Mengenang Kiprah Dua Pelukis Bercorak Surealis di Ruang Pameran

Perupa Zaenal Arifin dan Lucia Hartini menekuni corak lukisan surealis hingga akhir hayat.

Sejarah & Budaya257 Dilihat

 

 

 

Salah satu karya lukis Zaenal Arifin (Puisi Rimba, 2005). Foto: Raihul Fadjri/ dialoguejakarta.com
Salah satu karya lukis Zaenal Arifin. Foto: Raihul Fadjri/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Jagat seni rupa Indonesia pernah mengenal dua nama Zaenal Arifin (1956-2026) dan Lucia Hartini (1959-2025). Suatu ketika keduanya dikenal sebagai pasangan suami-istri yang mengeksplorasi corak surealis lewat karya lukis. Satu gaya seni rupa yang mengeksplorasi ekspresi bawah sadar, mimpi, dan hal-hal irasional, yang sering menampilkan objek nyata dalam kondisi fantastis atau tidak mungkin.

Zaenal dan Lucia juga pernah menggelar pameran bersama di Bentara Budaya Yogyakarta pada 1983. Sejak itu Lucia Hartini maupun Zaenal Arifin, kian tak tergoyahkan sebagai pelukis surealis terpandang di Indonesia. Kini Bentara Budaya Yogyakarta mengingatkan kembali peran dua pelukis ini lewat pameran bertajuk ‘In Memoriam Zaenal Arifin dan Lucia Hartini: Kisah Dari Lemahdadi’  6 – 14 Maret 2026.

Salah satu karya lukis Lucia Hartini.

Lemahdadi adalah nama dusun di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, yang menjadi tempat tinggal Zaenal Arifin sebelum meninggal. Frasa lemahdadi juga mengingatkan bahwa pada akhirnya semua makhluk akan kembali menyatu dengan tanah. “Namun, kita percaya pencarian yang penuh ketulusan dalam jalan kesenian, akan membawa nama mereka harum mewangi dan terus abadi,” tulis tim kuratorial pameran ini.

Corak sureal lukisan Zaenal Arifin cenderung simbolik lewat citraan realis. Dia menampilkan figur dalam posisi berdiri dengan dua sayap mengembang di belakang yang menyatu dengan bentuk tembok batu bata di belakangnya.  Sekujur tubuh tertutup citraan kain berbentuk pola kotak-kotak hitam-putih. Sebagian besar bentuk tubuh bagian depan tertutup warna hitam gelap dengan citraan bentuk lorong seperti jalan sempit menuju rongga tubuh. Hanya citraan bentuk dua tangan yang terangkat dalam posisi menyembah dengan sepotong bunga di sela dua jari (Titik, 2005).

Zaenal Arifin masih mengeksplorasi citraan bentuk tembok sebagai media yang biasa dipakai para pelukis mural dengan menampilkan citraan seekor angsa seolah baru saja mengerami telurnya, kemudian terkejut saat melihat citraan kepala kambing yang keluar dari telurnya (Tidak Aneh, 2011).

Corak surealis juga muncul pada lukisan Zaenal Arifin dengan mengeksplorasi citraan bentuk figur Lucia Hartini dalam posisi duduk mengenakan kain batik dengan duduk mengapung di atas hamparan bentuk gelembung. Zaenal menggambarkan sosok Lucia dengan wajah tersenyum melihat tangannya memegang benda berbentuk bulat seperti planet yang sedang berputar di angkasa (Tini, 2000).

Meskipun karya lukisnya sarat dengan figur-figur surealis, Zaenal Arifin lebih suka menyebut gaya lukisannya sebagai realis. “Sebab yang saya lukis adalah hal nyata. Kondisi ini terjadi dalam kehidupan kita,” kata Zaenal sebagaimana dikutip Irwanto Lentho, kurator pameran ini. Misalnya, lukisan Puisi Rimba yang menyoroti kerusakan hutan. Atau Limited yang bercerita tentang kebebasan. “Ini lukisan realis yang disampaikan dengan cara surealis,” ujar Zaenal berkilah.

Salah satu lukisan Lucia Hartini.

Zainal Arifin juga tidak sepenuhnya mengeksplorasi corak surealis, dia juga mengeksplorasi corak lukisan abstrak sebagaimana yang muncul pada beberapa karya lukis pada pameran ini. Sebaliknya Lucia Hartini tetap setia mengusung corak lukisan surealis yang mengesankan suasana yang sepi, sunyi, muram, dan dramatis. Sebagai pengaut Katolik, Lucia mengaku dia juga seorang  penghayat kepercayaan. Ajaran mistikisme memungkinkan dirinya berkomunikasi langsung dengan Tuhan lewat laku tirakat semedi (Manunggaling Kawula-Gusti). Dia mulai melukis secara serius sejak tahun 1980 dengan gaya realistik namun sesungguhnya ia
menghadirkan realitas yang lain sehingga berkesan surealistik. Pelukis yang mengenyam pendidikan di  sekolah seni rupa ini tidak mau repot dengan teori yang mendasari surealisme dan perkembangannya di Eropa.

Bagi Lucia, melukis bak menjalankan peran seorang ibu rumah tangga yang menyenangkan. Bahwa kemudian lukisannya dikatagorikan sebagai surealistik, menurut Lucia karena dia dekat dengan ‘alam lain’, apalagi kepercayaannya memungkinkan untuk mengalami atau merasakan alam itu.

Narasi tentang perempuan beserta dilemanya dan alam semesta adalah tema yang ditekuninya sejak lama. “Alam semesta adalah sumber inspirasi yang tidak ada habisnya bagi saya, karena di sana saya bebas berimajinasi dan bebas mewujudkan kembali ke dalam dunia seni lukis saya,” katanya suatu ketika.

Bagi Lucia, keindahan yang dihadirkan secara visual akan menjadi alat penyadaran bagi manusia dan sebagai ungkapan rasa bersyukur atas karunia Tuhan. Dia mengikuti sepenuhnya imajinasi yang dia alami.

Bahkan apa yang muncul pada karya lukisnya  seringkali merupakan ramalan yang kelak akan dialaminya. Dia pun sering menghadirkan dirinya sebagai objek dalam lukisan dan ini merupakan refleksi atas diri sendiri, termasuk juga perasaan yang bersifat personal semacam kekhawatiran, ketakutan, atau ketidakberdayaan, saat Lucia Hartini berpisah dengan Zaenal Arifin sebagai pasangan istri dan suami.

Pada satu karya lukisnya yang tidak diberi angka tahun pembuatan, Lucia menampilkan sosok bentuk perempuan dengan gestur bak sedang menari di atas aliran air dan bentuk struktur batu karang di tengah pusaran air yang melingkar di belakangnya (Padma Hati Laut Selatan).

Pada karya lain tanpa keterangan judul dan tahun pembuatan karya, Lucia menggambarkan sosok perempuan dalam posisi tidur dengan kaki ditekuk dan kedua telapak tangan menyangga kepalanya di atas lembaran kain. Lembaran kain panjang itu terhampar di atas struktur tembok batu bata yang tampak mengalami keretakan seolah menggambarkan kerentanan yang setiap saat bisa rubuh dan menjatuhkan tubuh perempuan itu.

Pameran ini juga menampilkan berupa bentuk bulat planet di angkasa dengan bentuk gugusan awan yang melingkupinya. Sementara di bagian bawah ada hamparan bak jalan berkelok yang diapit jejeran bentuk bukit batu. Karya lukis dengan warna monokrom biru ini seolah meramalkan dirinya akan meninggalkan dunia yang fana setelah menyusuri   jalan panjang hidup yang harus dia lalui menuju kehidupan abadi di alam lain pada 2025. Selamat jalan Lucia Hartini dan Zaenal Arifin.■ Raihul Fadjri