Yogyakarta – dialoguejakarta.com – Eni Herawati (59) terlihat santai saat menorehkan pinsil berwarna di atas kertas berupa bentuk jagung di dalam ruang pamer Bentara Budaya, Yogyakarta, Kamis 17 Juli 2025. Yang menarik, dia sedang mewarnai bentuk biji jagung, tapi tidak dengan berwarna kuning. “Ini jagung ungu,” ujar lulusan Disain Interior FSRD Institut Seni Indonesia, Yogyakarta ini.
Jagung ungu (zea mays) berasal dari Peru, Amerika Selatan dan banyak ditemukan di Pegunungan Andes dengan nama Maiz morado dalam Bahasa Spanyol. Di Indonesia penampakan jagung ungu masih jarang diketahui karena tidak dibudidayakan secara luas.
Eni Herawati adalah salah satu dari 32 seniman yang memajang 65 karya lukis pada pameran seni botani bertajuk Ragam Flora Indonesia 5, Khazanah Alam Nusantara yang berlangsung 12 – 19 Juli 2025.
Pameran ini menyoroti kekayaan flora Indonesia dan keanekaragaman tumbuhan berguna dari hutan tropis hingga pesisir pantai mencakup tumbuhan pangan, rempah, sandang, papan, obat-obatan, hingga sumber energi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan budaya bangsa Indonesia.
Para seniman memilih, menyisihkan dan menonjolkan bagian dari nentuk tanaman yang menarik untuk dieksplorasi dengan membiarkan bagian latar belakang putih kosong media kertas.
“Tumbuhan dipisahkan dari lingungannya, dibersihkan dari kotoran, diiris, dipotong untuk diamati, diputar-putar untuk komposisi, dan direkayasa supaya tampak dengan karakter tertentu yang diinginkan,” ujar Kurniawan Adi Saputra, ujar kurator pameran ini.
Hasilnya, ada citraan bunga anggrek dalam warna kuning yang terasa menyegarkan, dengan susunan bentuk bintik merah di tengahnya dan helai daun dengan sapuan cat air dalam warna hijau di atas media kertas (Wayan Nanendra, Antara Penyembuh Raga atau Pelipur Jiwa, 2024).
“Bagi saya tanaman ini bukan sekadar tanaman hias, tapi juga sebagai salah satu ladang nafkah, dan tentu saja sebagai stress-release saya setelah penat seharian bekerja dan beraktivitas,” tulis Wayan Nanendra pada teks keterangan karya lukisnya.
Ada juga citraan bentuk bunga Kecombrang (Etlingera hemisphaerica) hasil polesan cat air di atas kertas berupa bentuk bunga bulat dalam warna merah menyala dengan kelopak kecil di tengahnya dan beberapa kelopak merah dan kuning di keliling dalamnya. Sementara batang bunga yang tegak menopang terlihat sangat cantik dan kuat (Alexandrial Prietama, Always Inspairing, Keconbrang, 2025).
Bunga tumbuhan Kecombrang ini sebagai bahan untuk sambal di Bali. Adapun batangnya bisa dipakai untuk bahan dasar pembuatan kertas. Yang menarik dari segi bentuk, diantara lembar daun berukuran besar dalam warna hijau seperti posisi melindungi calon daun, berupa batang hijau kemerahan dengan lapisan seolah saling merangkul. “Terasa lucu,” ujar Alexandrial Prietama.
Ada juga tanaman yang punya kemampuan menggerakkan dirinya sebagaimana manusia seperti yang dilakukan bunga Seroja (Nelumbo nucifera). Tumbuhan ini hidup di lumpur. Bunganya berukuran besar sekitar 20 sentimeter berwarna merah muda dan terlihat cantik. Tapi usianya hanya bertahan 2 – 3 hari, setelah itu kelopaknya rontok (Kurus Tinggi Cantik, 2024).
Bunga Seroja punya kebiasaan unik yang disebut niktivasti, yaitu kemampuan kelopaknya menutup dan membuka kembali sesuai waktu dan kondisi suhu udara. Pada malam hari saat suhu udara dingin bunga Seroja akan menutup untuk melindungi dirinya dari suhu rendah dan kelembaban tinggi.
Saat matahari terbit dengan suhu meningkat, bunga ini kembali membuka kelopaknya untuk menunjukkan keindahannya. Seroja punya tangkai panjang yang menjulang di permuksan air. “Itulah sebabnya saya memberi judul lukisan saya: Kurus, Tinggi dan Cantik,” ujar Henny Herawati, pelukis bunga Seroja ini.
Keindahan tananan berkelindan dengan manfaatnya untuk kesehatan manusia, seperti tanaman Suweg (Amorphophallus paeoniifolius), tanaman umbi-umbian yang umum dijumpai di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tanaman yang dilukis Prima Milawati ini punya komposisi warna yang kuat berupa warna merah, ungu, kuning dan hijau (Miracolous Destiny, cat air, 2025). “Bentuknya cantik, seksi, sekaligus misterius,” ujar Prima yang menemukan tanaman Suweg di rumah tetangganya.
Tanaman ini dikenal dengan umbinya yang bisa dimakan dan juga bunganya yang unik, kadang disebut sebagai “bunga bangkai” karena mengeluarkan bau tidak sedap saat mekar untuk menarik serangga penyerbuk.
Bunga suweg termasuk bunga majemuk dengan struktur khas talas-talasan, yaitu bunga tumbuh pada tongkol yang dilindungi seludang bunga. Bunga ini mengeluarkan bau tidak sedap saat mekar untuk menarik serangga penyerbuk.
Umbi Suweg mengandung nutrisi dan serat tinggi, sehingga baik untuk melancarkan pencernaan. Akarnya yang masih segar digunakan sebagai obat batuk dan akarnya yang dikeringkan bisa untuk mengobati wazir dan disentri. “Melukis botani semakin baik jika berhadapan langsung dengan tumbuhannya,” kata Prima Milawati.
Seni botani perpaduan seni rupa dan ilmu botani menjadi sarana efektif untuk menyebarkan pengetahuan, menumbuhkan kesadaran dan cinta terhadap keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya flora.
Selain untuk mengekspresikan kecintaan terhadap tumbuhan lewat seni rupa, seni botani yang merupakan perpaduan seni rupa dan ilmu botani menjadi sarana efektif untuk menyebarkan pengetahuan, menumbuhkan kesadaran dan cinta terhadap keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya flora.
“Seni botani sebenarnya bukan sekadar teknik melukis, melainkan cara tertentu untuk memandang dan menghadirkan mahluk lain mengikuti hasrat manusia untuk mengetahui, menikmati keindahan dan memanfaatkan,” kata Kurniawan Adi Saputra.
Indonesian Society of Botanical Artist yang merupakan wadah bagi komunitas pecinta botani dan pelaku seni botani di Indonesia yang didirikan pada 2017 oleh Eunika Nugroho dan Jenny A. Kartawinata. ■Raihul Fadjri


















Komentar