BANTEN, dialoguejakarta.com – Gubernur Banten Andra Soni memperkuat sinergi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna mengantisipasi mundurnya awal musim hujan yang berpotensi memperpanjang periode kemarau di sejumlah wilayah Banten.
Hal tersebut ditegaskan Gubernur Andra Soni usai menerima paparan terkait dinamika iklim dari jajaran Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II di Gedung Negara Provinsi Banten, Jalan K.H. Syam’un Nomor 5, Kota Serang, Rabu (7/10/2026).
Andra Soni menuturkan, informasi cuaca dari BMKG menjadi landasan penting bagi pemerintah dalam menentukan langkah mitigasi, khususnya untuk menghadapi dampak kekeringan, krisis air bersih, ancaman pada sektor pertanian, kesehatan, serta potensi bencana hidrometeorologi.
“Perlu diantisipasi mundurnya musim hujan dan dampak kekeringan ini sejak dini,” ujar Gubernur Andra Soni.
Saat ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten tengah memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota serta BMKG untuk mengidentifikasi wilayah yang memerlukan perhatian khusus. Langkah antisipatif ini diambil agar strategi penanganan dapat disiapkan sebelum dampak kemarau meluas.
Sementara itu, Plt. Kepala BBMKG Wilayah II, Ana Oktavia Setiowati, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis BMKG, awal musim hujan tahun ini diprakirakan mundur hingga tiga dasarian atau sekitar satu bulan dibandingkan dengan kondisi normal.
Ia merinci, wilayah Banten bagian selatan seperti Kabupaten Lebak dan Pandeglang diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada bulan November. Sebaliknya, wilayah Banten bagian utara diprediksi baru mengalami musim hujan pada Desember.
Mundurnya musim hujan ini berkaitan erat dengan fenomena El Nino yang memicu perpanjangan periode kemarau. Kondisi tersebut berdampak langsung pada penyusutan ketersediaan air bersih, perlunya penyesuaian pola tanam, hingga peningkatan risiko gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Lebih lanjut, Ana mengingatkan bahwa kondisi tanah yang kering dan merekah juga patut diwaspadai ketika hujan mulai turun. Hujan berintensitas tinggi setelah periode kering berpotensi memicu bencana hidrometeorologi di wilayah rawan, termasuk tanah longsor.
“Oleh karena itu, BMKG dan pemerintah daerah akan melakukan survei bersama,” tuturnya.
Survei tersebut bertujuan untuk memetakan wilayah prioritas penanganan berdasarkan kondisi faktual di masing-masing daerah.
Menindaklanjuti paparan tersebut, Gubernur Andra Soni memastikan bahwa Pemprov Banten telah berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah daerah tingkat dua guna menjamin ketersediaan air bersih bagi warga terdampak kekeringan.
Pemerintah juga menyiagakan opsi penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk membantu pengisian debit waduk, termasuk Bendungan Karian, apabila hasil kajian BMKG dan kondisi atmosfer memungkinkan.
“Kalau diperlukan rekayasa cuaca, pemerintah daerah dan BMKG siap bersinergi,” tegasnya.
Ia menggarisbawahi bahwa mitigasi tersebut bertujuan mengubah pola penanganan, dari yang semula sekadar responsif pascabencana menjadi antisipatif sejak dini. Hal ini diwujudkan dengan memaksimalkan pemanfaatan data, peralatan, dan keahlian BMKG.
“Prinsipnya, kita ingin langkah antisipasi yang terencana dengan baik,” pungkas Gubernur Andra Soni. (*)




























Komentar