
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Kucing dan anjing merupakan hewan piaraan yang dekat dengan kehidupan manusia. Tanpa dikurung, kucing dan anjing bebas berkeliaran di dalam rumah dan di luar rumah. Tidak heran jika muncul perlindungan hukum terhadap dua hewan ini yang melarang orang memperdagangkan daging anjing dan kucing untuk dikonsumsi. Sebanyak 116 kabupaten, kota, dan provinsi mengeluarkan peraturan yang melarang pedagangan daging anjing dan kucing, meski ada saja restoran yang secara khusus menyediakan menu daging anjing.
Narasi inilah yang diangkat pelukis Pram Jasmine lewat karya lukis yang menampilkan sosok anjing berbulu hitam dan putih sedang duduk santai dengan lidah menjulur. Sementara di bagian bawah kanvas tertulis teks: Dogs Are Not Food.
Karya lukis ini satu dari 37 karya lukis pada pameran bertajuk Tail – Wagging Tales, Behind Every Wag is a Story, di ruang pamer Le Gareca Art Gallery, Yogyakarta, 17 Januari – 17 Februari 2026. Pameran ini menarasikan hubungan manusia dengan hewan piaraannya, ketika seekor anjing menyambut kedatangan pemiliknya di ambang pintu dengan kibasan ekor yang riuh. “Kita sering kali menyederhanakannya sebagai ekspresi kegembiraan belaka. Namun di balik ritme dan kecepatan gerak itu tersimpan narasi yang komplek, mulai dari rasa penasaran yang mendalam, ketegangan yang tersembunyi, hingga harapan akan perlakuan rasa kasih sayang,” tulis Le Gareca Art Gallery dalam teks kuratorial.
Dari teks kuratorial pameran ini muncul karya dengan eksplorasi visual dan narasi yang menarik. Ada sejumlah karya yang memotret sosok hewan dengan polah yang melekat pada dirinya. Karya lukis Yosef Salomon menampilkan potret wajah anjing berbulu hitam dan putih sedang mendongakkan kepala dengan citraan sepotong tulang melayang di depannya (Bukan Sembarang Asu, 2026). Ada juga karya lukis Ludwina Restanti berupa citraan bentuk kepala anjing berbulu hitam dan putih menjulurkan lidahnya dikelilingi cabang dan ranting pohon dengan sejumlah sosok anjing berbulu putih bertengger di atasnya (Kancaku Asu Kabeh, 2026). Atau karya lukis Hariyatmoko lewat sosok kucing berbulu hitam dengan gagah duduk di kursi dengan tulisan di atasnya: I’m The Boss (You Happy I’m Happy, 2026).
Kehangatan sosok kucing dinarasikan Vani Hidayatur Rahman lewat sosok kucing berbulu hitam-putih dalam posisi terbaring tidur memeluk anaknya dalam kehangatan (Affection #5, 2025).
Relasi antara hewan dengan manusia dieksplorasi Michael Santosa lewat seekor anjing sedang merebahkan tubuhnya menikmati kehangatan rambut seorang pria (Rent – Free, 2025). Adapun Sugiyanto menghadirkan citraan figur bak sedang terlelap di atas punggung seekor anjing (Penyandar Lelah, 2026). Kebahagiaan anak-anak bermain di atas punggung seekor hewan berkaki empat juga muncul pada karya lukis Ekwan Marianto yang khas (Bermain Canda dan Tawa, 2025).
Energi berontak terhadap kekangan sebagai hewan piaraan diekspresikan Asita Kaladewa lewat citraan sosok anjing yang sedang berusaha membebaskan diri dari seutas tali yang mengikat lehernya (Terkekang, 2026).
Suasana misteri dibangun Aryhox lewat karya gambar dengan menggunakan tinta cina dalam warna monokrom yang menggambarkan seekor kucing tampak belakang sedang duduk melihat bayangan sosok figur di ujung ruangan yang temaram (Aku Pernah Makan di Sini, 2026).
Karya lukis dan gambar pada pameran ini mencoba membongkar dan menginterpretasikan momen non verbal dunia hewan piaraan ke dalam bentuk visual. “Seringkali kita memperlakukan hewan piaraan sebagai anggota keluarga, namun kita lupa bahwa mereka adalah induvidu dengan dunia dan memori yang tidak bisa mereka sampaikan lewat kata-kata.”■ Raihul Fadjri


















Komentar