Yogyakarta – dialoguejakarya.com – Sebanyak 25 perupa merayakan seni gambar lewat pameran bertajuk “Drawing dan Kertas, Merayakan Kejujuran Garis” di ruang pamer Edsu House, Yogyakarta, 5 Juli – 3 Agustus 2025. Yang menarik diamati pada pameran ini, karya drawing (gambar) berupa goresan pinsil, tinta, atau guache menjadi saling tindih dengan karya lukis berupa sapuan kuas di atas kertas.
Berbeda dengan melukis, menggambar lebih menekankan pada bentuk dan rupa dari pada massa dan warna, meskipun menggambar dapat menjadi langkah awal dalam melukis.
Sebagian besar dari peserta pameran ini menunjukkan hasil praktek menggambar di atas media kertas dengan alat seperti pensil, pena, atau arang sebagaimana yang dipahami selama ini. Kadang ada juga yang menggunakan krayon, pastel, spidol dan kapur. Sementara sebagian lainnya malah mengeksplorasi media kertas dengan sapuan cat air bahkan cat akrilik sebagaimana praktek seni lukis umumnya.
Sebagaimana sejatinya karya gambar, mereka menorehkan piranti gambar di atas kertas berupa bentuk-bentuk sederhana yang umumnya dengan warna monokrom. Karya Arahmaiani misalnya, dia menggunakan charcoal (arang) di atas kertas untuk menggambar suasana kerusuhan 1998 yang kelam berupa bentuk gedung bertingkat dengan torehan garis tebal dan kepulan asap hitam tanpa menorehkan garis di bagian atasnya.
Di depan bentuk gedung itu ada sosok figur tergeletak seperti menjadi korban dari kenderaan tempur lapis baja–tank–dengan meriam mengarah ke gedung itu. Bentuk asap, tubuh tergeletak, dan panser bak catatan sejarah gelap negeri ini (1998 #1, 1998).
Seniman patung yang juga akademisi Anusapati menggunakan arang untuk menghadirkan jejeran bentuk batang pohon dengan citraan bentuk realis tekstur kulit dalam suasana monokromatik yang kelam hasil goresan garis yang nyaris tidak kelihatan (Tranquil Moments, 2025). Hal yang sama dilakukan Garis Edelweiss yang memadukan citraan bentuk realis yang detil dalam warna monokrom berupa sosok perempuan dengan bentuk kepala yang terbentuk dari goresan garis sederhana (Ibu dan Kucingnya, 2020).
Menyatunya citraan gambar dan lukisan tampak pada pada karya gambar RJ Katamsi, salah satu pendiri Akademi Seni Rupa Indonesia, lewat karya gambar bertarikh 1922 berupa potret seorang pria berhidung mancung mengenakan pakaian bangsawan Eropa hasil torehan pinsil di atas kertas yang menghasilkan citraan realis dalam warna monokrom yang nyaris tidak menyisakan torehan garis.
Pada karya Mella Jaarsma tampak penggabungan antara gambar dan lukisan lewat goresan tinta dan pinsil dan sapuan warna transparan gouache dengan mengeksplorasi penyembunyian bentuk figur (Refugee Only, 2024). Atau karya Agus Suwage berupa jejeran potret dirinya dengan lidah menjulur (Lidah Tak Bertulang, 2019).
Pada karya ini Suwage seperti menunjukkan perbedaan karya gambar lewat garis-garis yang jelas dari torehan tinta pada potret wajahnya dengan bentuk lukisan potret dirinya lewat sapuan kuas cet air pada bidang kertas yang sama.
Arwin Hidayat alih-alih membuat lukisan dengan cet akrilik, dia malah membuat karya gambar dengan menorehkan cat akrilik yang biasa dipakai melukis untuk menghasilkan jejeran tujuh bentuk kepala manusia yang hanya berkaki satu, seolah sedang menopang berat citraan bentuk gunung di atasnya dalam warna monokrom (Leluhur, 2024).
Di tengah kerumitan semua tehnik menggoreskan garis di atas kertas, perupa Theresia Agustia dan Ugo Untoro melakukan pendekatan ekstrim. Theresia Agustina dalam warna monokrom menggoreskan teks berupa tulisan ‘nrima ing pandum’ dengan citraan bayangan yang mengesankan tulisan itu sedang bergerak.
Di sebelahnya dia membuat komposisi berupa jejeran garis pendek (Hitung, 2025). Pendekatan ekstrim yang sama dilakukan Ugo Untoro dengan membuat susunan garis miring yang mendorong orang membayangkan citraan bentuk yang kosong berupa bentuk botol, piring, kendi, Budha, sepatu, dan gelas. Satu upaya yang tak biasa untuk merayakan kejujuran garis lewat seni menggambar.■ Raihul Fadjri

























Komentar