Pameran Bersama 12 Perempuan Perempuan Perupa

Pameran digelar Indonesian Woman Artist (IWA) #4 menyambut Hari Perempuan Sedunia dan Hari Kartini.

 

Karya KaNa Fuddy Prakoso (Zirah Kesadaran, 2026). Foto: dokumentasi IWA#4/ dialoguejakarta.com

Jakarta, dialoguejakarta.com – Sebanyak 12 perempuan perupa lintas generasi menggelar karya pada pameran bertajuk On The Map Art, Science, Technology & Culture di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 10 April – 30 Juni 2026. Pembukaan pameran yang diresmikan oleh Ibu Veronica Tan ini berlangsung pada Kamis 9 April 2026, pukul 17.00 WIB di Gedung Serbaguna Galeri Nasional, Jakarta.

Pameran yang merupakan kegiatan Indonesian Woman Artist (IWA) #4 ini menyambut Hari Perempuan Sedunia 8 Maret 2026, Hari Kartini 21 April 2026, dan Dirgahayu Kota Jakarta ke-499 22 Juni 2026. Perupa peserta pameran adalah: Bibiana Lee, Citra Sasmita & Cinta Bumi Artisan, Dyantini Adeline, Endang Lestari, Ines Katamso, Irene Agrivina, KaNA Fuddy Prakoso, Ni Nyoman Sani, Nona Yoanishara, Rani Jambak, Tara Kasenda, dan Ve Dhanito. Pameran dikurasi oleh Carla Bianpoen, Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi.

BLU Museum dan Cagar Budaya melalui unit Galeri Nasional Indonesia berkolaborasi dengan Yayasan Cemara Enam sebagai penyelenggara pameran. “Sejak awal penyelenggaraan, IWA digagas sebagai platform apresiasi sekaligus upaya untuk melihat kesenimanan perupa perempuan di Indonesia secara lebih mendalam,” ujar Ketua Yayasan Cemara Enam, Inda C. Noerhadi.

Tahun ini, IWA #4: ON THE MAP sekaligus menjadi pemungkas seri IWA
sebelum penyelenggaraan Biennale/Triennale Perempuan pada masa yang akan datang. “Pameran IWA memiliki arti penting karena menghadirkan ruang dokumentasi, presentasi, dan pertemuan karya dengan publik secara berkelanjutan. Sejak dimulai pada 2007, rangkaian pameran ini menunjukkan komitmen dalam membangun arsip kultural sekaligus meneguhkan kontribusi perupa perempuan dalam percakapan kebudayaan yang lebih luas,” kata Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin.

Karya perupa Tara Kasenda (Révélation, 2026) berbicara tentang pengalaman perseptual dan spiritual dalam memaknai langit sebagai ruang refleksi, melalui perbedaan cara melihat antara pengamatan langsung dan ingatan yang termediasi di dua kota—Jakarta dan Paris.

Adapun karya perupa KaNa Fuddy Prakoso (Zirah Kesadaran, 2026)
berbicara tentang pergulatan batin manusia dalam menghadapi tekanan hidup, melalui relasi antara kekuatan dan kerentanan, serta pentingnya kesadaran diri di tengah kompleksitas dan budaya modern yang instan.■ Raihul Fadjri