Perjuangan Kolektif Perupa Hadapi Tantangan Pentas Seni Rupa

Empat sanggar seni rupa hadirkan karya perupa pelopor dari dekade 1950-an hingga dekade 2000-an.

Sejarah & Budaya105 Dilihat

Karya lukis pada Pameran Empat Sanggar. Foto: Raihul Fadjri/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Mooi Indie (Hindia Molek) pernah suatu ketika menjadi gaya seni lukis yang berkembang di Hindia Belanda (Indonesia) pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Aliran ini menampilkan keindahan alam, pemandangan yang elok, serta eksotisme kehidupan masyarakat Nusantara secara romantis dan damai.

Perubahan besar terjadi pada periode berikutnya ketika nasionalisme menjadi bagian dari praktek seni dan budaya yang disebut periode Perintisan dan Revolusi (1945–1950-an), dilajut dengan munculnya periode Pasca Pemberontakan dan Polarisasi Politik (1960-an), serta periode Transisi dan Komunitas Modern (1970-an–sekarang).

Perjalanan tiga periode yang masih tersisa jejak warnanya inilah yang ditampilkan pada pameran bertajuk Riwayat yang Menyebar: Pameran Empat Sanggar di Rumah DAS Yogyakarta, 1-14 Agustus 2026. “Pembabakan perkembangan seni rupa Indonesia dari masa ke masa ditopang oleh kelompok atau organisasi seniman perupa yang secara fundamental membentuk sejarah,” ujar Alex Luthfie, kurator pameran ini.

Di tengah perjalanan budaya itu muncul Sanggar Pelukis Indonesia Muda (PIM) yang hadir pada 1952–1954 di Yogyakarta. Didirikan oleh perupa antara lain Widayat dan Gregorius Sidharta bersama rekan-rekan angkatan pertama ASRI Yogyakarta, yakni Sayoga, Murtihadi, Sukandar, Suhendra, Rais Rayan, dan Suwaji, PIM menyemai gagasan kesenian yang inklusif.

Foto: Raihul Fadjri/ dialoguejakarta.com

Gregorius Sidharta (1932-2006) hadir lewat karya lukis berupa potret dua perempuan bercorak impresionis dalam komposisi warna gelap (Two Girls, 1957). Ada juga karya lukis Abdul Kadir berupa potret perempuan sedang menyisir rambut (Sisir, 1968), atau karya lukis dekoratif Widayat (1919-2002) berupa bentuk tumbuhan dan burung (Fantasi IV, 1971). Adapun Rais Rayan menampilkan sosok figur bertubuh merah dengan gestur gerak penuh tenaga menyeret gerobak penuh sampah (Romusha, 1991).

Rais Rayan yang kini berusia 94 tahun adalah tokoh sentral dalam jejaring sejarah ini. Selaku sekretaris PIM, Rais membawa benih seni itu keluar Yogyakarta pada 1957 dengan mendirikan PIM cabang Kediri, yang kemudian bertransformasi menjadi Sanggar 64 Kediri pada tahun 1964 di Jalan Patiunus No. 30. Kelompok Sanggar 64 diwakili karya lukis Dyan Anggraini berupa sosok figur bertopeng dengan selendang merah di tubuhnya dalam gestur gerakan tari (Tari Topeng, 1988).

Usai purna tugas, Rais menetap kembali di Yogyakarta untuk membina perupa muda di Sanggar Suwung dengan merangkul anak-anak dan difabel.
Sanggar Suwung lahir dari inisiatif mahasiswa Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) pada 1990 yang mulanya bernama Judex.

Pada 1992, mereka pindah ke Surokarsan dan berganti nama menjadi Suwung (Sisa Uang untuk Nukar Gaji). Sanggar Suwung hidup dan tumbuh tidak sekadar melatih teknik melukis, melainkan merangkul anak-anak dan penyandang disabilitas untuk tumbuh bersama.

Kelompok Sanggar Suwung diwakili karya lukis Mulato Suprayogi berupa citraan bentuk seonggok lahan dengan sebatang pohon yang tersisa di tengah hamparan permukiman penduduk (Bertahan #1, 2025).

Jejak Rais Rayan yang lahir di Palembang pada 1932 juga memantik lahirnya Sanggar Bidar Sriwijaya pada 1998 di Yogyakarta, dipimpin oleh Eduard atau yang lebih karib dengan nama Edo Pop. Pada pameran ini kelompok Sanggar Bidar Sriwijaya menghadirkan karya patung Neni Maria Ningsih berupa bentuk tiga figur perempuan duduk di atas balok kayu (Menunggu, 2011). Ada juga karya patung Komroden Haro berupa batu andesit yang dijepit besi (Gravitasi, 2026).

Bagi Alex Luthfie, pameran ini mengejawantahkan falsafah Jawa: urip iku urup. “Hubungan guru dan murid, proses pendampingan, serta dinamika kolektif antar-sanggar membuktikan bahwa bara seni rupa Indonesia dibesarkan oleh semangat kebersamaan yang terus menyebar dan tak pernah padam,” ujar Alex Luthfie.■ Raihul Fadjri

Komentar