
Denpasar, dialoguejakarta.com – Pesta Kesenian Bali kembali digelar lewat Pameran Bali Kandarupa 2026 bertajuk Rna – Atman – Rta, di Taman Budaya Bali, Denpasar, 13 Juni – 11 Juli 2026. Rna – Atman – Rta (Derma Jiwa Daku) adalah frasa yang menyiratkan hubungan mendalam antara kesadaran jiwa,
tatanan kosmis, dan kewajiban manusia untuk mempersembahkan daya
hidupnya untuk kebajikan.
“Pameran Bali Kandarupa secara khusus didedikasikan sebagai ruang apresiasi seni rupa klasik dan tradisional Bali yang terbukti terus tumbuh dinamis melalui kreativitas baru yang berakar pada memori kultural agraris, imaji klasik, dan warisan teknik tradisi yang mumpuni,” ujar Wayan Kun Adnyana dan Warih Wisatsana, kurator pameran.
Karya lukis tradisional Bali dikenal dengan lanskap visual yang penuh citraan bentuk figur dalam ukuran relatif kecil dengan elemen dekoratif tradisional budaya Bali, dan mengeksplorasi bentuk surealis.
Pada pameran yang diikuti 108 perupa ini, cipta artistik bukan sekadar menghadirkan kisah atau simbol tradisional, melainkan juga memperlihatkan bagaimana dunia niskala (tidak kasat mata), mitologi, dan ritus Bali terus menjadi sumber tafsir atas kehidupan manusia hari ini.
Kecenderungan itu tampak pada karya I Wayan Rumantara dengan memakai tinta cina di atas kanvas dengan menghadirkan nuansa perjalanan jiwa lewat pendekatan visual yang tetap berpijak pada idiom klasik Bali, tapi terasa lebih lirih dan kontemplatif (Atma Prasangsa, 2025).
Sementara I Nyoman Suandi melalui karya lukis (Ngaben, 2026) atau I Ketut Priana (Kapri, 2026) lewat (Pengembalian Unsur- Unsur Panca Maha Bhuta/Ngaben, 2026) memperlihatkan ritual kematian bukan semata peristiwa adat, melainkan momentum pengembalian manusia kepada semesta. “Dalam karya seperti ini, upacara tidak lagi berhenti sebagai dokumentasi budaya, tetapi menjadi ruang refleksi filosofis tentang kefanaan, karma, dan perjalanan atma,” ujar Wayan Kun Adnyana.
Nama-nama lain seperti I Wayan Sugita (Amor Ing Acintya (2024), I Nyoman Sumendra (Nyegara Gunung, 2025), serta Ida Bagus Putu Padma (Menyatu dengan Sang Pencipta, 2026) memperlihatkan kecenderungan para perupa Kandarupa untuk terus menempatkan hubungan manusia, alam, dan ketuhanan sebagai pusat penciptaan artistik. Di sini tampak bahwa seni rupa tradisi Bali tidak kehilangan daya spiritualnya, justru menemukan bentuk baru dengan narasi situasi masa kini.
Simbol-simbol lama diolah kembali menjadi bahasa visual yang lebih personal, meditatif, bahkan kadang terasa ekologis dan eksistensial. Sementara itu, para perupa muda hadirkan energi eksploratif yang memperluas kemungkinan estetik Kandarupa. Karya ukiran kaca Kadek Rifkyandi Septyan (Takhta Buta, 226) menunjukkan bahwa tradisi Bali hari ini juga bergerak melalui pencarian medium dan bentuk baru.
Ketika karya seni lukis tradisional Bali penuh dengan keriuhan citraan bentuk figur dan elemen budaya visual Bali yang maksimal, karya tiga dimensi pada pameran ini justru lebih fokus pada citraan bentuk tunggal dari materi kayu dengan elemen visual tradisional Bali yang menimal. Ada sosok perempuan mengusung citraan bentuk udang di pundaknya dan bentuk ikan di kakinya (I Made Gara, Lomba Udang Lobster, 2024). Ada karya patung berupa sosok perempuan mengusung kendi di kepalanya sembari menggendong balita dan membelai anak lainnya (I Made Kania, Tugas Seorang Ibu, 2024).
Perupa I Nyoman Adirupa malah mengeksplorasi akar kayu Gintungan dengan bentuknya yang sudah mengering berhiaskan bentuk mirip kepala buaya yang memamerkan deretan gigi yang tajam menyembul dari akar kayu itu (Pelukan Akar Sayap Malam, 2025).
Karya patung I Gusti Made Lod yang mengikuti serat dan lekuk alami kayu lalu menghadirkannya sebagai figur organik yang menyiratkan bangkitnya energi Api Suci atau Kundalini dari kedalaman tubuh manusia (Api Suci, 2026).
Pada karya patung dan topeng, warisan teknik tradisi tetap dijaga, tapi diolah dengan pendekatan yang semakin personal. “Seniman tidak lagi semata menghadirkan bentuk yang harfiah dan deskriptif, melainkan mulai mengedepankan tafsir simbolik, suasana batin, serta permainan ruang yang lebih bebas,” ujar Wayan ‘Kun’ Adnyana.■ Raihul Fadjri



















Komentar