Wagub Dimyati Ajak Masyarakat Agar Doakan Banten Dijauhkan dari Bencana

Wakil Gubernur (Wagub) Banten Achmad Dimyati Natakusumah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendoakan agar Provinsi Banten senantiasa dijauhkan dari segala bentuk bencana alam. Ia meyakini bahwa dengan kekuatan doa, segala sesuatu yang terlihat mustahil bagi manusia akan menjadi jauh lebih mudah diatasi.

Banten97 Dilihat

BANTEN, dialiguejakarta.com – Wakil Gubernur (Wagub) Banten Achmad Dimyati Natakusumah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendoakan agar Provinsi Banten senantiasa dijauhkan dari segala bentuk bencana alam. Ia meyakini bahwa dengan kekuatan doa, segala sesuatu yang terlihat mustahil bagi manusia akan menjadi jauh lebih mudah diatasi.

​Pesan tersebut disampaikan Wagub Dimyati saat menghadiri pengajian bulanan Ikatan Warga Krakatau Steel (IWKS) di Pondok Pesantren (Ponpes) Bani Hamid, Kelurahan Kagungan, Kecamatan Serang, Kota Serang, Sabtu (19/9/2026). Menurutnya, doa dan refleksi diri sangat penting mengingat berbagai bencana alam tengah melanda sejumlah wilayah, termasuk di Banten.

​Sebagai seorang muslim, Wagub Dimyati menganjurkan masyarakat untuk senantiasa melakukan muhasabah. Salah satunya adalah dengan mendekatkan diri melalui kegiatan pengajian rutin.

​”Melalui pengajian ini, kita kembali diingatkan akan tujuan kehidupan di dunia. Kita diingatkan tentang bagaimana peran sebagai umat manusia untuk terus menjaga alam, serta peran kita sebagai pemimpin di muka bumi,” ujar Wagub Dimyati.

​Di hadapan para tokoh agama dan masyarakat yang hadir, Wagub Dimyati juga memohon doa agar para pemimpin di Banten dapat menjalankan amanah dengan baik. Hal ini demi membawa Provinsi Banten menjadi lebih maju dan masyarakatnya sejahtera, sehingga terwujud cita-cita daerah yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan diampuni Tuhan).

​Sementara itu, tuan rumah pengajian IWKS, Embay Mulya Syarif, mengingatkan bahwa kehidupan manusia di dunia hakikatnya hanyalah persinggahan sementara sebelum kembali ke akhirat. Layaknya sebuah perjalanan pulang kampung, setiap orang dituntut membawa bekal yang cukup agar kehidupannya kelak berjalan baik dan bahagia.

​Embay menjelaskan bahwa waktu hidup di dunia sangat terbatas. Setiap napas dan langkah manusia yang diayunkan akan terus berkurang setiap detiknya, dan perlahan semakin mendekati akhir hayat.

​”Sejatinya kita ini adalah makhluk langit, dan di bumi ini hanya singgah saja. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang akan berpulang, sudah selayaknya kita tidak terlena dengan kehidupan dunia,” tuturnya.

​Mengingat mayoritas jemaah yang hadir telah berusia lanjut, Embay kembali menekankan pentingnya memperbanyak amal ibadah selagi masih diberikan waktu dan kesempatan.

​”Jangan pernah berhenti mengumpulkan bekal untuk ‘mudik’ kelak. Sebab, bekal kehidupan di atas bumi tentu sangat berbeda dengan bekal di dalam bumi (akhirat),” pungkasnya. (*/Yudhi).

Komentar