
JAKARTA, dialoguejakarta.com – Empat perempuan perupa — seorang perupa dari Indonesia, tiga perupa dari Thailand — memamerkan karya mereka lewat lewat pameran bertajuk Trinket Philosophy di Ara Contemporary, Jakarta,
15 Agustus – 13 September 2026. Trinket dimaknai sebagai pernak-pernik yang merupakan penanda identitas unik dan narasi mikro pemiliknya.
Trinket Philosophy adalah ajakan untuk mempertimbangkan kembali berbagai bentuk hal-hal kecil yang penting. “Benda-benda kecil, momen-momen, atau pikiran-pikiran yang menceritakan kisah dan momen berharga, hal-hal yang dapat berkembang menjadi kisah sendiri dan menopang gambaran yang lebih besar,” ujar Pearamon Tulavardhana, kurator pameran ini.
Narasi inilah yang dieksplorasi peserta pameran. Miranda Mazuki (1993), satu-satunya peserta asal Indonesia, menghadirkan karya berupa aksesoris kalung dengan liontin dengan citraan bentuk wajah manusia di tengahnya (Thy Comb, 2026).
Miranda juga membuat bingkai lukisan wajah bocil berupa bentuk kelopak bunga matahari dari bahan perunggu seolah menggambarkan narasi tentang firasat baik terhadap masa depan sang anak (Premonition, 2026).
Adapun Natnaree Kosum (1994) menggunakan materi keramik untuk membuat karya tiga dimensi dengan narasi lingkungan berupa citraan bentuk pohon kelapa dalam posisi horizontal meliuk di atas topangan bentuk batu bak suasana di tepi pantai (Resort, 2026). Natnaree juga mengeksplorasi narasi lingkungan berupa citraan bentuk gunung dengan goresan bentuk pepohonan di badannya berhiaskan jejeran bentuk cantolan dalam warna kuning emas menapak dari kaki hingga puncak gunung (Soft Core#2, 2026).
Narasi lingkungan juga dieksplorasi Kanokwan Sutthang (1997) lewat karya gambar yang menangkap gestur hamparan tanaman padi saat tertiup angin kencang (Wind-Laid Rice, 2026).
Perupa Tunlaya Dunnavatanachit, (1994) bak menutup pernak-pernik eksplorasi kebentukan lewat bentuk abstrak geometris berupa garis lingkaran yang saling bersilang bak struktur bangunan hubungan interaktif (I’m Here If You Need Me, 2025).
Pernak-pernik dalam berbagai bentuk dan narasi pada pameran ini menjadi penanda identitas unik dan narasi mikro pemiliknya.■ Raihul Fadjri

















Komentar