
Jakarta, dialoguejakarta.com – Pelukis cat air Agus Budiyanto memilih tema tentang Oksigen dengan ide dasar untuk menyatakan ekspresi seni sebagai dan ibarat oksigen yang dibutuhkan bagi tiap manusia sibuk di kota besar. “Dinamika kota besar telah menghasilkan ruang hidup yang kian pengap, didorong percepatan rutinitas tindakan, didorong kebutuhan hidup untuk menjadi semakin nyaman dan memuaskan,” kata Agus.
Agus Budiyanto (1960) membuat sapuan kuas tebal dalam bentuk melengkung yang mengesankan benda berbobot ringan yang mengikuti gerak tiupan angin dalam komposisi warna hitam, coklat, biru dan merah. Sementara ada goresan garis-garis lurus dengan deretan bentuk huruf kapital (Oxygen #1, 2026).
Agus sering berbicara bahwa alam justru mengajarkan cara dan prinsip untuk hidup. Manusia yang memiliki ‘kepekaan alam’ tahu apa yang mesti dikerjakannya di siang hari hingga malam hari, sampai kemudian fajar datang kembali. “Pandangan semacam ini terus memberi saya inspirasi untuk mengerjakan ekspresi karya yang bersifat abstrak,” ujar pelukis otodidak ini. Meski, katanya, dia sebenarnya tidak bermaksud mengeksplorasi corak abstrak. “Saya hanya mengikuti aliran energi alam yang hidup dalam diri saya.”

Pada sejumlah karya lukisnya Agus menambahkan deretan bentuk huruf kapital dan bentuk angka. Di satu sisi bentuk huruf sejatinya mewakili elemen bentuk representasional, karena setiap huruf memiliki bentuk tertentu. Tapi, deretan bentuk huruf pada lukisan Agus tidak membangun makna tekstual yang menggambarkan imaji visual kebentukan, melainkan cenderung sebagai bagian dari ekspresi non representasional pada karya lukis cat airnya.
Kurator pameran ini, Rizki A. Zaelani, menduga tanda angka dan huruf itu, berkaitan dengan maksud Agus Budiyanto mengungkapkan tema persoalan hidup saat kini di kota besar yang terus disibukkan oleh kumpulan data dan angka, terwujud sebagai lautan informasi yang melimpah atau kumpulan hitungan statistik angka yang dianggap semakin menentukan nasib hidup seseorang.
Penikmat karya lukis cat air Agus tidak cuma menikmati komposisi beragam warna yang mengalir di atas lembaran kertas, tapi juga menikmati imajinasi visual lewat judul karya lukisnya yang memaparkan secara tekstual abstrasi bentuk representasional jendela berupa konstruksi garis vertikal dan horizontal yang menghasilkan bentuk persegi, dibingkai dalam warna coklat yang mengesankan warna materi kayu (Window of Dream, 2024).
Fenomena yang sama juga tampak pada karya lain berupa struktur bentuk abstrak yang mengesankan bentuk bagian depan perahu dalam komposisi warna merah, kuning dan hitam (Musik Dermaga, 2025).
Sejumlah pelukis bercorak abstrak menghindarkan benturan antara ekspresi visualnya dengan identifikasi karya lewat judul dengan tidak memberi judul pada karya lukis abstraknya.
Menurut Rizki A. Zaelani, gambaran bentuk representasional yang dikenali pada satu karya lukis berlaku sebagai obyek yang dinikmati, karena bisa dikenali dan disebutkan namanya oleh pengamat. Hal yang berbeda pada karya seni abstrak. Ekspresi seni abstrak justru menciptakan dan mengantarkan pengalaman seorang pengamat pada wujud kondisi pengalaman yang nyata dimana kategori subyek dan obyek tak lagi bisa dibedakan secara jelas dan tegas. “Dalam kondisi semacam itu seluruhnya berubah di mana posisi subyek dan obyek tak lagi bisa dipisahkan dengan jelas. Di situ ada dua kapasitas daya estetis yang belaku di dalamnya namun keduanya kemudian melebur menjadi kesatuan,” ujar Rizki.■ Raihul Fadjri

















Komentar