Ashadi Siregar 80 Tahun: Dari Kampus Biru Menolak Ayah

DialogDaerah2129 Dilihat

Yogyakarta – dialoguejakarta.com – Menyalin fakta menjadi fiksi. Itulah yang dilakukan Ashadi Siregar, seorang yang bergelut dengan fakta sebagai wartawan, kemudian mengalihkan fakta yang ada dalam memorinya menjadi karya fiksi berupa novel.

“Saya ingin menjadi wartawan setelah selesai kuliah di jurusan Publisistik UGM, tapi tidak kesampaian. Ya gak apalah,” ujar penulis 12 novel ini pada acara memperingati 80 tahun usia Ashadi Siregar, di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, Sabtu 5 Juli 2025. “Karena gak kesampaian jadi wartawan. Untungnya tidak celaka. Malah menyenangkan,” katanya.

Pada acara Sastra Bulan Purnama yang dikelola oleh pegiat sastra Ons Untoro berjudul “Kampus Biru Menolak Ayah” ini juga diisi dengan pembacaan sejumlah teks novel legendaris karya Ashadi Siregar Cintaku di Kampus Biru dan novel Menolak Ayah. Cintaku di Kampus Biru merupakan novel yang dia tulis setelah koran mingguan Sendi dibredel tahun 1972, dan Ashadi selaku penanggung jawab diadili dan dinyatakan bersalah.

Pembredelan oleh pemerintahan Orba itu karena koran ini dianggap menyebarkan kebencian (penerapan haatzai artikelen KUHP) terhadap Presiden Soeharto dan istrinya, Siti Hartinah Suharto. Ashadi pun merasa masa depan di bidang pers sudah tertutup. Pada saat yang sama Ashadi juga menjadi koresponden lepas majalah berita Tempo.

Dalam kepahitan itulah Ashadi membayangkan kehidupan kampus yang ideal sekaligus romantis. Maka dia menulis novel trilogi yang diterbitkan pada 1974 dan 1975: Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, dan Terminal Cinta Terakhir.

Kisah dalam novel Cintaku di Kampus Biru adalah tentang mahasiswa Fakultas Psikologi bernama Anton yang ceria, humoris, cerdas, gemar membaca buku, pandai merayu, dan – tentu saja — gemar berpacaran. Tetapi Anton juga sedang dihadapkan pada berbagai masalah dalam perkuliahannya. “Yang utama bukan cerita cintanya, tapi tentang dunia Yogyakarta yang terdiskripsikan di novel itu,” kata Ashadi. Novel ini difilmkan pada 1976 dengan judul yang sama oleh sutradara Ami Prijono. Pemainnya, antara lain, Roy Marten, Rae Sita, Yati Octavia, dan Farouk Afero.

Dalam perjalanannya nama Kampus Biru menjadi identik dengan Universitas Gadjah Mada. Ashadi menggunakan nama Kampus Biru untuk novel ini berdasarkan fakta bahwa sejak 1970-an, para aktivis mahasiswa perkotaan umumnya memakai celana jeans warna biru impor dari Amerika Serikat. Celana jeans pakaian mahal saat itu yang populer disebut sebagai celana koboi dan dilarang selama di zaman Orde Lama (Orla) yang anti Barat.

Bahkan sering tentara merazia anak muda bercelana jin dan menggunting kaki celana yang dipakai. Sikap anti barat dari rezim Orla itu lenyap bersamaan dengan tegaknya pemerintahan Orde Baru (Orba) yang berorientasi pada modal asing. Celana jeans yang biru itu menjadi mode pakaian mahasiswa di kampus UGM. Maka lahirlah frasa kampus biru yang menjadi judul novel Ashadi Siregar.

Di tengah kesibukannya sebagai akademisi di UGM, pria kelahiran Pematang Siantar 3 Juli 1945 ini terus menghasilkan karya fiksi dengan menerbitkan novel Sirkuit Kemelut (1976), disusul Frustrasi Puncak Gunung (1978). Setahun kemudian terbit novel Jentera Lepas (1979) dan Sunyi Nirmala sebanyak 334 halaman (1982).

Berbeda dengan karya novel sebelumnya yang bercorak pop, novel berjudul “Jentera Lepas” bertema politik, berupa kisah penderitaan korban kebencian masyarakat dengan tokoh utama seorang perempuan Jawa bernama Sinto yang bersuamikan aktivis buruh yang bergabung dengan Partai Komunis Indonesia. Nasib suaminya tidak diketahui setelah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September.

Kegiatan Ashadi menulis novel dalam perjalanannya menemukan kendala. Dia berhenti menulis fiksi karena menekuni kegiatan pelatihan jurnalistik di LP3Y (Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogyakarta), satu lembaga yang dia dirikan bersama sejumlah koleganya. Selain itu karirnya sebagai dosen terus berjalan hingga menjabat sebagai Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi (1996 – 1999) hingga pensiun dari Kampus Biru pada 2010.■ Raihul Fadjri

Komentar