Perjalanan Panjang Garin Nugroho dalam Pentas Film Nasional

Pameran Archivepelago Jalan Persemaian Garin Nugroho 45 Tahun Merekam Indonesia merupakan upaya meringkas perjalanan intelektual dan kreatif Garin Nugroho.

 

Patung karya Garin Nugroho (Ibunda Setrika) pada pameran Archivepelago. Foto: Raihul Fadjri/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Kreator film Garin Nugroho menggelar pameran arsip menandakan 45 tahun perjalanan karirnya lewat pameran bertajuk “Archivepelago Jalan Persemaian Garin Nugroho 45 Tahun Merekam Indonesia”, di Galeri Bulaksumur, Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 25 Juni – 14 Juli 2026.

Dinding ruang Galeri Bulaksumur penuh dengan deretan arsip, baik berupa foto, poster, teks kutipan dan artefak yang dianggap memiliki relasi kuat dengan produksi film berupa karya tiga dimensi dan tentu saja karya film Garin Nugroho dalam kurun waktu 45 tahun.

Pada pameran ini Garin juga menghadirkan karya seni instalasi Entang Wiharso berupa enam patung figur dalam posisi berdiri dan 11 patung kepala sebagai properti film Opera Jawa (2006). Ada juga karya instalasi perupa S Teddy D berupa jejeran enam bentuk televisi dari bahan batu sebagai properti film Opera Jawa (2026). Garin juga memakai karya patungnya berupa bentuk tubuh perempuan dalam posisi telungkup dalam warna merah dan hitam yang ditopang konstruksi meja setrika dengan bentuk setrika di bagian atas tubuh (Ibu dan Setrika).

Pameran ini merupakan upaya meringkas perjalanan intelektual dan kreatif Garin Nugroho. Bagaimana Garin memandang dan dipandang oleh banyak pihak, dan bagaimana memosisikan dalam lanskap intelektual, estetik, artistik, dan kebudayaan Indonesia dan dunia.

“Pameran ini bertumpu dari kekayaan arsip yang ‘mempersoalkan’
keindahan lanskap berikut potensi kerusakannya; mengungkapkan kekayaan budaya berikut pengabaiaannya; merekam perubahan sosial berikut tegangan yang menyertainya, mengritik praktik politik berikut persoalan etika, regulasi, kapasitas, dan integritas yang seringkali diabaikan, dan lain yang riuh di negeri ini,” tulis Suwarno Wisetrotomo dalam teks kuratorial.

Selama 45 tahun karirnya di dunia film sebagai produser, sutradara, dan penulis skenario, Garin telah menghasilkan 28 film panjang, tiga film pendek, satu film televisi dan 16 film dokumenter. Garin juga menulis 14 judul buku, tujuh diantaranya tentang film.

Bentang waktu sepanjang 45 tahun (1980-2025) atau empat setengah dekade kiprah sinematek Garin Nugroho dimulai dari Dekade 1 (1980-1989; Dekade 2 (1990-1999); Dekade 3 (2000-2009); Dekade 4 (2010–2019); Setengah Dekade 5 (2020-).

Garin memulai karir sebagai pembuat film dokumenter (Tepuk Tangan, 1986) sebelum film cerita panjang pertamanya, Cinta dalam Sepotong Roti (1990) yang langsung meraih Film Terbaik di Festival Film Indonesia 1991. Adapun pada film terbarunya Garin sebagai sutradara (Siapa Dia, 2025).

Setelah tahun 1981-1983 Garin membuat film pendek dengan kamera 8mm dan 16 mm. “Langkah baru terjadi tahun 1984 berupa pekerjaan membuat dokumenter yang membawa saya berkeliling Indonesia dari satu pulau ke pulau lain,” ujar Garin, lulusan Fakultas Sinematografi Institut Kesenian Jakarta pada 1985 ini.

Garin mengibaratkan kerjanya bak peladang berpindah. “Mengelola ladang dari satu tempat ke tempat lain, alias membuat karya dari suatu wilayah ke wilayah budaya lainnya di negara kepulauan ini,” kata Garin yang juga kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia hingga selesai pada 1991.

Parjalanan berladang berpindah membawa Garin menemukan berbagai masalah seni budaya, sosial dan politik maupun perjumpaan dengan sejumlah tokoh. Dari bertemu tokoh Papua Merdeka, Matias Wenda, di tengah hutan, bertemu tokoh Aceh Merdeka di Biren sebelum perdamaian, hingga bertemu dan membuat karya dengan berbagai presiden dari Soeharto, Gus Dur, Megawati hingga Susilo Bambang Yudoyono dan BJ Habibie.

Karya film Garin menjelajah di berbagai festival film maupun seni pertunjukkan dan rupa, dari Festival Film Venice, Berlin, Cannes hingga Busan, dari Louis Vuitton Galeri di Perancis, Haus Der Kunst Munich hingga Esplanade, International 9 Teater Amsterdam maupun Melbourne Art Centre, serta Berlin radio Simponi Orkestra.

Film-film pra-Reformasi Garin, Surat untuk Bidadari (1994), Bulan Tertusuk Ilalang (1995), Daun di Atas Bantal (1998), Puisi Tak Terkuburkan (2000), adalah bangunan estetika yang paling konsisten dalam filmografi Indonesia pasca-Orde Baru.

Pada 1987, bahkan sebelum film panjang pertamanya selesai, Garin mendirikan Yayasan SET (Sains Estetika dan Teknologi), lembaga yang dirancang untuk menciptakan bahasa baru dan semangat penciptaan di luar jalur dominasi produksi komersial.

Dari SET inilah lahir beberapa film dokumenter awal Garin, Tepuk Tangan (1986), Menyuling Minyak (1988), Tanah Tantangan di Nusa Tenggara Timur (1989), yang mengandung benih dari seluruh estetikanya, berupa perhatian kepada yang tersisih, kepercayaan pada gambar sebagai argumen, dan keyakinan bahwa realitas sosial Indonesia terlalu kompleks untuk dinarasikan secara linear. “Film-film dokumenter ini adalah sekolah pribadinya, tempat ia mengasah mata dan menguji cara pandang sebelum membawa keduanya ke dalam film cerita,” ujar Fauzan Zidni, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia.

Yayasan SET adalah titik awal dari pola yang akan terus berulang sepanjang karier Garin. “Setiap kali ia melihat kekosongan dalam ekosistem perfilman Indonesia, ia tidak menunggu orang lain mengisinya,” kata Fauzan. SET hadir di era Orde Baru ketika ruang untuk film eksperimental dan independen nyaris tidak ada. Garin meresponsnya dengan membangun ruang alternatif.

Garin juga mendirikan Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada 2006 bersama komunitas film Yogyakarta sebagai respons terhadap ketiadaan ruang distribusi dan ekosistem. JAFF lahir di momentum yang tepat: beberapa tahun setelah Reformasi mulai mengendap menjadi kenyataan baru, ketika film Indonesia independen mulai bermunculan tapi belum punya infrastruktur yang memadai untuk tumbuh.

Dalam esainya tentang dua puluh tahun JAFF, Garin merumuskan tujuan festival dengan jernih: “The true purpose of a film festival is to strengthen and sustain the film ecosystem.” JAFF bukan sekadar agenda tahunan penayangan film, ia adalah mesin pembentukan kapasitas.

Tujuh peran yang ia identifikasi mencakup: pembentukan tenaga kerja profesional baru melalui kepanitiaan dan kuratorship; pusat pertukaran pengetahuan lewat workshop dan kuliah publik; transformasi Yogyakarta menjadi kota film; jaringan komunitas film nasional; platform bagi sinema independen yang tidak mendapat tempat di bioskop komersial; ruang temu antara profesional dan sineas muda; dan jembatan antara pembuat film dengan investor serta jaringan global.

Dampaknya nyata dan terukur. Yogyakarta, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai kota seni pertunjukan, musik, dan rupa, kini menjadi salah satu pusat produksi film Indonesia yang paling aktif. Teknisi, sinematografer, editor, penata musik, sutradara, dan perancang kostum dari Yogyakarta kini berkontribusi pada produksi film nasional. Ini adalah hasil dua dekade kerja kelembagaan yang sistematis.

JAFF juga melahirkan generasi kurator dan programer film yang kini memimpin festival dan lembaga kreatif di seluruh Indonesia, sebuah dampak kelembagaan yang melampaui Yogyakarta dan melampaui film itu sendiri.

Satu hal yang membedakan Garin dari hampir semua sineas Indonesia adalah kesediaannya untuk melampaui batas medium. “Film baginya bukan tujuan; ia adalah salah satu cara berbicara dalam sebuah percakapan yang lebih besar tentang kebudayaan, identitas, dan kemanusiaan,” ujar Fauzan. Karenanya, Garin juga mengerjakan seni pertunjukan dan instalasi visual, produksi panggung yang telah dipentaskan di Australia hingga Eropa. Setan Jawa (2016), misalnya, dirancang untuk diputar dengan iringan orkes gamelan hidup, sebuah karya yang tidak sepenuhnya bisa disebut film, tidak sepenuhnya pertunjukan, dan justru karena itu mengajukan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh keduanya secara terpisah. “Semua jalan tampaknya sudah pernah dirintis oleh Garin, dalam skalanya dengan kejelasan visi yang luar biasa.”

Bagi Garin, pameran arsip 45 tahun ini adalah jejak peta kecil perjalanan seorang peladang di negeri kepulauan yang penuh impian dan gejolak yang tidak pernah berhenti. “Sebuah kerja menumbuhkan karya, merawat namun juga persemaian tak henti bibit-bibit baru,” kata Garin Nugroho.■ Raihul Fadjri

Komentar