
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Ludruk dikenal sebagai seni pertunjukan khas Jawa Timur yang dipakai untuk melawan kolonialis Belanda dan perlakuan ketidak adilan sosial pada masa itu. Ludruk yang berkembang di Jombang pada awal abad 20, menampilkan drama kehidupan sehari-hari, kisah perjuangan, atau cerita rakyat penuh guyonan. Pertunjukan ini diiringi gamelan dan terkenal dengan pemeran laki-laki yang memainkan peran perempuan (tandak).
Ludruk merekam perlawanan petani terhadap penindasan pabrik gula kolonial, mengkritik perampasan tanah, mandor tebu yang kejam, dan modernisasi paksa dengan banyolan sindiran, menjadikannya alat penyadaran sosial dan memori kolektif akan perlawanan rakyat.
Praktek kesenian Ludruk inilah yang dieksplorasi lewat karya seni rupa oleh Moelyono. Perupa kelahiran Tulungagung, Jawa Timur pada 1957 ini mulai mengenal dan tertarik pada Ludruk sebagai ekspresi seni kerakyatan pada 2017. “Semula saya tertarik pada seni Ketoprak, tapi Ketoprak berisi cerita tentang kebangsawanan, bukan kerakyatan. Kali ini, saya fokus ke ludruk. Saya belajar dari seni rakyat ini, dari sisi perlawanannya, semangat egaliternya, juga sisi artistiknya,” kata Moelyono.
Bermula dari suasana kerumunan orang yang saling berhadapan dengan gestur emosional dan saling mengancam berada di depan bangunan berasitektur kolonial, sementara dua pria berbusana wanita duduk di bawah sibuk merias diri (Geger Pabrik Gula, 2017). Karya ini merupakan salah satu karya awal Moelyono dengan narasi Ludruk sebagai media perlawanan yang tampil pada pajang karya bertajuk ‘Layar Ludruk’ di Soboman Art Space, Yogyakarta, 1 – 30 April 2026.
Perupa yang menyelesaikan pendidikan seni rupa di STSRI ASRI Yogyakarta ini dikenal dengan konsep seni rupa penyadaran lewat karya seni lukis berlandaskan sikap dan upaya membantu rakyat atau keluarga miskin dalam menyuarakan penderitaan mereka.
Moelyono menggambarkan kuasa kolonial dalam industri gula lewat suasana di hamparan kebun tebu di atas tanah penduduk hasil rampasan aparat kolonial dengan latar belakang pabrik gula. Ada dua sinder (mandor) berseragam putih dan memakai topi Demang, duduk di atas kuda yang ditopang tangan dan kaki manusia. Kehadiran elemen militer pada karya lukis ini muncul lewat dua pria berseragam tentara kolonial Belanda — versi Ludruk — di bagian depan sedang memukul genderang dan meniup terompet (Para Mandor Kontrol Kebun Tebu, 2025).
Memasuki narasi seni Ludruk sebagai elemen perlawanan, Moelyono memasukkan elemen rupa yang mewakili sosok petani dan pejuangannya lewat sosok pria bercaping dan arit melekat di sekujur tubuhnya (Arit di Ladang Tebu, 2025), atau sosok perempuan juga dengan caping di kepala yang mendongak dan citraan enam kenong (perangkat musik gamelan) di tubuhnya, sementara di sebelahnya ada arit yang menggantung (Terapung Beban Kenong, 2025). Dua lukisan ini diimbuhi citraan nyala api bak menggambarkan semangat perjuangan yang terus menyala.
Moelyono menggambarkan perlawanan yang lebih spesifik terhadap Toean Keboen Belanda lewat lori di atas rel yang ditunggangi kuda berhiaskan topi Demang dan sosok harimau, bak dua kekuatan penindas sedang meluncur. Sementara upaya perlawanan petani muncul lewat arit yang mengganjal lajunya lori (Arit di Bawah Lori Tebu, 2025).
Semangat perlawanan terhadap kuasa kolonial hadir lewat elemen seni Ludruk pada karya lukis yang menampilkan sosok pria mengenakan pakaian penari Remo, tarian khas Jawa Timur, dengan susunan kenong di bagian dada hingga menutup kepala. Sementara di sebelahnya ada sosok yang mengesankan wajah pria mengenakan daster dan selendang merah di pundak dengan gestur menari. Kedua figur itu berdiri di atas lori (Remo di Atas Lori Tebu, 2025).
Pertunjukan Ludruk diiringi gamelan dan terkenal dengan pemeran laki-laki yang memainkan peran perempuan (tandak). Pada awal pentas, pemeran akan menari, parikan (berpantun), dan menembang dalam balutan riasan yang maskulin sekaligus feminin.
Pria yang memerankan perempuan penari dalam pentas Ludruk menjadi salah satu narasi karya lukis Moelyono lewat citraan tiga tubuh bertelanjang dada rambut panjang berhiaskan bunga (Primadona Ludruk, 2022). Mereka inilah dengan karakter transgender ikut menyuarakan praktek penindasan lewat pentas Ludruk.■ Raihul Fadjri