
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Atmosfir seni rupa Indonesia saat ini dipenuhi deretan jadwal penyelenggaraan pameran bersama dengan jumlah peserta mencapai puluhan perupa. Pameran itu biasanya tanpa menyodorkan tema yang spesifik, sehingga karya seni rupa dengan narasi apa saja bisa masuk ke ruang pameran dengan tahun pembuatan karya beberapa tahun sebelum pameran digelar.
Di tengah riuh-rendah pameran seni rupa semacam itu, berlangsung pameran bersama dengan mengusung tema yang spesifik, pameran bertajuk Airlangga melibatkan 19 perupa berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta, 21 – 30 Desember 2025.
Pameran ini lebih punya misi visual artistik tinimbang pameran keroyokan yang hanya mementingkan pasar. Dengan mengulik tema pameran, diharapkan peserta pameran menggunakan kemampuan artistiknya mengolah narasi pameran.
Adapun pilihan terhadap narasi Airlangga adalah sebagai refleksi dari praktek politik yang damai seperti yang diharapkan publik terhadap perilaku politisi. “Usaha merangkul semua golongan dan kepentingan masyarakat dilakukan demi terselenggaranya pemerintahan,” ujar Hermanu, kurator pameran ini.
Raja Airlangga adalah pendiri dan raja satu-satunya Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur, yang membagi kerajaannya menjadi Panjalu (Kediri) dan Janggala di akhir masa pemerintahannya. Dia berhasil menyatukan kembali wilayah Kerajaan Medang yang pecah dan memimpin pada sekitar tahun 1019 hingga 1042 Masehi, menjadikannya salah satu raja Jawa paling terkemuka. Jasanya sangat besar bagi keutuhan Jawa-Bali, termasuk dapat menahan serangan Syailendra dari Sumatera dan kerajaan Cola dari India.
Airlangga konon dikenal sebagai Raja pertama di Jawa yang sangat toleran
dan dermawan kepada rakyatnya. Dia merangkul agama-agama yang muncul pada masa itu, Hindu maupun Buddha.
Dalam dunia sastra, Airlangga mengutus Empu Kanwa untuk membuat kakawin Arjuna Wiwaha yang merupakan cerminan dari dirinya melawan angkara murka seperti raja Wora Wari dan Calon Arang.
Maka dirasa penting untuk mengetengahkan suatu refleksi tentang makna pemerintahan yang mengayomi, sebagai usaha untuk meneruskan jasa kebaikan untuk masa mendatang. “Kita bisa mengingat sosok Airlangga, seseorang yang dimuliakan sebagai pemimpin bukan akibat jabatan yang disematkan kepadanya, melainkan karena perwujudan amanat untuk kemaslahatan rakyatnya,” kata Hermanu.
Latar belakang sosok Airlangga itulah yang diulik 19 perupa lewat karya dua dimensi dan tiga dimensi. Ada empat pelukis yang mengeksplorasi arca perwujudan Airlangga sebagai Dewa Wisnu sedang mengenderai Garuda oleh Felix S. Wanto berupa karya cat air (Airlangga Naik Garuda, 2025), atau juga karya lukis Dyan Anggraini dengan corak lukisannya yang khas berupa bentuk topeng dan torehan berbagai tulisan tangan di kanvas (Lentera, 2026), karya Bambang Sudarso (Jejak Airlangga, 2025), dan karya drawing Citra Conde yang memakai balpoin di atas kanvas (Laku Samādi Airlangga, 2025).
Adapun pelukis Mahdi Abdullah menampilkan citraan patung Airlangga sedang berada di dalam lubang galian di tengah persawahan, seperti menarasikan penemuan benda purbakala yang tertimbun di dalam tanah (Dua Horizon, 2025). Ada juga karya lukis Edi Sunaryo berupa citraan bentuk patung kepala sang Budha kelima dan terakhir (Sang Maitreya, 2025). Bahkan pelukis Suharmanto menampilkan citraan arca Dewi Laksmi dengan dua payudaranya menggucurkan air di situs yang dikenal dengan nama Candi Sumber Tetek (Candi Belahan, 2025).
Berbeda dengan karya lain, Ronang Pratama menampilkan citraan sekelopok orang berkuda disambut sejumlah orang lainnya (Pelarian Erlangga, 2025). Adapun Sriyadi Srinthil menampilkan sosok figur siap tempur dengan pedang di tangan kanannya di tengah gelombang air (Bala Banyu, 2025). Pelukis hiperrealis Susilo Budi menampilkan lima figur dalam pewayangan di tengah hamparan lansksap (Kawula Gusti, 2025).
Seniman patung Ananta O’edan menghadirkan citraan tiga dimensi berupa sosok burung dengan mahkota di kepalanya sedang mengepakkan sayapnya (Panji Pelindung Nusantara. Jejak Airlangga, dari Cakar Garuda, Mukti hingga Tegaknya Peradaban, 2025). Bak menutup kisah Airlangga dalam pameran ini, Hermanu yang juga merangkap peran sebagai kurator sekaligus peserta pameran meng-copy tiga karya patung kepala dari situs Candi Sumber Tetek peninggalan Kerajaan Airlangga di lereng Gunung Penanggungan, Pasuruan, Jawa Timur (Candi Belahan Penanggungan Sumber Tetek, 2025).
Pada pameran Airlangga ini gagasan narasi dan tehnik menjadi lebih beragam di tangan peserta pameran.■ Raihul Fadjri



















Komentar