
Bandung, dialoguejakarta.com – Seni jalanan (street art) yang biasanya menuangkan hasrat estetiknya di atas dinding bangunan di ruang publik, kini malah masuk ke ruang pameran sebagaimana karya seni rupa pada umumnya. Seniman jalanan, Arman Jamparing memajang karyanya pada pameran bertajuk Act Move di Orbital Dago, Bandung, 29 Juli – 23 Agustus 2026.
Praktek seni jalanan Arman bersama kawannya, Dadan Januar, berawal pada periode tahun 2000-an lewat ‘nama kanvas’ Act and Move. Frasa Act and Move seolah mewakili praktek seni jalanan mereka yang terus berpindah dari satu dinding bangunan ke dinding yang lain. Keduanya menghadirkan kerja artistik bertema sosial melalui aksi di jalanan dan ruang publik.
“Teks protes yang provokatif, respons atas peristiwa, serta upaya memunculkan isu menjadi bahasa utama praktik ini, sebagai tindakan artistik yang berhadapan langsung dengan situasi sosial dan politik,” ujar Rifky Effendy, kurator pameran ini.
Karya Act Move memperlihatkan bahasa visual yang bekerja melalui percampuran citraan, teks, reproduksi, dan benda sehari-hari. Potongan gambar yang diambil dari media massa, ilustrasi, tipografi, stiker, serta teknik whitepaste disusun sebagai benturan visual.
Tehnik whitepaste sangat populer dalam praktik seni jalanan (street art) atau graffiti dengan cat semprot aeorsol, dengan menempel kolase dari kertas fotokopi atau reproduksi memakai lem putih yang diaplikasikan di atas
permukaan seperti kanvas, kayu, dinding, keramik, atau kertas tebal.
Act Move menghadirkan karya seri kolase digital dengan membangun ruang visual yang padat, retak, dan tidak stabil. Citraan arsip, tubuh manusia, wajah, sidik jari, huruf, benda sehari-hari, mesin, lanskap, serta potongan media disusun sebagai benturan. Warna merah, hitam, putih, dan aksen biru atau kuning menjadi penanda tegangan: antara hasrat dan ancaman, keindahan dan kekerasan, serta kehidupan personal dan sistem yang mengitarinya.
Pada sejumlah karya, wajah manusia digantikan dengan bibir, sidik jari, api, masker, atau mesin. Pergeseran ini membuat identitas tampil sebagai
sesuatu yang terus dibentuk, diawasi, disensor, dan diperebutkan.
Sejumlah figur mengenakan jas lengkap dengan kepala berbentuk mulut seperti sedang berteriak, sementara ada wajah dengan plester merah menyilang mulut agar tidak bersuara (Pesta Para Pencuri, 2026).
Karya lain mempertemukan lanskap alam dengan mesin konstruksi, cerobong
industri, dan tubuh yang terfragmentasi untuk menggambarkan kerusakan lingkungan akibat industrialisasi. Alat berat backhoe tidak hanya menjadi simbol pembangunan, tapi juga menghadirkan pertanyaan tentang penguasaan ruang, kerusakan ekologis, dan harga yang harus dibayar oleh manusia maupun makhluk hidup (Indonesia Hari Ini, 2026).
Act Move juga menyoroti kondisi masyarakat yang rentan terhadap tindak kriminal yang setiap hari muncul lewat pemberitaan media massa yang muncul lewat citraan semburan paku yang siap melukai siapapun, bentangan kawat berduri, pita kuning bertuliskan: do not cross, dengan korban anak-anak (Estetika Kekerasan, 2026).
Pada pameran ini Act Move memajang satu karya lukis bercorak surealis di atas kanvas berupa citraan sosok jenderal militer fasis dengan seragam hijau sembari memegang topi pet dan setangkai bunga, sementara bagian kepala berupa perangkat backhoe yang siap mengeruk lingkungan apa saja (Kemenangan dalam Kehancuran, 2026).
Act Move juga berkolaborasi dengan delapan perupa. “Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa ACT MOVE bukan bentuk yang tunggal, melainkan ruang bergerak bagi respons spontan,
pertukaran gagasan, dan tindakan di ruang publik,” ujar Rifky Effendy.
Salah satu kolaborasi Act Move bersama seniman patung Iwonk dengan merespon karya patung Iwonk berupa tubuh manusia melayang yang dibentuk dari material plastik daur ulang. Material bekas tidak disamarkan, melainkan dibiarkan memperlihatkan jejak pecahan, lapisan, dan tekstur kasarnya. Citraan tubuh ini tampak seperti figur yang sedang bergerak, terlempar, atau berusaha menembus ruang—sebuah bentuk yang rapuh sekaligus bertahan.
Act Move merespon patung itu melalui bahasa visual urban berupa potongan teks, simbol, stiker, dan citraan reproduksi yang menempel pada permukaan tubuh. Kolaborasi ini mempertemukan persoalan limbah, konsumsi, dan kehidupan kota dengan gagasan tentang tubuh yang terus bergerak di tengah tekanan sosial. Plastik yang semula dibuang berubah menjadi figur yang menggantung di ruang pamer, membawa pesan bahwa sisa-sisa kehidupan sehari-hari pun
dapat menjadi medium kritik, ingatan, dan kemungkinan baru.
“ACT MOVE pada akhirnya merupakan ajakan untuk tidak tinggal diam, membaca kota, merespons keadaan, membagikan gagasan, dan mengubah jejak sehari-hari menjadi kemungkinan baru,” ujar Rifky Effendy.■ Raihul Fadjri
















Komentar