Dedemit Aktor Deforestasi Jadi Sasaran Kritik Perupa

Perupa Fatih Jagad Raya eksplorasi citraan figur-figur rakus yang merusak ekosistem hutan hujan tropis Indonesia.

 

Nusantara yang Tertusuk #1, 2026. Foto: dok. Orbital Dago/ dialoguejakarta.com

Bandung, dialoguejakarta.com – Masih ingat pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang tidak mempermasalahkan deforestasi dengan menggantinya menjadi perkebunan sawit. “Namanya kelapa sawit, ya pohon. Ada daunnya,” ujar Prabowo dalam pidatonya pada 30 Desember 2024. “Saya kira kedepannya kita harus tambah menanam kelapa sawit.”

Pernyataannya ini dikritisi perupa Fatih Jagad Raya lewat pameran tunggal bertajuk “Tanah Airku Banyak Dedemit” di Orbital Dago, 13 Juni – 12 Juli 2026. Fatih (Bandung, 2000) seorang seniman new media art dari Departemen Pendidikan Seni Rupa Fakultas Pendidikan Seni Rupa dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI).

Lewat isu Deforestasi, karya Fatih bergerak dalam wilayah kritik sosial-politik yang memanfaatkan metafora visual, ingatan kolektif, untuk membaca realitas Indonesia kontemporer. Deforestasi adalah penghilangan hutan secara permanen untuk penggunaan lain, seperti perkebunan, pertambangan, pembangunan infrastruktur, atau permukiman. Di Indonesia, isu ini menjadi perhatian besar karena negara ini memiliki salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar dan kaya keaneka-ragaman hayati.

Dedemit dalam gagasan Fatih dapat dibaca sebagai metafora terhadap elite sosial-politik. “Dedemit juga menjadi representasi manusia yang kehilangan moralitas: korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, oligarki, hingga budaya feodal yang terus hidup dalam sistem modern,” ujar Rifky “Goro” Effendy, kurator pameran ini.

Sembilan Dedemit, 2026.

Dedemit adalah sebutan untuk roh atau makhluk halus jahat yang dipercaya gemar mengganggu manusia. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa (demit), dan dalam budaya populer sering disamakan dengan setan, iblis, lelembut, atau hantu.

Pameran ini menyoroti wajah dedemit modern, bukan makhluk gaib penghuni gelap hutan-rimba, melainkan sosok yang hidup di tengah masyarakat: rakus, manipulatif, haus kuasa, dan tanpa nurani. “Menari-nari, berjoget di atas penderitaan,” kata Goro, panggilan akrab Rifky. Melalui karya kain tile, cetak video, dan cetak lentikular dengan simbol satir, Fatih mengajak pengunjung menertawakan sekaligus mengkritisi
realitas sosial-politik yang semakin absurd.

Sosok utama dalam karya Fatih berupa citraan figur bertopeng dengan tulisan Sunda berwarna merah, berjas hitam dan berdasi merah sering muncul untuk menyimbolkan kekuasaan seperti tokoh Cakil dalam pewayangan dengan gestur seperti kesurupan.

Fatih membuat sejumlah karya dengan teknik cetak seri lenticular (Metamorfosis Tanah Air, 2026). Cetak lenticular adalah pencetakan yang memakai lembaran plastik dengan banyak lensa kecil, sehingga membuat gambar tampak bergerak, berubah, atau bahkan terlihat tiga dimensi saat dilihat dari sudut berbeda.

Menurut Goro, sosok yang dibuat Fatih mengacu kepada gaya performance art yang dilakukan sang ayah, sekaligus sosok idolanya, seniman Isa Perkasa. Ada juga sosok manusia yang sekujur tubuhnya seperti dibalut perban atau kain putih, sehingga identitas dan ekspresi wajah tidak terlihat. Bentuk yang mengacu kepada performans sang ayah itu, merepresentasikan tokoh protagonis dengan gerakan seperti ritual, mistis, atau trans yang sering diasosiasikan dengan seni Reak dalam seni tradisi Sunda.

Karya cetak lain sangat kuat sebagai kritik sosial dan politik berupa sejumlah figur di meja panjang seperti suasana pertemuan para elite atau jamuan kekuasaan dengan nuansa kelam dan hitam seperti arang. Wajah mereka ditutupi kain putih dengan tulisan berwarna merah, sementara di bawah
meja berserakan tengkorak manusia (Hidangan Para Buta, 2026). Karya ini dengan pendekatan surealis dan simbolik yang sering dipakai dalam karya Fatih berupa figur manusia formal berpakaian jas, suasana distopia, serta kritik terhadap relasi kuasa dan ingatan kolektif rakyat. “Kritik sosial-politik dalam karya Fatih Jagad Raya dapat dipahami sebagai upaya membongkar realitas yang sering disamarkan oleh bahasa kekuasaan,” ujar Goro.

Fatih juga membuat karya animasi tiga dimensi dengan narasi penghancuran lingkungan lewat industrialisasi berupa sederetan orang mengenakan jas lengkap mengacungkan mesin pemotong pohon dengan latar belakang deretan menara pabrik (Sembilan Dedemit, 2026).

Menurut Goro, kritik sosial-politik dalam karya Fatih Jagad Raya dapat dipahami sebagai upaya membongkar realitas yang sering disamarkan oleh bahasa kekuasaan. “Seni menjadi ruang untuk mengingat, mempertanyakan, dan melawan—bahwa di tengah tanah air yang kaya dan indah, masih banyak dedemit yang hidup di balik wajah manusia,” kata Rifky “Goro” Effendy .■ Raihul Fadjri

Komentar