Keindahan Lanskap Flora dan Fauna Lewat Corak Lukisan Naturalisme

Munna Laili Hidayana eksplorasi narasi tentang keindahan alam, flora, fauna, secara apa adanya dengan kemiripan yang tinggi, detail, tekstur, warna, hingga teknik gelap-terang.

 

Karya lukis Munna Laili Hidayana (Tiga Burung, 2019). Foto: Dok. Munna Laili Hidayana/ dialoguejakarta.com

SURABAYA, dialoguejakarta.com – Di tengah arus deras seni rupa kontemporer, seorang perempuan pelukis, Munna Laili Hidayana, berlenggang mengeksplorasi corak lukisan naturalis yang muncul pada abad ke-19. Sebagaimana karakter seni lukis naturalis, pelukis kelahiran Blitar, Jawa Timur, tahun 2000, ini mengangkat narasi tentang keindahan alam, pemandangan, flora, fauna, apa adanya dengan menampilkan kemiripan yang tinggi, detail, presisi seperti perspektif, proporsi anatomi, tekstur, warna, hingga teknik gelap-terang.

Karakter lukisan semacam inilah yang muncul pada karya lukis Munna Laili Hidayana lewat pameran bertajuk Loading 0.1 di Gedung Dewan Kesenian Surabaya, 5 – 9 September 2026.

Frasa Loading 0.1 bermakna sebagai ruang bagi versi awal yang jujur dan wadah eksplorasi bentuk seni yang masih terbuka terhadap segala kemungkinan. “Pameran ini bukan tentang menunjukkan seberapa jauh saya telah sampai, tetapi tentang apa saja yang telah saya lalui untuk sampai di titik ini,” ujar Laili, panggilan akrab Munna Laili Hidayana.

Laili pelukis non-akademis yang kini tinggal di Kediri ini mengenal dan belajar melukis dari pelukis naturalis, Ruslan, sejak 2018, lewat corak realisme. Dia belajar menggambar buah-buahan, tanaman, pohon, dan berbagai bentuk alam. Laili juga sering belajar dengan melihat dan mencontoh gambar atau foto yang sudah ada. “Melukis selalu terasa menyenangkan, apa lagi yg berhubungan dengan alam. Saya sangat menyukai bentuk-bentuk alam, suasana alam dan hal-hal yg berkaitan dengan alam,” ujar Laili.

Laili menggambarkan kedekatan dunia flora dan fauna, khususnya hewan bersayap lewat citraan bentuk burung Kakatua (Cacatuidae) berparuh bengkok. Burung berbulu warna cerah merah, kuning, dan hijau ini sedang bertengger di dahan pohon dengan kehijauan dedaunan berlatar lanskap pegunungan (Tiga Burung, 2019). Burung Kakatua termasuk satwa langka yang dilindungi karena populasinya terancam punah.

Laili juga menangkap momen ketika seekor kupu-kupu dengan sayap berwarna oranye (Appias nero) hinggap di atas sekuntum bunga yang juga berwarna oranye dengan latar biru (Singgah Sejenak, 2020). Kupu-kupu jenis ini bisa ditemukan dari daerah India Utara, kepulauan Sunda, Filipina, dan Sulawesi.

Bahkan Laili mengeksplorasi momen ketika seekor burung Elang Botak (Haliaeetus leucocephalus) berkepala dan ekor berwarna putih dengan tubuh berwarna coklat gelap sedang bersiap hinggap di atas potongan ujung pohon dengan latar puncak gunung yang diselimuti awan (Elang, 2026). Elang Botak dikenal sebagai simbol negara Amerika Serikat.

Hewan bersayap selalu dekat dengan tumbuhan. Laili pun melengkapi eksplorasinya lewat sejumlah karya lukis berupa citraan bentuk pohon disertai buahnya. Ada bentuk pohon pisang (Musa × paradisiaca) bagian atas dengan jejeran vertikal buahnya dalam warna kuning dan hijau yang dilindungi kehijauan pelepah pohon pisang dari terik matahari (Pohon Pisang, 2021). Pohon pisang sebenarnya bukan pohon sejati, melainkan tanaman herba raksasa berbatang semu yang tersusun dari pelepah daun.

Berbagai jenis buah juga muncul di atas kanvas lukisan Laili. Ada jambu biji yang masih hijau (Jambu Belakang Rumah, 2018), jambu merah menyala di atas dedaun hijau (Jambu dari Alam Digital, 2018), buah kates yang madih hijau dan yang sudah menguning (Kanvas Sisa, 2019).

Mungkin Laili bisa mengembangkan eksplorasi kemampuan teknik realisnya dengan menempatkan subject matter dunia flora dan fauna sebagai sesuatu yang dinamis sebagaimana yang dilakukan sang guru melukisnya, Ruslan, yang kini berpindah ke corak surealis.■ Raihul Fadjri

Komentar