
Denpasar, dialoguejakarta.com – Kesibukan sebagai akademisi seni rupa biasanya menyebabkan mereka meninggalkan kegiatan sebagai perupa yang sebelumnya ditekuni. Lain halnya dengan Profesor Dr. Wayan Kun Adnyana (1976). Guru besar sejarah seni di ISI Bali ini tetap melakoni kegiatannya sebagai perupa dengan 30 kali pameran bersama sejak 1997 dan 19 kali pameran tunggal sejak 2003.
Kiprah panjang inilah yang yang membawa Kun Adnyana pada pameran retrospektif bertajuk “PARAMA PARAGA: Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New Abstract Authors” di Nata-Citta Art Space, Institut Seni Indonesia (ISI), Denpasar, Bali, 25 Maret hingga 4 Mei 2026.
Lewat pameran retrospektif ini publik bisa melihat kompilasi karya seni Kun Adnyana secara komprehensif, mencakup perjalanan karier dari awal hingga saat ini, disusun kronologis untuk menunjukkan evolusi gaya, teknik, dan tema karya.
Bermula pada 2006, saat sedang menempuh pendidikan magister di
Yogyakarta. “Di tengah pengerjaan karya
tulis, bertumpuk kanvas putih mengharap disapa. Panggilan rasa ingin
melukis sungguh tak terbendung,” ujar Kun, panggilan akrab Wayan Kun Adnyana. Tapi, saat jemari memainkan cat, tangan dan bahkan seluruh tubuh berlumuran warna, tidak mungkin seketika beralih mengetik pada komputer untuk mengerjakan tugas akademik. “Dorongan melukis semakin kuat. Gejolak keinginan melukis beradu deadline pengumpulan karya tulis.”
Saat itu Kun memilih memakai tinta cina untuk berekspresi lewat kanvas ketika komputer masih menyala, dengan deretan huruf ketikannya. “Gambar garis pada kanvas mewujud lukisan, kata berbaris menjadi tulisan,” katanya. Berbasis gambar garis, lahirlah lukisan seri ‘Objek Tanpa Nama’ yang tampil dalam pameran perupa muda bertajuk “Young Arrow” di Jogja Art Gallery, dan pameran Biennale Jogja (2006).
Dari kepadatan garis perlahan muncul wujud bentuk biomorfik, organik, ganjil, imajinatif, dan tanpa identitas. Objek hadir sebagai bentuk tanpa nama, kemudian dimaknai sebagai seri lukisan dan objek ‘Hana Tan Hana’ yang berpuncak pada pameran tunggal Kun di Bentara Budaya Yogyakarta pada 2008.
Bentuk tanpa nama ini, terus digali dan dieksplorasi fokus pada objek masa lalu Dewi Venus. “Objek Venus dimaknai sebagai metafora Ibu, penanda kesuburan sedari masa pra sejarah,” kata Kun.
Pelukisan citraan Venus dielaborasi dalam artistika ironikal lewat sosok Venus tertoreh, tertusuk, bahkan terobek peniti sebagai refleksi khianat manusia pada Ibu Bumi. Seri Venus ini hadir pada pameran tunggal di Gaya Art Space, Ubud, bertajuk “New Totems for Mother” (2008) dan “Look! Who is Talking” di Tony Raka Art Gallery, Ubud (2008).
Paska seri Venus, eksplorasi tertuju pada rona wajah bayi. “Bayi sebagai pemilik kepastian masa depan,” ujar Kun.
Beragam ekspresi bayi, tersenyum, menangis, meronta, dan marah, dilukis secara real-fotografis lewat kecermatan menabur titik-titik hitam tinta cina di atas kanvas. Ada potret wajah bayi dengan sederet figur berkuda melintas di depan matanya (Future Reflection, 2018). Kepresisian citraan wajah dilukis berbasis gambar garis dengan tinta cina. Seri ‘Bayi’ dilukis saat Kun menyambut kelahiran putra pertamanya pada 2009, dan tetap muncul sebagai tema lukisan hingga 2019. Seri ini dipamerkan pada pameran tunggal “Rare (Babies)” di MD Art Space, Jakarta (2009).
Bersamaan dengan seri ‘Bayi’, Kun juga mengeksplorasi elemen tubuh, dalam seri ‘The Bodies Theater’. Tubuh atletis mengiangkan proporsi masa klasik Romawi-Yunani, memosisikan manusia
sebagai pusat pengetahuan dan pengendali alam semesta. Pada seri ini tubuh bertopeng mengungkap ragam gestur, sebagai pernyataan lapisan peran. Berlari, meloncat, terdiam, mengerang, seluruhnya tentang gestikulasi dialog dengan alam. Karya seni lukis seri ‘The Bodies Theater’ ini muncul lewat pameran tunggal di Ganesha Gallery, Four Season Resort, Jimbaran-Bali (2011).
Kun juga mengeksplorasi potret dengan objek kaum proletar hingga selebriti dunia. Potret kaum tani dengan karakter wajah yang kuat, penuh garis karisma, begitu juga wajah populer kalangan selebriti terpancar secara real-fotografis. Ada potret wajah personil grup musik asal negeri Paman Sam, yaitu: Alice Cooper, Johnny Depp, Joe Perry, dan Tommy Henriksen (The World Legend, 2023). Mereka dilukis dengan teknik khas seni lukis berbasis drawing.
Seri lukisan wajah selebriti dipamerkan tunggal di Polandia (2023). Pameran berlangsung di tengah konser The Hollywood Vampire, serangkaian dengan The Legend of Rock Festival. Pada seri “Charma Dharma” ini, potret berdiri independen sebagai karisma tatapan mata, ekspresi bibir, dan karakter raut muka. “Seluruh pesona potret merupakan kekuatan yang terpancar dari wajah. Karisma dan pesona yang merefleksikan sosok bereputasi dan mendunia.”
Saat Kun menjalani program doktor seni di Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, eksplorasi teknik gambar garis tetap dipakai dengan medium baru, sebagaimana ketika mengikuti visiting artist di Western Michigan University, Amerika Serikat, pada 2013. Garis tinta cina tumpah dalam basah warna cat air. Seri garis dalam cat air berjudul ‘Poem from Lake Michigan’, dipamerkan di Gwen Frostic School of Fine Arts Collage, Western Michigan University, Amerika Serikat pada 2013.
Jelajah artistik garis dalam ramuan cat air tetap berlangsung hingga kini, bahkan beberapa kali saat merespon cerita pendek koran Kompas Minggu berjudul ‘Ramuan Pahit dan Pertarungan Pamungkas’ karya cerpenis Ni Komang Ariani, dimuat pada 12 Maret 2023. Tergambar secara surealistik pendekar langit membawa sangku ramuan berwarna hijau. Dedaunan beterbangan, langit bergemuruh, dan ikan lumba-lumba bercumbu di udara mengiringi penantian panjang ramuan langit.
Kun Adnyana juga mengeksplorasi citraan situs purbakala Yeh Pulu yang berada di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali. Dia membingkai ulang dengan komposisi figurasi relief Yeh Pulu dipertemukan dengan objek artistik yang relevan. Perombakan ulang mengubah fungsi naratif atas figurasi relief Yeh Pulu ke dalam peran baru, seperti satu adegan pada relief Yeh Pulu berupa sosok lelaki menunggang kuda, sementara ekor kuda dijambak seorang perempuan. Tapi pada kanvas justru dilukiskan sebaliknya, lelaki menjambak ekor kuda yang ditunggangi perempuan.
Studi rupa Yeh Pulu tetap dilakukan hingga 2021 dengan berlapis tema pada pameran tunggal bertajuk ‘Hulu Pulu: Five Years Exploration of Yeh Pulu Reliefs’, di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Bali (2021).
Karya Kun Adnyana yang juga punya karakter kuat berupa karya seri Panggung Punggung (2025). Citraan bentuk punggung gemuk manusia dengan komposisi memusat, fokus, bahkan menjadi elemen rupa tunggal pada kanvas. Tubuh bagian depan lenyap, bentuk wajah menjadi misteri yang mungkin hanya ada dalam imajinasi. Karya seri ini dipajang pada pameran tunggal bertajuk ‘Awakening’ pada ArtMoment Jakarta 2025.
Ada punggung dengan dua tangan menyilang (Hide Jands, 2025), ada dua tangan menyilang sembari memegang alat pemukul seolah siap menyerang musuh (Black Warrior, 2025), atau memegang ketapel (Own Guard, 2025), ada juga tangan kiri memegang seikat bunga (Flower for The Queen, 2026). Karya lukis seri punggung ini diberi latar sapuan kuas ekspresif sebagai mana sapuan kuas pada karya lukis bercorak abstrak Kun Adnyana.
Karya lukis abstrak lewat seri ‘Guwung Suwung’ yang dimulai sejak Nyepi pada 29 Maret 2025, satu momentum penemuan abstrak baru. “Karya lukis abstrak menggunakan konsep ‘Guwung Suwung’ sebagai perenungan terhadap kekuatan sepi yang jauh lebih bergejolak tinimbang keriuhan yang selalu melenyapkan,” ujar Kun.
Kini Parama Paraga memasuki tepat 20 tahun artistika garis telah menggema ke berlapis pencapaian sejak Hana Tan Hana (2006). Satu kiprah panjang dalam dunia akademis menyatu dalam pergolakan estetik seni rupa Profesor Dr. Wayan Kun Adnyana.■ Raihul Fadjri