5 Jam Operasi Jantung Bocor, Arshaka (2 Tahun) Kini Berjuang di ICU

Kesehatan122 Dilihat

Jakarta (Dialoguejakarta.com) Arshaka Kenandra, bocah laki-laki berusia 2 tahun 7 bulan harus berjuang melawan kelainan jantung bawaan yang dideritanya sejak bayi. Arshaka diketahui mengalami jantung bocor dan beberapa kelainan lain pada jantungnya sehingga harus menjalani operasi di Rumah Sakit Jantung Jakarta Heart Center (JHC), Matraman, Jakarta Timur.

Siang itu Arshaka tampak ceria ketika tiba di lantai lima rumah sakit tersebut. Lantai ini memang diperuntukkan bagi pasien anak-anak dan dilengkapi dengan ruang tunggu yang berisi berbagai permainan.

Dengan wajah penuh senyum, Arshaka langsung menaiki mobil-mobilan yang tersedia di ruang tunggu. Sesekali tawanya terdengar bersama kedua orang tuanya yang menemaninya untuk menjalani konsultasi dan perawatan.

Arshaka merupakan putra pasangan Lusino dan Eneng yang tinggal di Kampung Malang, Desa Ciseeng, Kabupaten Bogor. Sejak masih bayi, Arshaka sudah didiagnosis mengalami kelainan jantung bawaan.

Menurut sang ayah, Lusino, sejumlah gejala sudah terlihat sejak awal. Bibir Arshaka sering membiru, begitu juga kuku pada tangan dan kakinya. Selain itu, Arshaka juga sering mengalami sesak napas dan pertumbuhannya sempat terhambat.

“Gejala awalnya waktu diperiksa detak jantungnya beda. Nafasnya ngos-ngosan, kuku tangan, kaki sama bibir juga biru semua, apalagi kalau menangis. Ketahuan ada kebocoran waktu diperiksa lewat USG, lalu dipastikan lagi dengan katerisasi jantung,” ujar Lusino.

Berdasarkan diagnosis dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati, Arshaka diketahui mengalami tiga kelainan jantung sekaligus, yakni Patent Ductus Arteriosus (PDA), Ventricular Septal Defect (VSD), serta adanya penyempitan pembuluh darah menuju paru-paru.

Karena keterbatasan fasilitas saat itu, Arshaka kemudian dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki peralatan lebih lengkap untuk penanganan lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan lanjutan di Jakarta Heart Center pada November 2025 menunjukkan adanya lubang pada jantung serta penyempitan pembuluh darah ke paru-paru yang cukup serius. Kondisi tersebut menyebabkan kadar oksigen dalam darah Arshaka rendah dengan saturasi sekitar 70 persen dan membuat bibir serta kuku tampak kebiruan.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, tim dokter memutuskan Arshaka harus menjalani operasi.

Pada Kamis, 5 Maret 2026, Arshaka akhirnya menjalani operasi jantung. Proses operasi berlangsung sekitar lima jam. Menurut penjelasan dokter setelah operasi, tindakan medis berjalan dengan lancar. Lubang pada jantung serta penyempitan pembuluh darah yang dialami Arshaka telah ditangani.

Saturasi oksigen Arshaka yang sebelumnya hanya sekitar 70 persen kini meningkat menjadi 100 persen. Kondisi tersebut membuat warna kebiruan pada beberapa bagian tubuhnya mulai menghilang.

Operasi berlangsung cukup lama karena dokter juga melakukan tindakan untuk menutup katup yang bocor. Ke depan, Arshaka diperkirakan dapat menjalani kehidupan normal, namun tetap harus menjalani kontrol kesehatan secara rutin.

Saat ini Arshaka masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU dan masih menggunakan alat bantu pernapasan dalam proses pemulihan pascaoperasi.

Namun pada Sabtu, 7 Maret 2026, Tim Bagana GR yang turut mendampingi Arshaka selama di rumah sakit menginformasikan bahwa saturasi oksigen Arshaka sempat mengalami penurunan.

Selain itu, dokter juga menemukan adanya cairan putih di paru-parunya sehingga harus segera dilakukan tindakan medis.
Hingga berita ini diturunkan, Arshaka masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU. Keluarga berharap kondisinya segera membaik sehingga Arshaka dapat kembali bermain dengan ceria, seperti saat ia menaiki mobil-mobilan di ruang tunggu rumah sakit.

Data Kasus Kelainan Jantung pada Anak

Berdasarkan data kesehatan, setiap tahunnya diperkirakan sekitar 40.000 bayi di Indonesia lahir dengan kelainan jantung bawaan, termasuk kasus jantung bocor seperti ASD, VSD, dan PDA.
Dari jumlah tersebut, sekitar 24.000 bayi membutuhkan tindakan operasi pada tahun pertama kehidupannya.
Ukuran kebocoran jantung juga bervariasi, mulai dari kecil, sedang hingga besar. Kebocoran berukuran besar sering kali menyebabkan gangguan pertumbuhan, sesak napas, serta berbagai komplikasi kesehatan lainnya.

Gejala yang umum terjadi pada anak dengan kelainan jantung bawaan antara lain mudah lelah, napas cepat atau sesak, berat badan sulit naik, sering mengalami infeksi paru, serta gangguan tumbuh kembang.

Diagnosis dini melalui pemeriksaan medis seperti ekokardiografi sangat penting untuk menentukan langkah penanganan, apakah cukup dengan pemantauan atau memerlukan tindakan operasi.

Arshaka Tidak Sendirian

Selama proses pengobatan, mulai dari pemeriksaan, konsultasi hingga operasi dan perawatan pascaoperasi, Tim Bagana GR turut mendampingi Arshaka dan keluarganya.

Kehadiran tim kemanusiaan tersebut menjadi penguat sekaligus penyemangat bagi kedua orang tuanya dalam menghadapi ujian kesehatan yang dialami putra mereka.
Bagana GR sebagai lembaga kemanusiaan berkomitmen untuk terus hadir membantu masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang sedang menghadapi ujian kesehatan dan kesulitan.

Dukungan tersebut diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi keluarga pasien, bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi cobaan yang berat. (*/aft)