
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Pameran bersama tidak selalu dieksplorasi dengan narasi karya yang sama oleh perupa peserta pameran, meski ada konsep kuratorialnya. Situasi inilah yang tampak pada pameran bertajuk Post Quintessence di Ning Art Space, Yogyakarta, 3 Maret – 3 Mei 2026.
Judul pameran ini terdiri dari dua kata. “Post” berarti setelah/sesudah, adapun quintessence dalam pemaknaan tradisional bisa berarti pengejawantahan dari suatu hal dan atau intisari yang paling dasar dan mutlak dari suatu hal. “Frasa Post Quintessence merujuk pada sesuatu yang terjadi setelah mencapai tahap kemurnian/inti,” ujar Nurudin Sidiq Mustofa, penulis konsep pameran ini.
Bagaimana perupa memaknai judul pameran ini? Anagard melihat tema Post Quintessence dari sudut lingkungan ketika kehidupan moderen menghasilkan polusi, misalnya lewat proyek kenderaan listrik dengan semangat mengurangi polusi, tapi dalam prosesnya pembuatan baterai listrik menggunakan nikel hasil penambangan yang merusak lingkungan. “Dunia modern hidup penuh dalam ironi,” ujarnya.
Anagard menghadirkan karya lukis dengan media yang tak biasa berupa kain sarung bercorak kotak-kotak dalam warna biru yang di atasnya lukisan figur setengah badan dengan kepala dan wajah tertutup masker anti polusi (respirator), sementara posisi kedua telapak tangan menempel di depan dada sebagai tanda hormat seolah memohon agar penguasa menjaga lingkungan seperti yang dia ungkap lewat ornamen beragam tumbuhan yang memenuhi tubuh bagian atas figur ini (Welcome Pollution, 2026).
Pada karya lain Anagard menggunakan media tikar plastik berwarna hijau berhiaskan ornamen bentuk tanaman. Di atas tikar itu Anagard melukis bentuk figur petani bertopi caping sembari mengacungkan tangan dengan jari menggenggam bak menantang untuk mempertahankan lahan pertaniannya, sementara tangan kanannya menenteng setandan pisang (Kuasa Lahan, 2026).
“Perusahaan menambang dan proses pengelolaannya sangat merusak lingkungan sekitar, mulai habitat hutan hilang, lingkungan air tercemar, udara sekitar pabrik tinggi polusi yang membahayakan pernapasan warga sekitar. Itu lah wajah figur industri yang membuka pintu polusi,” ujar Anagard.
Perupa Endry Pragusta mengusung narasi pendidikan di mana sekolah sering kali dibebani tanggung jawab membentuk manusia siap kerja, sementara negara yang seharusnya hadir sebagai penjamin ekosistem pendidikan dan ketenagakerjaan sibuk dengan agenda sendiri.
“Pendidikan seharusnya membekali keberanian berpikir, kemampuan bertahan, dan kesadaran bahwa kekacauan sistemik bukan kegagalan individu, melainkan cerminan absennya tanggung jawab negara terhadap masa depan generasinya sendiri,” ujar Endry Pragusta.
Endry menghadirkan kekacauan sistemik ini lewat dua karya patung bertanduk kayu berupa dua sosok figur dalam warna hitam gelap dalam posisi duduk berselubung citraan kain dari kepala hingga kaki. Di bagian kepala menjulur bentuk mulut dalam posisi menganga bak sedang menyuarakan sesuatu lewat perangkat pengeras suara yang di atas kayu bercabang (After School Series 1, 2, 2026).
Adapun Therisia Agustina Sitompul mengolah narasi tentang isu perempuan lewat bentuk tiga dimensi dari bahan kuningan berupa bentuk pakaian dalam–beha–berhiaskan ukiran yang diletakkan di atas kelembutan tumpukan bulu serangga dalam warna biru untuk memuliakan perempuan—Ibu—sebagai sumber dan poros kehidupan (Crown of Axis, 2025). “Karya ini menegaskan bahwa kekuatan sejati mereka bukanlah dominasi, melainkan kemampuan memberi: melahirkan, menyusui, merawat, dan menjaga kelangsungan pada kehidupan baru,” kata Tere, panggian akrab Therisia Agustina Sitompul.
Narasi bersifat teknis dieksplorasi Octo Cornelius lewat karya tiga dimensi berupa bentuk struktur yang dibangun dari susunan besi yang dipoles dengan warna metalik. Struktur yang terkesan kukuh itu menyangga berat bentuk batu (Struktur Dasar, 2026). “Ibarat sebuah bangunan, fondasi adalah susunan awal yang hampir tidak dapat ditawar kekuatan bahan dan prosesnya, untuk menjadi penentu seberapa kuat bangunan akan berdiri,” ujar
Octo Cornelius.■ Raihul Fadjri