kembali isu kontemporer.

Pada abad ke-19, Sultan Yogyakarta memimpin Rampokan, satu ritual di mana seekor harimau ditangkap dan disembelih untuk membuat para
pembesar yang tengah berkunjung terkesan. Anggawan Kusno tertarik pada pembunuhan harimau sebagai demonstrasi maskulinitas dan kejantanan di Jawa (Silencio, 2024). Karya ini juga merujuk pada pasar gelap kulit harimau Indonesia. Perdagangan ini dilarang pada tahun 1990-an, namun kulit harimau Sumatera masih diperdagangkan secara ilegal.■Raihul Fadjri

Komentar