Keberhasilan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Diungkap Lewat Karya Seni Rupa

Dedi Mulyadi disetarakan dengan Prabu Siliwangi lewat narasi berpotensi maju ke pemilihan Presiden pada 2029 yang didukung hasil survei.

 

Karya lukis Tukiyan (Prabu KDM, 2026). Foto: Dok. Galeri Panyawangan/ dialoguejakarta.com.

Padalarang, dialoguejakarta.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang dikenal dengan akronim KDM kembali menjadi pemberitaan media ketika upacara peringatan HUT ke-81 RI di Halaman Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Senin 17 Agustus 2026. Sang gubernur yang biasa memakai ikat kepala berwarna putih khas Sunda (iket Sunda) ini memberikan tempat istimewa berupa deretan kursi VIP khusus untuk petugas kebersihan, pengemudi ojek online (ojol), dan petani yang diundang. Dedi mengatakan, penempatan warga sipil di area VIP merupakan bentuk penghargaan kepada masyarakat.

Pada hari yang sama pukul 15.00, Dedi Mulyadi yang diwakili Dr. Iendra Sofyan, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, menghadiri pembukaan pameran seni rupa bertajuk “Pameran Seni Rupa KDM Kepemimpinan Dedikasi Masa Depan” di Galeri Panyawangan, Padalarang, Jawa Barat, 17 – 30 Agustus 2026.

“Dalam dinamika kerja Bapak Dedi Mulyadi, kita semua menyaksikan sebuah corak kepemimpinan yang unik. Perpaduan antara kearifan lokal yang filosofis dan gerak progresif yang menyentuh akar rumput masyarakat Jawa Barat. Itulah mengapa pameran ini kami beri tajuk “KDM”,” ujar Yuli Riban, penyelenggara pameran.

Judul pameran KDM ini tidak cuma mengulik ihwal kepemimpinan secara umum, tapi juga secara spesifik mengarah pada kepemimpinan Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat. Jadi tidak heran jika sembilan karya lukis dari 38 karya pada pameran ini mengangkat narasi visual tentang sosok
Bapak Aing (bapak saya), panggilan akrab Dedi Mulyady.

Perupa mengeksplorasi narasi keberhasilan kepemimpinan Dedi Mulyadi di Jawa Barat dari sektor pangan lewat karya lukis Prasetya Gautama (Panen dan Harapan, 2026), hingga kerusakan lingkungan akibat penebangan hutan lewat karya lukis Epi Gunawan (Refleksi Introspeksi, 2026).

Narasi keberhasilan Dedi Mulyadi diungkap pelukis Tukiyan Wempi (1960) yang mengibaratkan sosok Dedi Mulyadi sebagai Prabu Siliwangi dalam kepemimpinannya lewat citraan sosok Dedi Mulyadi dengan wajah tersenyum mengenakan mahkota dan pakaian bak seorang raja di depan bangunan utama kantor Gubernur Jawa Barat, Gedung Sate. Dedi didampingi citraan seekor harimau putih yang dianggap sebagai simbol pengawal Prabu Siliwangi yang sering disebut sebagai Maung Bodas (Prabu KDM, 2026).

Masih dengan narasi semangat yang sama, Abdurahman Abro (1956) menarasikan keberhasilan program pembangunan fisik dan non fisik KDM sebagai gubernur lewat penampilan sosok KDM menunggang kuda dengan satu tangannya menunjuk ke langit di depan bangunan kantor Gubernur Jawa Barat dan lanskap rumah pedesaan (Spirit Dangiang Ki Sunda, 2026).

Narasi keberhasilan KDM sebagai gubernur juga menghasilkan gagasan pengusungan KDM untuk pemilihan Presiden 2029 sebagai hasil survei lembaga survei SMRC dan Indikator Politik. Perupa Agusugih menangkap realitas survei ini lewat potret sosok KDM dengan wajah serius, tanpa mengenakan baju dan celana berhiaskan bendera merah putih dengan latar belakang citraan perumahan kumuh (Beta Juga Cinta KDM, 2026). “Dari Sabang sampai Merauke masyarakat memanggilnya Bapa Aing, bukan karena ia milik satu daerah, tapi karena ketulusanya membuat semua merasa memilikinya,” ujar Agusugih.

Senada dengan Agusugih, perupa Dede A. Sofyan mendukung aspirasi publik lewat doa agar Dedi Mulyadi bisa melanjutkan keberhasilannya memimpin Jawa Barat ke tingkat nasional lewat potret wajah lansia berkumis dan jenggot yang memutih berhiaskan berbagai warna dengan gestur sedang berdoa (Doa Rakyat Indonesia, 2026). Bagi Dede, kakek tua yang sedang berdoa adalah simbol yang mewakili rakyat Indonesia yang menginginkan perubahan lebih baik di masa depan. “Ekspresi kakek tua yang sedang berdoa sambil meneteskan air mata adalah simbol kekuatan harapan rakyat Indonesia yang menginginkan Dedi Mulyadi menjadi pemimpin bangsa ini,” ujar Dede. “Kepemimpinan dan dedikasi yang baik Dedi Mulyadi tidak hanya dikenal oleh masyarakat Jawa Barat saja, tapi seluruh masyarakat Indonesia.”

Karya lukis yang menarasikan kepemimpinan Dedi Mulyadi dan popularitasnya memang dengan kuat menepikan dari perhatian karya lukis lain, meski sejumlah karya lukis lainnya secara visual juga menarik, seperti karya Handoyo JJ bercorak surealis (Jahiliah di Balik Kesalehan, 2026). Bagi kurator pameran, Mayek Prayitno, karya lukis dalam pameran ini tidak harus dipahami sebagai ilustrasi mengenai seorang pemimpin. “Tapi sebagai upaya membaca kembali hubungan antara
manusia, kekuasaan, tanggung jawab, dan harapan terhadap masa depan,” ujar Mayek.■ Raihul Fadjri

Komentar