Yogyakarta.dialoguejakarta.com – Ruang Sultan Agung di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, bak menjadi arena pertemuan para tokoh dengan adanya jejeran 29 lukisan potret pada pameran bertajuk SciArt 8.0 Potret Ilmuwan Inspiratif dalam Lukisan, 24 – 29 Juni 2025. Karya lukis Paul Hendro ini merupakan upaya melawan lupa peran para ilmuwan yang memberi kontribusi bagi peradaban.
“Mereka bukan sekadar nama yang tertera di buku sejarah, tapi manusia yang pernah menyalakan obor pengetahuan, dan tentu layak untuk selalu kita ingat,” ujar Paul Hendro (1968).
Kesan masa lalu menjadi kuat pada pameran ini dengan penggarapan karya lukis itu secara monokromatik, memakai teknik hiper realis yang detil menghasilkan citraan fotografis bak karya fotografi hitam putih. Paul Hendro melakukan pendekatan unik dalam menafsirkan profil para tokoh. Dia menggunakan teknik efek kamera obscura dengan metode pinhole berlatar hitam dan palet cahaya. Hasilnya, figur para tokoh tergambar dalam kontras cahaya gelap yang membentuk volume dan dimensi waktu.
Ada potret Georg Everhard Rumphius (1627-1702), berupa potret pria berambut gondrong dengan kening kerkerut, mata agak terpejam, dan dua ujung bibir agak mengarah ke bawah bak orang yang sedang berfikir. Rumphius adalah seorang botanis berdarah Jerman-Belanda yang berangkat ke Ambon untuk mempelajari tumbuhan tropis yang kemudian melahirkan ensiklopedi 1200 spesies tumbuhan tropis Herbarium Amboinence.
Ada juga Jacobus Bantius (1592-1631), ilmuan asal Leiden yang mengenakan pakaian bangsawan dengan bentuk kerah ruff yang khas. Bantius bergabung dengan VOC di Batavia untuk memadukan pengobatan tradisional dengan pengobatan medis Eropa yang melahirkan ilmu kedokteran tropis.
Sementara di Jakarta, kondang nama Christiaan Eijkman (1858-1930) lewat lembaga Geneeskundig Laboratorium pada masa kolonial Belanda yang kemudian dikenal dengan nama Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman (Lembaga Eijkman) di Jalan Diponegoro, Jakarta. Eijkman yang digambarkan Paul Hendro dengan wajah serius dan kening berkerut, meneliti hubungan kekurangan vitamin B1 dengan penyakit beri-beri.
Ada juga ilmuwan asal Inggris, Alfred Russel Wallace (1823-1913). Sosok berkacamata dengan cambang, kumis dan jenggot menjuntai ini dilukis secara detil oleh Paul Hendro. Russel datang ke Hindia Belanda pada 1854 untuk mencatat ribuan spesies baru dan meneliti perilaku berbagai hewan dan tumbuhan tropis.
Dari Indonesia ada ilmuan Purbatjaraka (1884-1964), seorang filolog dan ahli sastra Jawa terkemuka yang menguasai Bahasa Sansakerta, Jawa Kuno, dan Belanda. Di bidang biologi ada Achmad Mochtar (1908-1945) yang mengembangkan serum anti-tetanus. Pria kelahiran Pasaman, Sumatera Barat ini aktif dalam penelitian penyakit tropika, terutama malaria yang menjadi momok kesehatan di Hindia Belanda. Achmad Mochtar ilmuan pribumi pertama yang memimpin Lembaga Eijkman di Batavia pada masa kolonial.
Gerak ilmu pengetahuan juga muncul seiring perjuangan melawan kolonialis Belanda dengan menggunakan kekuatan intelektual sebagaimana yang dilakukan Tan Malaka (1897-1949). Dia menulis Naar de Republik Indonesia dan Madilog yang merupakan karya filsafat, menggabungkan pendekatan materialisme, dialektika, logika dan sistem penindasan.
Sebagaimana Tan Malaka, tokoh yang masuk dalam daftar ilmuan versi Paul Hendro ini tak lepas dari praktek politik perjuangan melawan Kolonialis Belanda. Ada Ir. Soekarno (1901-1970) yang muncul lewat potretnya pada masa-masa akhir kekuasaannya berupa jas bergaya militer dengan dua bintang di kerah. Sukarno merumuskan Pancasila sebagai idiologi pemersatu bangsa yang majemuk ini. Ada juga Mohammad Hatta (1902-1980) yang berperan merumuskan kebijakan ekonomi rakyat, koperasi, dan diskursus etika pemerintahan Indonesia.
Setelah kemerdekaan khasanah ilmu pengetahuan juga tak lepas dari dunia politik. Adalah Bacharddin Jusuf Habibie (1936-2019) selain dikenal sebagai ilmuwan Indonesia di Jerman yang meneliti perambatan retakan cract propagation pada badan pesawat, Habibie juga menjabat Wakil Presiden pada masa pemerintah Orde Baru, dan menggantikan Presiden Soeharto yang mengundurkan diri pada 1998. Habibie dalam lukisan potret Paul Hendro muncul dengan wajah setengah tersenyum, badan berbalut jas dan dasi, dilengkapi kopiah di kepala sebagaimana penampilan resmi pejabat di Indonesia.
Yang menarik, pameran potret para ilmuan ini dikurasi oleh lima guru besar, dua doktor dan satu orang mantan aktivis untuk membantu Paul Hendro menampilkan sosok 80 ilmuan pada masa kolonial Belanda, masa perjuangan kemerdekaan dan pasca Proklamasi 1945.
Karya lukis potret para tokoh ini bermanfaat sebagai dokumentasi sejarah ilmu pengetahuan. Tapi sebagai karya seni rupa akan lebih menarik jika figur para tokoh itu juga dieksplorasi elemen estetik dengan memasukkan narasi yang relevan sesuai peran masing-masing ilmuwan, sehingga pameran ini tidak berhenti sebatas dokumen potret tokoh dalam sejarah sains.■ Raihul Fadjri


















Komentar